Bumblebee: Transformers Tidak Harus Mengerikan

Sekadar informasi: anak saya yang kedua (kelas 1 SD) begitu tergila-gila pada Bumblebee! Silahkan main ke rumah dan hitung sendiri berapa barang-barang dia yang ada nuansa robot kuning itu, kaos, tas selempang, ransel, helm, apalagi ya… banyak deh. Bukan saya yang mulainya, dia yang inisiatif sendiri; meskipun yaaa… semua pernak-pernik itu dibelinya pake duit saya juga.

Karena dia “gila Bumblebee”, maka tidak heran ketika dapet bocoran info—siapa yang bocorinnya!— akan ada film Bumblebee (Travis Knight, 2018), sejak masih dilabeli coming soon aja dia sudah nodong nonton, hampir tiap hari deh nagih. Lalu yaa… pada akhirnya—sebagai Ayah pura-pura teladan—saya pun harus mau menemani dia.

Masalahnya ini: saya hampir selalu sinis pada film-film yang berisi pertempuran robot  besar. Terlalu membingungkan dan ga jelas ceritanya. Seolah cuma jualan robot besi pukul-pukulan. Karena itulah saya hanya setengah menikmati Pacific Rim (2013) dan sama sekali tidak peduli pada sekuelnya. Kalau bukan karena anak saya itu merengek-rengek, mungkin Pacific Rim Uprising (2018) tidak pernah mampir di harddisk saya.

Senasib dengan seri Pacific Rim, saya juga tidak pernah bisa menikmati seri manapun dari Transformers. Ngerti ceritanya aja nggak, apalagi hapal nama-nama robotnya. Kalau pada akhirnya saya tahu tiga di antara pasukan baik (apa namanya pasukan baik ini?) yaitu: Optimus Prime, Hound, dan Bumblebee, yaa karena anak saya itu yang menjejali informasi tersebut. Bukan saya yang cari-cari tahu.

Tapi janji adalah janji, apalagi janji sama anak. Maka saya pun beli tiket film Bumblebee untuk dua orang, dan mencari-cari info awal tentang film itu. Antara lain dengan mention akun @bicaraboxoffice dan nanya apakah film ini aman buat anak? Jawaban adminnya: aman.

MV5BOTIxMDIwMTc0N15BMl5BanBnXkFtZTgwNDUwNzE5NjM@._V1_SX1777_CR0,0,1777,949_AL_

Info kedua datang dari boss saya yang ngaku udah nonton. Saya tanya dua hal: (1) Apakah film ini aman buat anak? dan (2) Apakah Hailee Steinfeld tampil cantik?

Jawaban boss saya: (1) filmnya bisa ditonton anak dan lebih emosional ketimbang seri-seri Transformer, dan (2) soal cantik atau tidak saya ga bisa jawab karena itu relatif.

Heeii… boss, why so serious! Tinggal bilang cantik apa nggak aja gitu lho! Tapi okelah saya dapat gambaran agak lebih jauh: soal sisi emosional. Tapi emosional yang gimana? Si boss tak menjelaskan, malah langsung memutus obrolan dengan ngasih kerjaan #sigh!

Lalu ada info ketiga. Jadi sekitar tanggal 19 Desember saya nyetel TV dan beneran ga sengaja nonton acara The Tonight Show with Jimmy Fallon. Ternyata bintang tamu hari itu adalah Hailee Steinfeld! (Saya suka banget kostum yang dipake Hailee pas nyanyi lagu Back To Life, sangat Bumblebee, dia udah kayak robot cewek android, cantik deh pokoknya). Nah, dalam sesi talk show dia cerita soal film ini, dan salah satu poin yang saya tangkap adalah lagi-lagi soal sisi emosional. Begini katanya:

This movie, I feel is so special for that reason, because it has everything that Transformers fans know and love with its beautiful cutting edge action. But this has so much heart, so much emotion, there’s laughter, there’s a major sense of wonder. It’s just an all-around feel-good movie

Oh oke Hailee, so much heart, so much emotion… Itu yang ditawarkan. Sesuatu yang harus saya akui benar ketika keluar dari gedung pertunjukan

Bumblebee, Story

Kisah Bumblebee dimulai dari luar angkasa. Jadi ceritanya, tempat tinggal (Cybertron?) robot-robot baik (Autobots?) sedang diserang oleh robot-robot jahat (Decepticon?). Menyadari mereka bakalan kalah kalau terus bertahan di sana, Optimus Prime sebagai pemimpin nyuruh semua robot baik untuk menyelamatkan diri, tapi secara khusus dia minta robot B-127 untuk pergi ke Bumi, bikin markas, dan melindungi planet Bumi sampai Autobots lainnya dapat berkumpul kembali di sana. (Jadi ceritanya planet kita dijadiin markas seenaknya gitu ya? Ga pake ijin! Robot songong!)

Setibanya di bumi—yang ternyata lagi tahun 1987—robot B-127 tidak bisa mendarat dengan tenang karena langsung dikejar-kejar sama pasukan militer Sektor 7 yang dikomandani oleh pegulat John Cena! (Saya lebih inget nama aslinya ketimbang nama karakter dia di film). Urusan sama pasukan Sektor 7 belum beres, ada lagi satu robot jahat yang ikut bantu ngejar-ngejar. Ribet dah!

Terjadi pertempuran singkat yang meninggalkan tiga hal penting:

  • Gara-gara John Cena pingsan pas B-127 lagi berantem sama robot jahat, maka dia menganggap B-127 adalah penjahat yang udah bunuh-bunuhin semua pasukannya. Padahal pasukannya mati gara-gara ada di tempat yang salah dan waktu yang salah. Heeei, mereka pada berdiri di antara dua robot seukuran gedung apartemen yang lagi berantem, what do you expect kecuali angus dan gepeng?
  • Meski B-127 menang dalam perkelahian lawan robot jahat, tapi dia kehilangan kemampuan bicara seumur-umur karena pas lagi berantem, ada kabel di tenggorokannya yang dicabut. Masalah ini akan jadi salah satu twist penting di dalam film.
  • Dalam adegan pertempuran itu, penonton dapat informasi bahwa B-127 bisa berubah bentuk jadi mobil apapun yang dia lihat. Setidaknya dalam keseluruhan scene pertempuran awal, ada dua kali B-127 berubah, pertama jadi jip tentara dan kedua jadi VW Beetle. Sebenarnya ini sangat menjawab pertanyaan anak saya pas liat trailer, “Ayah, itu kan Bumblebee harusnya mobil sedan, kok ini jadi mobil VW?”, Saya jawab dengan singkat tapi penuh makna, “Mbuh Nak, dulu Ayah nontonnya Ria Jenaka.”

Setelah pertempuran awal selesai (diakhiri dengan fade-out layar gelap, B-127 pingsan), cerita lompat ke kehidupan seorang anak perempuan usia 18 tahun bernama Charlie Watson (Hailee Steinfeld) yang rada-rada tomboy, suka The Smith, dan jago ngoprek onderdil mobil. Kalau karakter kayak gini muncul dengan seting Indonesia, pasti adanya di FTV dengan judul: Montir Cantik Mengobok-Obok Hatiku.

bumblebee-publicity_still_2-h-2018

Charlie adalah tipikal gadis pemberontak, dan kebetulan sedang menemukan alasan untuk berontak di dalam rumahnya sendiri. Selain tidak punya pacar, dia juga belum bisa move on dari kematian ayahnya, sekaligus belum bisa nerima kehadiran ayah tiri dan adik tiri. Sementara Ibu kandungnya, setidaknya di mata Charlie, tampak tidak melakukan apapun untuk memperbaiki situasi. Singkatnya, dia tidak nyaman di rumah, dan memerlukan teman.

Sampai akhirnya Charlie dapat hadiah ulang tahun berupa mobil VW Beetle dari seorang kakek pemilik tempat barang rongsokan. Mobil itu dibawa pulang, dan nggak perlu waktu lama sampai dia tahu bahwa VW Beetle itu adalah B-127 yang sedang menyamar. Setelah itu, barulah B-127 dapat nama Bumblebee. Dikasih nama yang rada-rada girly seperti itu, yaaa B-127 cuma bisa terima, nggak bisa protes, kan dia nggak bisa ngomong!

Itu aja sih aspek penting dari kehidupan Charlie dan Bumblebee yang perlu diingat saat menonton film ini. Saran saya, tolong lupakan karakter-karakter lain yang bermunculan di sekitar kehidupan mereka berdua, percaya sama saya deh: NGGAK PENTING!

Iya iyaaa, tauuu… dengan rating PG-13, maka sasaran penonton dari film ini ya remaja, 13 tahun ke atas. Artinya, untuk memenuhi “selera” para remaja, maka dalam film ini memang mesti ada elemen-elemen remaja, dan kita konflik-konflik usia segitu memang penuh dengan drama macam: status orang tua, seberapa bagus mobil, seberapa populer pergaulan, seberapa paham fashion, atau seberapa bahenol pacar

Tapi meski teorinya begitu, saya tetap merasa elemen PG-13 yang disisipkan di film Bumblebee tidak terlalu signifikan untuk mengiringi jalan cerita. Termasuk fakta bahwa Charlie adalah jago loncat indah yang punya trauma, itu juga ga penting-penting amat kalo endingnya cuma kepake saat dia nyebur ke area yang kebanjiran di scene final fight.

Saya juga merasa tokoh-tokoh macam Trip si cowok kekar, atau Tina si cewek populer tukang bully tidak terlalu jelas pengaruhnya. Jadi adegan-adegan-ala-sinetron-remaja-semacam-cewek-culun-dibully-oleh-cewek-populer-dengan-kosmetik-terlalu-tebal-untuk-ukuran-anak-SMA-itu sebaiknya dihapus saja lah; karena untuk membuktikan Charlie ternyata berwatak superior juga nggak dapet, ngebuktiin Trip adalah cowok yang bisa nyuri hati Charlie juga nggak. Bahkan, scene-scene bully juga gagal ngebuktiin kualitas Memo (Jorge Lendeborg Jr) yang diceritakan ngeceng Charlie, sebagai cowok yang bisa ngebelain kecengannya.

MV5BNDM0MDAxMjQ1MV5BMl5BanBnXkFtZTgwNzUwNzE5NjM@._V1_SX1777_CR0,0,1777,949_AL_

Malah Bumblebee lah yang bener-bener bisa ngebalas dendam ke Tina sampe bikin cewek borju itu jerit-jerit panik histeris. Padahal kalau memang niat PDKT, harusnya Memo yang melakukannya. Usaha dia ketikung sama robot. Hasilnya ya jelas, sepanjang film cowok keriting itu mesti puas ada di zona friendzone. (Kasian banget kamu Jorge, udah diplot satu frame sama Hailee Steinfeld, tapi adegan cipok basah aja ga dapet. HUH CUPU!)

Jadi bisa disimpulkan bahwa Bumblebee adalah film memiliki dua sayap cerita: pertempuran robot dan romansa; yang mana adegan romansanya diisi oleh kisah cinta mengharukan antara seorang ABG kesepian dengan robot alien yang dapat menyamar sebagai mobil VW. Udah itu aja! Lupakan yang lain!

Bumblebee Membuat Transformers Enak Dilihat

Oke, sekarang kita masuk ke bahasan seriusnya. Sejak pertama kali teknologi robot ada, manusia sudah memunculkan berbagai teori dan kajian tentang hubungan yang kelak akan terbentuk antara manusia dan robot. Hollywood pun tidak ketinggalan memainkan isu ini dengan ngeluarin film-film yang menceritakan hubungan antara manusia dan robot. Dari mulai film jadul seperti Forbidden Planet (Fred M. Wilcox, 1956), atau sitkom tontonan keluarga macam Small Wonder (1985-1989), yang masuk era film modern sih banyak lah, ga usah disebut. Mending buka Wikipedia aja.

Dalam hal ini, Bumblebee menambahkan satu lagi di daftar film-film dengan plot persahabatan manusia dan robot. Seperti yang saya katakan di atas, film ini diceritakan dengan pola sayap kupu-kupu dimana sayap yang satu berisi plot tentang konflik robot jahat-robot baik, perkelahian, pertarungan senjata, saling rebut wilayah, dan sebagainya. Sementara sayap satunya lagi bicara tentang persahabatan Charlie dengan Bumblebee, yang mana hubungan ini menjadi cara bagi Charlie untuk menegaskan kendali hidupnya, dan untuk mengatasi kesedihan yang menderanya setiap hari.

Saya tidak tahu apakah ada keterlibatan Spielberg di proses pra-produksi, tapi terasa banget konsep cerita A.I. Artificial Intelligence (Steven Spielberg, 2001) di sini. Bahkan jelas bisa dikatakan bahwa perbedaan utama antara film ini dengan berbagai series Transformers adalah hilangnya sebagian besar efek “robot macho” dan tergantikan dengan persahabatan yang terbentuk antara seorang gadis remaja dengan robot alien. Film ini lebih berfokus pada hubungan inti tersebut.

MV5BMTYzODU2MjQzNl5BMl5BanBnXkFtZTgwOTQwNzE5NjM@._V1_SX1777_CR0,0,1777,949_AL_

Lagipula sudah tampak jika dari awal sutradara Travis Knight tidak tertarik pada pola-pola seri Transformers, yang biasanya mengedepankan lusinan robot raksasa dengan bentuk fisik hampir tidak bisa dibedakan satu sama lain (seriusan!), apalagi kalau sedang adegan pertempuran, biasanya yang ada adalah kekacauan visual. Ini mana yang musuh mana yang jagoan?

Iya sih, saya melihat Bumblebee pada akhirnya (terutama di babak III) kembali harus “menyerah” pada plot wajib franchise Transformers, yang mana selalu bercerita tentang: kelangsungan hidup manusia bumi tergantung pada sekelompok robot raksasa yang saling tonjok satu sama lain. Okelah, mungkin ini udah fardhu ain dalam urusan Transformers. Tapi pendekatan Knight terlihat lebih terkendali, lebih jelas. Scene-scene berantem lebih “bersih”, koreografi lebih koheren.

Ketimbang dipaksa nonton robot warna campuran terbang-terbang nggak jelas sambil nembakin roket, dalam film ini penonton (terutama anak-anak) bisa lihat adegan fighting yang jelas, dengan gerakan ala-ala Judo yang apik, teratur, tapi nggak ngebosenin.

Mungkin ini ada hubungannya dengan fakta bahwa sebelum jadi sutradara, Travis lebih dulu memulai karirnya jadi animator stop motion, sehingga kini setelah lima film Transformers di mana penonton sering tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi di layar (saking riuhnya), Bumblebee akhirnya membuat aksi Transformers menarik, dan membuat kita bisa benar-benar peduli tentang nasib para robot di layar.

Bukan hanya itu, bahkan untuk robot-robot antagonis, Travis mendahulukan karakter yang selama ini agak dicuekin, misalnya: robot pertama yang dibunuh B-127 adalah Blitzwing (agak mengecewakan banyak fans karena dari trailernya mereka ngira yang muncul adalah Starscream). Lalu duet maut yang ngejar-ngejar Bumblebee adalah Dropkick dan Shatter. Dua robot bagus, tapi nggak kepake sama Michael Bay.

MV5BNjUyODcxNTgyMV5BMl5BanBnXkFtZTgwNjgwNzE5NjM@._V1_SX1777_CR0,0,1777,960_AL_

Padahal Dropkick cukup terkenal di komunitas pecinta Transformers sebagai “one of Megatron’s most loyal lieutenants”, sementara Shatter adalah robot perempuan yang (sedihnya) sampai sekarang nggak ada action figure-nya. Tentu mengingat di dunia ini sudah banyak banget action figure Transformers, kenapa sih nggak bikin satu aja buat menghormati female-bot? Michael Bay ini ada masalah apa sih sama robot perempuan? Pernah ditolak cinta? Iya kita tahu, ada tokoh Arcee di Transformers: Revenge of the Fallen (2009) tapi perannya juga nggak terlalu signifikan. Jadi bisa dibilang Shatter adalah robot perempuan pertama yang punya peran vital di dunia Transformers. Thanks to Travis!

(Orang nyinyir beraksi:  Lho mas, katanya nggak pernah nonton Transformers, kok tahu yang beginian? Jawabannya: makanya maen yang jauh, jalan kaki sampe ke Screenrant!)

Sengaja atau tidak, Bumblebee telah menunjukkan pada penonton (terutama Transformers Die-Hard Fans) bahwa bukan sesuatu yang mustahil untuk memisahkan franchise ini dari seorang Michael Bay. Apalagi kita hidup di era “expanded cinematic universe”, semua studio pasti ingin melakukan adaptasi template-jaminan-box-office milik Marvel dan Disney. Maka itulah yang dilakukan Paramount Pictures.

Bumblebee menghapus sebagian besar kelebihan wannabe macho dari Transformers, dan menggantikannya dengan cerita ala-ala Spielberg tentang persahabatan yang terbentuk antara alien robot dan seorang gadis remaja.

Karena itu saya menduga bahwa Bumblebee bukan hanya sekadar film hiburan. Tapi juga bagian dari riset untuk memeriksa seberapa “fanatik” para penggemar Transformers dalam mendukung spin-off yang lebih personal dan emosional. Jika film ini dianggap sukses dari kacamata para petinggi Paramount, bukan tidak mungkin akan muncul spin-off dari berbagai Autobot dan mungkin juga para Decepticon.

Intinya Bumblebee bukan film tanpa cacat, tapi setelah satu dekade kita dipaksa menonton robot raksasa dengan desain rumit saling tonjok di bumi, spin-off ini datang seolah dengan membawa wahyu penting, bahwa Transformers tidaklah harus tampil mengerikan.[]

MV5BMTU0NDAzMDE3MF5BMl5BanBnXkFtZTgwODQwNjM3NjM@._V1_SX1777_CR0,0,1777,949_AL_

Share This:

Related posts:

"The Maiden Heist", Film Komedi Para Senior
Film ini genrenya komedi ringan, disutradarai sama Peter Hewitt, rilis tahun 2009. Dari pertama lihat covernya, saya sudah yakin kalau filmnya jaminan mutu meski nggak tahu juga mutunya setinggi apa, ...
Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
Agni, the Loveable...
Sudah lama nggak ngupdate cewek of the week, alasan pertama karena migrasi server, alasan kedua karena lupa terus! Aduh ini otak memang sudah mendekati pikun. Padahal harusnya ini saya update seminggu...
Hiper-realitas Layar Kaca Indonesia
Dua orang anak perempuan berlari dikejar kepiting raksasa. Mereka berteriak minta tolong sambil terus berlari. Ternyata dari depan muncul ibu mereka disertai orang kampung yang membawa senjata. Dengan...
Montir Baru: Keiko Kitagawa
Jadi kemarin siang sambil istirahat, saya nonton film Hollywood ringan. Selalu gitu kok polanya, kalau lagi pengen istirahat dari kerjaan dan ngisi waktu dengan nonton maka saya milih film-film hibura...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

2 thoughts on “Bumblebee: Transformers Tidak Harus Mengerikan

  • 24/12/2018 at 08:16
    Permalink

    Wow, baca ulasan Kang Hendra ini berasa masuk ke dalam ceritanya padahal saya belum nonton film Bumblebee-nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *