Meja Bundar

530Azzuhri, Elias, dan Kirani adalah sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa. Dulu mereka pernah membuat perjanjian bahwa sepuluh tahun lagi akan bertemu, hanya bertiga, tanpa keluarga atau pasangan.

Beberapa bulan sebelum waktu pertemuan, Elias mengajak mereka bertemu di sebuah hotel untuk memainkan sebuah permainan yang bernama Sincerity. Dia mengatakan bahwa itu adalah cara terbaik untuk mengisi reuni mereka. Namun mereka tidak menyangka, bahwa 18 jam yang dihabiskan untuk memainkan Sincerity akan membawa dampak yang sangat besar bagi hidup mereka.
aaa
————————————
SIDE STORY:
Ketika beberapa bulan yang lalu saya me-reborn Dwilogi Kesunyian, salah satu teman saya–novelis juga, Desi Puspitasari–secara tidak langsung memberikan sebuah tantangan, kurang lebih dia bilang begini, “Nulis novel dewasa dong Ndra!”

Oke… saya mengerti sudut pandangnya. Kisah cinta yang termaktub dalam Dwilogi Kesunyian memang sepertinya sudah terasa old-school, (meski saya masih bisa menjual kisah cinta Senyum Sunyi Airin, tapi old-school tetaplah old-school)

Well, novel ke-enam saya ini secara tidak langsung merupakan jawaban saya atas tantangannya. Dalam 312 halaman, dengan durasi cerita hanya 18 jam (that’s right! cerita di novel ini dimulai sekitar jam 07.00 pagi, dan berakhir lewat tengah malam, silahkan baca lebih jelas di sini) kami coba mencari jawaban dari satu tanda tanya besar:

“Jika kematian adalah sebuah solusi dari masalah yang sedang kita hadapi, akankah kita berani menempuhnya?”

 

 

Share This: