Dua Hal Kenapa Saya Suka Keluarga Cemara

Saya jarang datang ke bioskop untuk nonton film yang sama beberapa kali. Kalaupun ada biasanya film luar, antara lain Crazy Rich Asian (Jon M. Chu, 2018) dan—yang satu ini nontonnya pas SD— The Saint of The Gambler (Wong Jing, 1995). Untuk film negeri sendiri—terutama karena baru beberapa tahun belakangan ini saya rutin nonton film Indonesia—biasanya satu kali sudah terasa cukup, bahkan untuk film sekelas The Raid.

Maka dari itu, film Keluarga Cemara (Yandi Laurens, 2019) resmi menjadi film Indonesia pertama yang saya tonton lebih dari sekali di bioskop! Pertama saya menontonnya dengan si sulung, lalu beberapa hari kemudian saya menontonnya bersama istri.

Memang sejak trailer ini keluar, saya sudah bertekad ingin menonton. Meski saya bukan penikmat serial yang tayang antara 1996-2005 ini, (di medio segitu saya belum punya televisi sendiri, kalau nonton Satria Baja Hitam masih numpang di tetangga)—apalagi baca seri novelnya yang terbit sejak 1981—tapi saya tahu lah garis besar cerita serta tokoh-tokohnya. IMHO, kalau sebuah cerita sudah tayang sedemikian lama, kayaknya kecil kemungkinan kalau sampai ada yang tidak tahu sama sekali. (argumen lemah, saya tahu…)

keluasrga-cemara-feat-1300x500

Trailer, adalah pintu pertama yang membuka minat saya terhadap Keluarga Cemara. Lalu yang kedua adalah sosok Yandy Laurens yang didapuk jadi sutradara (ini debut pertamanya dalam film panjang). Sebenarnya saya tidak terlalu mengikuti karya-karya Yandy, malah sebenarnya baru satu film pendeknya yang saya tonton, judulnya Wan An (2012). Tapi di film pendek durasi 20 menit itu, saya melihat kualitas Yandy dalam menggarap film yang mengandung unsur kisah cinta dalam sebuah keluarga. Karena itu saya percaya padanya, dan berharap dia bisa menyajikan hal yang sama—bahkan lebih baik lagi—di film Keluarga Cemara.

Harapan saya ternyata tidak berlebihan, Yandy berhasil menyajikan sebuah film keluarga yang mengandung takaran yang sangat tepat. Jika diibaratkan masakan (Kebetulan saya lagi rajin nonton ulang Hells Kitchen Indonesia), Saya mengibaratkan Keluarga Cemara adalah sebuah makanan yang bumbunya ditakar dengan tepat, dan disajikan kepada penikmat yang tepat, di waktu yang tepat.

Berikut dua alasan, tentang mengapa Keluarga Cemara bisa dikatakan film yang bagus. Tentu saya ini sangat subjektif, alasan pribadi, dan bisa saja salah. Lagipula ini bukan review lho, cuma: sharing cinema experience, hehe…

Film yang Pas di Segala Aspek

Seperti yang saya sudah katakan di atas, Keluarga Cemara adalah sebuah makanan yang bumbunya ditakar dengan tepat. Karena isi dari Keluarga Cemara bukan hanya drama keluarga. Di dalam film ini kita bisa lihat unsur komedi, konflik persahabatan, romance (remaja SMP), dan unsur musikal yang berkelindan dengan rapi, tanpa ada satupun yang terkesan overused. Timing munculnya lagu-lagu dari Bunga Citra Lestari, Dialog Dini Hari (Tentang Rumahku), atau Banda Neira (Rindu), juga tepat waktu, tepat durasi, dan tidak terkesan hanya sekadar tempelan, termasuk beberapa product placement yang alih-alih janggal malah dibuat untuk mendukung jalannya cerita.

Begitu juga dengan shot. Saya melihat, Keluarga Cemara adalah film yang dibangun dengan shot yang lengkap tapi efektif. Tidak ada shot mubazir, yang ada malah melengkapi jalan cerita. Tidak semua shot ada dialognya, banyak juga yang berisi adegan diam dan hanya gestur, namun scene itu bisa melengkapi alur cerita dengan baik.

Tampaknya, komposisi film ini memang sudah diatur sampai menitnya. Scene romance sekian menit, scene musikal sekian menit, dialog sekian menit, gestur sekian menit, dst. Seolah kelebihan satu menit saja sudah membuat semuanya tidak seimbang. Tentu saja ini adalah bukti kerja yang bagus dari departemen script dan editing.

feature-persembahan-harta-paling-berharga-di-teaser-keluarga-cemara1-1300x500

Pola keseimbangan seperti ini menurut saya juga bukan tanpa resiko. Selalu ada saja kemungkinan cerita jadi tidak “dalam”, semua konflik hanya sampai di batas permukaan. Tapi lagi-lagi saya tidak keberatan, karena apa yang diciptakan Yandy di layar adalah sebuah film keluarga yang bisa dinikmati dari mulai Ayah, Ibu, dan anak-anak. Terbukti dari dua kali saya menonton, tiga jenis penonton itu selalu saja ada. Entah mereka datang lengkap berkeluarga, atau hanya ibu-anak saja, dll.

Dengan komposisi penonton seperti itu, tentu cerita yang ringan dan tidak rumit dipahami, akan sangat diperlukan. Dalam hal ini, Yandy sukses menyajikannya kepada kita semua.

No Sinetron, No Suffering-Porn

Saya percaya makin sini, kualitas film Indonesia makin membaik. (Terimakasih buat para filmmaker di luar sana yang memperhatikan jeritan kami para penonton film serius; hehe…)

Masalahnya, selalu ada kekhawatiran tersendiri tiap kali saya menonton film Indonesia. Ada satu style yang cenderung dianut oleh scriptwriter-ala-sinetron-kejar-tayang di negara ini yaitu: suffering porn. Banyak film yang jatuh dalam eksploitasi penderitaaan karakter cuma untuk bikin penonton simpati. Endingnya tidak ada lagi kecuali tokoh utama dibikin menderita habis-habisan. Saya bisa menyebutkan beberapa film, tapi tanpa mengurangi respek pada kinerja seluruh crew, saya pilih Radit dan Jani (Upi Avianto, 2008) adalah salah satu film yang terjebak dalam suffering porn tadi.

Dalam ruang lingkup kekhawatiran tersebut, Keluarga Cemara adalah salah satu film yang rentan terjebak dalam pola suffering-porn. Dengan niat bikin penonton merasa sedih, dengan mudah Yandy dan Gina S. Noer (penulis skenario) bisa membuat keluarga Abah (Agus Ringgo) dan Emak (Nirina Zubir) dilanda bencana terus-terusan. Rumah disita debt collector dan kaki patah cuma awalan, berikutnya bisa saja ada: terseret kereta api, tersambar petir, kebanjiran, dirampok, rumah kena gusur, dikejar harimau, atau tertimpa meteor.

00207106 - Copy

Atau yang “sederhana”, bisa saja diceritakan bahwa Euis (Zara JKT48) sebagai anak sulung, ternyata selalu dibuli teman-temannya karena dia jualan opak. Lalu bisa saja Euis balik menyalahkan keluarganya, berubah jadi anak durhaka: melawan Abah, menendang Emak, menampar Ara (Widuri Puteri), atau bisa lanjut ke merokok, ngeganja, ngelem, narkoba, freeseks (lalu endingnya dapat hidayah, pakai jilbab, masuk pesantren, dan berpelukan sambil nangis-nangis dengan ortunya). Bisa saja kan dibikin begitu?

Oh iya, suffering-porn yang saya maksud di atas juga mencakup adegan klise seperti berdoa kepada Tuhan dengan suara keras (“Ya Oloh, tolong Baim ya Oloh!”) atau voice-over yang berisi rangkuman masalah (“Ya Allah, tolong kembalikan suami hamba, kembalikan perusahaan hamba, kembalikan harga diri hamba…”, padahal nggak usah dikasih rangkuman begitu juga dari tadi juga penonton sudah tahu kan kalau suaminya selingkuh, perusahaannya bangkrut, dan dia kegep pas lagi ngeue di hotel demi menjemput rejeki tahun baru!)

Oke, please, Bukannya saya tidak percaya Tuhan atau menafikkan keterlibatan pertolongan-Nya di dalam sebuah masalah, tapi percaya deh, andai Keluarga Cemara memakai pola itu, saya akan keluar dari bioskop meski baru beberapa menit. Biarin, paling cuma korban uang 53 ribu perak. Boro-boro ingin nonton dua kali.

Keluarga Cemara sama sekali jauh dari hal-hal klise seperti itu. Dengan luar biasa Yandy dan Gina ternyata mampu memainkan seluruh karakter dan penderitaan tokoh-tokoh dengan cerdas.

Iya sih, masih ada scene Euis malu jualan opak, dan beberapa kali dia meninggikan suara saat berdebat dengan Abah. Masih ada Abah yang otoriter, grasa-grusu ambil keputusan, dan banyak ngumpet di balik frasa “demi keluarga”. Tapi semua karakter “negatif” itu berhasil dijadikan bahan bakar untuk menyetir cerita secara jauh lebih mendalam, dengan pemikiran-pemikiran yang lebih modern, tanpa melupakan sisi manusiawi.

Saya tidak akan menjelaskan detail konfliknya, khawatir spoiler. Silahkan nonton sendiri dan rasakan bahwa alur cerita Keluarga Cemara membuat sisi-sisi gelap dari tiap karakter malah mengarah ke resolusi yang mendamaikan dia dengan kondisi maupun karakter-karakter lain.

Dengan olahan seperti itu, alih-alih terjebak dalam cerita penuh gulungan air mata, saya sebagai penonton jadi mendapatkan pesan moral dan pelajaran yang memang sejak awal ingin disuntikkan oleh Yandy dan Gina.

feature-1300x500

Kita Perlu Banyak Film Keluarga

Dua film terakhir yang saya tonton di bioskop adalah film yang bisa dinikmati oleh rentang umur yang jauh. Sebelum Keluarga Cemara saya sudah nonton Bumblebee. Di dalam bioskop saya melihat anak-anak dan orangtua sama-sama bergembira, menikmati cerita. Pemandangan yang jarang buat saya.

Singkatnya, saya berharap ke depannya, Indonesia punya lebih banyak film keluarga yang bagus, karena tidak ada yang lebih indah ketimbang melihat orangtua dan anak bisa menikmati sesuatu bersama-sama dengan ceria dan tanpa beban. Setuju kan?[]

Share This:

Related posts:

Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
Coraline... Bukan Caroline!
Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk Co...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Django Unchained: Happy Ending versi Holywood
Salah satu sutradara—mungkin malah satu-satunya—yang saya suka adalah Quentin Tarantino. Walaupun saya kenal karya dia agak telat, yaitu dari Kill Bill I (2003). Kalau sutradara lain saya jarang mempe...
Bad Times at the El Royale: Antara Imaji, Cermin, dan Ironi
Saat pertama kali saya lihat trailer film ini di Twitter, saya langsung masang niat untuk nonton. Penyebab utama adalah saya tertarik pada ceritanya, karena kebetulan novel keenam saya, Meja Bundar, p...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *