Saya dan Backstreet Boys

Beberapa hari ini, saya memutar secara random playlist lagu-lagu Backstreet Boys (BSB) di Spotify. Awalnya sih tidak ada niat sama sekali mendengarkan boyband ini lagi, sudah jadul lah, sudah mulai lupa. Namun, dua-tiga hari yang lalu ketika saya sedang makan di café langganan dekat kantor, ternyata pemiliknya memutar lagu-lagu BSB sebagai soundtrack jam makan siang. Dasar memang saya hidup sejaman dengan BSB (saya sudah tua, YES!), ya otomatis kenangan pun jadi berkelana kesana-kemari.

Dari sekian banyak kenangan yang diiringi lagu BSB,  yang paling melekat dalam ingatan, justru momen ketika pada satu siang, teman SMP, namanya Duleh bertanya, “Dra, maneh resep lagu naon?” (Kamu suka lagu apa?).

Sebenarnya saya bisa jawab apapun sih, karena ada beberapa artis yang saya suka, baik luar atau dalam. Semuanya adalah yang sering tampil di MTV. Eh, andalan saya untuk mengenal musik mancanegara di masa itu cuma MTV lho, saya tidak punya radio, sekolah di kampung, mall terdekat tempat para remaja bisa hunting kaset atau VCD itu jaraknya sekitar 30 km dari rumah, terlalu jauh.

Terimakasih buat ANTV yang sudah megang hak siar dan nayangin MTV sampe ke kampung-kampung. Saya lupa sih nama acaranya, kalau nggak salah MTV Most Wanted, yang memandunya gantian, antara: Nadya Hutagalung, Jamie Aditya, Sarah Sechan, dan Mike Kasem.

Begitulah, yang jelas tiap kali nyetel MTV Most Wanted, saya selalu berusaha menghapal setiap artis dan lagunya, tapi secara khusus saya selalu nunggu beberapa penyanyi favorit, antara lain: Boyzone, Tony Braxton, George Michael, TLC, Red Hot Chilli Peppers, Alanis Morisette,  dan…

“… Backstreet Boys!” Jawab saya kepada Duleh.

Ada beberapa faktor kenapa yang kesebut malah artis itu. Pertama karena memang ingatan saya langsung tertuju pada BSB. Soalnya kala itu mereka adalah salah satu boyband yang video klipnya paling banyak diputar. Wajar sih soalnya dalam dua tahun, BSB udah ngeluarin dua album beruntun: Backstreet Boys (1996) dan Backstreet’s Back (1997), akibatnya tentu banyak video klip mereka yang ngantri masuk playlist MTV. Seingat saya: Get Down, Quit Playin Game, I’ll Never Break Your Heart, dan As Long as You Love Me itu empat lagu yang paling sering keluar.

Lalu alasan kedua, sebenarnya saya sedang jatuh cinta pada adik kelas, dan yang muter-muter di kepala saya saat itu adalah syair lagu “Anywhere for You” … I’d do anything for you / Anything you want me to / your love as far as I can see / Is all I’m ever gonna need / There’s one thing for sure/ I know it’s true / dan seterusnya…

Kirain bakal dipuji sebagai manusia dengan selera musik keren! Ternyata mendengar jawaban saya, Duleh malah mencibir (sumpah dia ngomong sinis banget!), “Ah bencong maneh mah! Lalaki mah dengekeun Metallica!” (Kamu bencong, lelaki tuh dengerin Metallica)

Saya ingin mendebat Duleh, karena sebenarnya saya juga dengerin Smashing Pumpkins, Offspring, dan Garbage. Tapi saya ngeper juga kalau ingat saya tidak tahu apa-apa soal ketiga band tadi kecuali hanya satu-satu lagu mereka yang sering diputer: Tonight Tonight, Pretty Fly, dan I’m Only Happy When it Rains. Lagipula saya tidak tahu bagaimana “kedudukan” ketiganya di depan Metallica. Salah-salah malah makin dihina.

Akhirnya saya memilih diam, menerima fakta bahwa saya sudah jadi bencong (setidaknya di mata Duleh). Waktu itu saya masih SMP, masih labil, dan salah satu ketakutan terbesar  yang terasa di usia segitu adalah dijauhi teman karena berbeda. Sementara Duleh merupakan salah satu teman terdekat saya. Maka gabungan dari itu semua membuat saya berpikir untuk menjauhi BSB, dan mulai mendengarkan Metallica.

Masalahnya ada dua: Metallica jarang diputar di MTV (ada sih beberapa kali muncul lagu “One”, tapi termasuk jarang juga). Lalu yang berikutnya, pada periode pencarian Metallica, saya malah kepincut lagu “Baby One More Time” dan malah mendapati diri lebih suka nyari info soal Britney Spears.

Mati! Suka band cowok ganteng macam BSB aja dibilang bencong, apalagi kalo Duleh tau saya jadi suka penyanyi perempuan seksi? (Heh, dulu Britney masih seksi ya, catet!). Akhirnya dengan sadar, saya memilih untuk tidak pernah membagi nama artis favorit kepada siapapun. Apalagi kepada Duleh yang jelas sudah gagal membuat saya murtad dari lagu-lagu “bencong”.

Sampai kuliah, saya tetap mendengarkan BSB dan Britney secara bergantian. Bedanya: Untuk Britney saya berhenti di album kedua: Oops! I Did It Again (2000), sementara untuk BSB saya tetap mengikuti sampai album kelima: Never Gone (2005).

Alasan berhenti mendengarkan agak mirip: Karena Mereka Sudah Berubah.

Misalnya, di album ketiga (Britney), dia malah mengubah image jadi sesuatu yang berkebalikan dari sosok yang saya kenal. Silahkan dengar lagu “I’m a Slave 4 U” di album ketiga, dan bandingkan betapa sweetnya dia saat melantunkan “Don’t Let Me Be the Last to Know” di album kedua. (Iya saya tahu, ada gaya Pharrell Williams di IAS4U, pasti beda banget sama lagu DLMBTLTK yang ditulis sama Shania Twain, tapi kan ini bukan soal lagu aja, ini soal image yang ditawarkan ke fans #eaaaa #sok rumit)

Untuk BSB, alasan saya karena setelah album kelima rilis, Kevin Richardson memutuskan untuk pergi (tepatnya tahun 2006). Artinya ada perubahan komposisi. Bukan berarti saya suka pada Kevin, tapi di mata saya, kehilangan satu personil membuat BSB tidak lagi sama. (Kadang saya bertanya-tanya: sebegitu bencinyakah saya saat itu dengan yang namanya perubahan?). Jika saja Kevin masih bergabung, mungkin saya masih akan membeli album Unbreakable (2007) dan This Is Us (2009).

Memang sih dia kembali lagi tahun 2012 dan masuk ke album In a World Like This (2013), tapi waktu itu minat saya membeli album BSB sudah benar-benar hilang.

Sampai akhirnya dalam beberapa hari ini saya kembali mendengarkan mereka, dan baru sadar betapa berkembangnya warna musik BSB dari album ke album. Sayang sekali sekarang saya bukan ahli musik, dan dulu masih terlalu polos untuk menganalisa yang beginian. Termasuk isu yang selalu menarik buat dibahas: perseteruan mereka dengan NSYNC. Bukan hanya kedua boyband ini dimanajeri orang yang sama (Lou Pearlman), tapi sebenarnya NSYNC dan BSB dibentuk agar saling bersaing dalam artian yang sebenarnya. Cerita ini pernah dibahas dengan menarik di majalah Rolling Stones, baca aja.

Oh iya, kabarnya awal tahun 2019 BSB akan rilis album baru (DNA), dua single yang keluar tahun 2018 sudah masuk list: “Don’t Go Breaking My Heart”, dan satu yang ditulis oleh Shawn Mendez: “Chances”. Mungkin saya tidak segila dulu, jadi akan benar-benar mempertimbangkan jika ingin beli album yang ini, termasuk coba dengerin beberapa lagunya dulu lewat akses gratisan. Kalau terasa mantep ya beli.

Lalu sayang sekali saya tidak tahu lagi alamat Duleh, padahal sempat kepikiran untuk ngirim satu album DNA ke dia. Bukan apa-apa, cuma sekadar ingin ngasih tahu kalau saya masih jadi temannya yang “bencong” karena suka dengerin Backstreet Boys, dari mulai BSB dikategorikan sebagai boyband remaja, hingga sekarang saat mereka udah jadi boyband om-om senang.[]

Share This:

Related posts:

That's Right, Mr Formichetti!
Hal yang paling saya pelajari dari sosial media adalah: Saya diajari menipu diri. Ini seriusan, sejak awal tahun 2015 intensitas saya menulis status di sosial media menurun drastis, bisa seminggu sek...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Hewan Juga Homo
Saya bukan gay, saya juga nggak pro LGBT (karena buat saya, lawan jenis masih "tampak" lebih mengenyangkan #EH). Di dalam postingan ini saya cuma ingin meluruskan saja, ada satu hal "ke...
Been Alone in a Crowded Room
Apa yang paling mengerikan dari sebuah kesendirian? Akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya soal itu. Saat sendirian. Pada akhirnya saya sendiri harus menyerah karena tidak mungkin menemukan jawab...
Sakit Kepala Diberi Obat Tetes Mata: Colok Saja!
Beberapa waktu yang lalu saya memasang status Facebook. Inti dari status itu adalah saya ingin bertanya mana jenis investasi yang lebih menguntungkan, apakah Emas? Dinar? Atau Bitcoin? Hmm, mungkin m...
Mari Mengobrol Seperti Domino
Berapa lama waktu yang pernah kita habiskan untuk mengobrol dengan seorang kawan? Ingat, hanya seorang, bukan mengobrol dalam grup. Satu jam? Dua jam? Empat jam? Ketika masih kuliah, saya pernah meng...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *