Bohemian Rhapsody: Film Khusnul Khotimah

Di balik segala tulisan saya ini—termasuk menghindari ancaman pembunuhan dari para fans Queen garis keras—saya menyatakan bahwa Bohemian Rhapsody adalah film bagus, saya tidak keberatan nonton berkali-kali. Semua departemen bekerja keras dan hasilnya pun luar biasa. Rami Malek pun tampil hebat dan termasuk sukses menghidupkan lagi tokoh Freddie Mercury. Hanya dia sedikit kurang tinggi ya?

Awalnya memang bukan Rami yang diplot untuk memegang role Freddie, melainkan Sasha Baron Cohen, dia menang tinggi, muka juga lumayan mirip dengan muka orang Zanzibar—sementara Mbak Step, temen saya bilang kalo Rami tuh lebih mirip Bruno Mars. Iya juga sih, saya pernah nemu foto dengan angle Rami pas banget mirip Bruno Mars—nggak tau tuh, kenapa SBC keluar dari proyek ini, gosipnya sih nggak suka ceritanya.

Tapi memang salah satu hal terberat dalam bikin film biopic ada di departemen casting. Kalau muka aktornya nggak mirip, ceritanya langsung bubar jalan. Dalam hal ini, departemen casting Bohemian Rhapsody sudah bekerja dengan luar biasa. Hanya saja secara pribadi—tanpa bermaksud menyingkirkan Ben Hardy yang menjadi Roger Taylor—saya menilai casting yang berhasil banget justru ada di Joseph Mazello yang secara sempurna berhasil menjiplak muka John Deacon, dan Gwilym Lee yang entah kenapa bikin saya merasa sedang ngeliat Brian May secara langsung.

Sementara Rami Malek? Hmm… ini yang paling berat. Terus terang saja Freddie Mercury adalah legenda. Semua orang (hiperbola, right?) sudah tahu mukanya Freddie itu seperti apa, mimiknya seperti apa, gayanya seperti apa.

Silahkan buka YouTube dan kita bisa lihat ribuan video Queen dengan berbagai aksi Freddie. Jadi please, bukan salah Rami juga kalau dia justru yang persentase kemiripannya paling rendah dibanding aktor lain. Tapi maksudnya, bukan parah-parah banget jomplangnya, ini sih misalnya aktor lain bisa miripnya 90%, Rami tuh 85%, begitu. Sekecil itu rentangnya. Belum separah jomplangnya Nicholas Saputra yang meranin Soe Hok Gie.

Dan memang Rami pastinya bekerja ekstra keras untuk film ini. Kita harus hargai itu. Dengan gigi yang dibikin menonjol oleh hair and makeup designer Jan Sewell, gerakan yang “melambai-lambai” hasil latihan intens antara dia dengan movement coach Polly Bennet, dialek yang dia latih bersama dialect coach William Conacher dan tentu saja Rami juga bernyanyi, meski sebagian besar nyanyian dibuat dengan menggabungkan suara Rami, Freddie Mercury, dan seorang penyanyi Kanada bernama Marc Martel.

Dalam sebuah wawancara, Rami mengatakan bahwa dalam setiap aksinya, dia bukan hanya harus mempelajari mimik Freddie, tapi juga dituntut harus memahami mengapa seorang Freddie melakukan hal tersebut, termasuk perasaan Freddie. Itulah mengapa ketika Rami memakai gigi palsunya, seketika itu ia merasakan diri tidak nyaman dan bisa membayangkan kecanggungan seorang Freddie saat belum menjadi siapa-siapa, kecuali seorang imigran yang bekerja sebagai baggage handler di sebuah bandara di London. “Seorang Freddie yang masih mencari identitas diri, tahu bahwa dia punya keanehan, di wajah dan dia bukan siapa-siapa.”

MV5BYzc0ZmJhZDYtY2QxOS00Y2E0LWE1N2MtYTBhNWM3YWI1NDk4XkEyXkFqcGdeQXVyNTc5OTMwOTQ@._V1_SY1000_CR0,0,1482,1000_AL_

Maka, jika aktornya sudah bekerja keras dan secara penampilan mereka sudah mirip, maka tentunya tinggal ‘menjalankan” ceritanya dengan baik. Di sini saya mulai merasa ada sesuatu yang mengganjal

,,,

Ini Sebenarnya Biopic Siapa?

Lepas dari tidak ada informasi yang spesifik tentang sasaran tema dari film ini, apakah akan jadi biopic Queen atau Freedie Mercury, lepas dari lagu “Bohemian Rhapsody” sendiri yang mau disebut lagu Queen juga boleh, mau disebut lagunya Freddie Mercury juga boleh (mengingat kabarnya pada tataran konsep hanya dia yang tahu bentukan lagu ini secara utuh, teman-temannya hanya disuruh memainkan part-part tertentu saja), saya merasa ada keragu-raguan dari Anthony McCarten sebagai penulis skenario akan cerita film ini.

Sebab saya menangkap, film ini serba tanggung dalam menceritakan kedua sisi. Kalau mau bicara tentang Queen juga kurang lengkap, kalau mau mengupas seorang Freddie Mercury juga kurang dalam.

Misalnya: jika ingin bicara soal Freddie Mercury, maka film ini jelas kekurangan momentum dramatis dan pengembangan psikologis dari seorang Freddie.

Kita mulai dari hal yang “kecil” dulu, tidak tampaknya penghormatan Freddie pada Marlene Dietrich. Ada sih satu adegan ketika Freddie sedang berada di dalam rumah barunya—yang penuh kucing—tampak ada poster Marlene Dietrich di belakangnya. Hanya itu saja. Padahal Freddie begitu mengagumi Marlene hingga bahkan cover album Queen II (yang begitu ikonik) pun terinspirasi dari photoshoot artis asal Jerman ini.

Bagaimana tentang “hal-hal besar”? Salah satu fase penting dari seorang Freddie yang tak tergambar dalam film ini adalah bagian dimana dia berjuang dengan pilihan seksualitasnya. Bayangkan, dia hidup di suatu negara yang baru saja mendekriminalisasi homoseksualitas, yang pada saat itu dianggap sesuatu yang memalukan. (cek Sexual Offences Act 1967)

Bicara seksualitas Freddie, ini akan menyambung pada pernikahannya dengan Mary Austin, tidakkah sebuah pernikahan merupakan hal penting dalam hidup seorang tokoh? (hanya memberikan cincin di sofa? Apakah itu cukup?)

Satu lagi yang berkaitan dengan itu: kisah Freddie dengan Paul Prenter juga tidak tergambar dengan baik. Semua seolah hanya tempelan selewat-selewat saja, seolah bukan hal penting dalam hidup Freddie Mercury. Ya dimana ada Freddie, di sana ada Paul.

Padahal sungguh banyak milestone di saat-saat itu. Terutama jika dikaitkan dengan politik homoseksual di Inggris, yang bisa ditarik mundur sedikit ke aturan pembebasan seksual di tahun 1970. Sebab kita sama-sama tahu bahwa Freddie hidup di masa ketika power kaum homoseksual baru menggeliat, antara lain: International Gay Association (IGA) berdiri tahun 1978 di Inggris, yang mana ini dianggap sebagai kelanjutan dari konferensi gay-lesbian Trades Union Congress (TUC) pertama yang terjadi tahun 1977.

Atau bagaimana soal diskriminisasi ras? Freddie berasal dari keluarga imigran miskin, tidakkah dia mengalami tindakan rasis di sekitar kehidupannya? Kecuali bentakan “Paki” di awal film, rasanya tidak ada lagi adegan yang menggambarkan itu. Padahal momen-momen ini bisa diangkat karena merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup seorang Freddie. Mungkin idealnya harus ada penggambaran masa kecil dia di Zanzibar? Atau sekolahnya di Bombay? Pasti ada sesuatu yang membuat dia memilih jalur musik.

Atau, ini yang jelas fatal: kalau ini Biopic Freddie maka tidak ada penggambaran soal dedikasi Freddie kepada musik, bagaimana dia merawat ambisi-ambisinya, bagaimana dia berlatih (Freddie pasti sering berlatih nyanyi, kan? Nggak mungkin tiba-tiba bagus, ini bukan game The Sims), mungkin satu-satunya penggambaran dedikasi dia pada musik adalah sebuah lagu yang dia tulis di selembar kertas dan terus dilipat di sakunya saat bekerja. Artinya, film ini secara “lucu” menggambarkan suara bagus Freddie hanyalah sebagai hadiah alami dari Tuhan, yang sekaligus juga merupakan kutukan. Ia dilahirkan—seperti kata Freddie—dengan empat gigi seri tambahan, dan ruang mulut yang lebih besar adalah alasan untuk rentang vokalnya yang besar.

MV5BMjIyOTI5NTEtZDM4ZC00OTBkLWJkNmEtY2JiYmE2YmU5M2EyXkEyXkFqcGdeQXVyNDg2MjUxNjM@._V1_SX1777_CR0,0,1777,840_AL_

Mungkin lantas ada yang bicara: Ini kan film soal Queen, bukan soal Freddie. Oke baiklah, kalau begitu juga ada beberapa elemen penting dalam perjalanan Queen yang juga tidak tergambar dengan baik.

Kita mulai dari hal “kecil“, ributnya Queen dengan band Sex Pistols itu cukup jadi bahan pembicaraan para fans. Sex Pistols kabarnya agak cemburu pada popularitas Queen, sebaliknya Queen juga tidak menganggap lagu-lagu Sex Pistols. Bahkan di tahun 1977 Sid Vicious sambil mabuk menantang Freddie berkelahi ketika dua band ini “terpaksa” harus rekaman di studio yang sama. Jika ini adalah biopic Queen, maka urusan dengan Sex Pistols ini layak masuk

Atau hal besar: fase breakup nya Queen, di awal 80-an. Sebenarnya di fase ini, bukan cuma Freddie saja yang menelurkan proyek Solo. Tapi Roger Taylor juga merilis solo album bertajuk “Strange Frontier”, Bryan May bekerjasama dengan Eddie Van Halen merilis mini-album bertajuk “Star Fleet Project”, dan John Deacon bekerja sama dengan Man Friday & Jive Junior merilis single “Picking Up Sounds”. Jika memang film ini adalah biopic Queen, maka cerita anggota band lain juga layak masuk. Bukan hanya cerita Freddie saja.

Ini Biopic Lagu-Lagu Queen

Akhirnya saya menyadari bahwa Bohemian Rhapsody sebenarnya tampil sebagai fragmen-fragmen yang dicacah kecil-kecil untuk menggambarkan behind the chord dari lagu-lagu Queen.

Sepertinya dugaan saya ini tidak meleset-meleset amat, karena setelah menontonnya, saya jadi memandang lagu-lagu itu dari kacamata yang berbeda.

Sekarang, lirik: don’t take it away from me because you don’t know what it means to me di lagu Love of My Life itu punya arti lain, karena ada adegan Freddie mengajukan pertanyaan tentang hal tersebut pada Paul Prenter. Tiba-tiba tergambar pula di benak saya besarnya cinta Freddie pada Mary.

Seiring dengan itu, teriakan Freddie di lagu Who Wants To Live Forever: Who dares to love forever when love must die? Membuat saya mempertanyakan arti cinta sendiri, terutama dalam hubungan Freddie dengan Paul. Cinta mereka mati, karena Freddie “pindah ke hati” Jim Hutton. Kalau cinta memang bisa mati, maka untuk apa mencintai dengan setengah mati?

Saya juga seolah baru sadar bahwa John Deacon sendiri yang menciptakan lagu Another One Bites the Dust, pantas lagu itu diawali dengan betotan bass. Atau bagaimana lagu We Will Rock You yang sangat terkenal itu diawali dari kegelisahan Brian May tentang “melibatkan penonton” dalam sebuah lagu. Lagu ini jelas merupakan respon Brian pada sebuah event saat mereka konser di Stafford’s Bingley Hall sebagai bagian dari A Day at the Races Tour sekitar tahun 1976.

Brian May: “We did an encore and then went off, and instead of just keeping clapping, they sang “You’ll Never Walk Alone” to us, and we were just completely knocked out and taken aback – it was quite an emotional experience really, and I think these chant things are in some way connected with that.”

Atau adakah yang menyadari bahwa lagu Bohemian Rhapsody (yang muncul dua kali di film ini) sebenarnya menggambarkan kehidupan Freddie secara nyaris utuh? Saat dia berkata: Is this the real life? Is this just fantasy?, saat dia berkata: I’m just a poor boy, I need no sympathy, saat dia berkata: Any way the wind blows doesn’t really matter to me, saat dia berkata: So you think you can stone me and spit in my eye?, saat dia berkata: Too late, my time has come, dan pamitannya Freddie saat dia berkata: Goodbye, everybody, I’ve got to go, Gotta leave you all behind and face the truth.

Mungkin memang film Bohemian Rhapsody tidak diciptakan untuk menceritakan Queen atau Freddie secara utuh, tapi bisa digunakan untuk memahami lirik-lirik lagu mereka dan hubungannya dengan kehidupan personal Freddie Mercury. Entahlah, setidaknya itulah yang saya tangkap saat selesai menontonnya.

Akhirnya: Good Thoughts, Good Words, Good Deeds

Satu pesan ayah Freddie di dalam film ini: Good Thoughts, Good Words, Good Deeds, pikiran yang baik, perkataan yang baik, perbuatan yang baik. Saya menduga pesan inilah yang djadikan “poros” dari skenario Bohemian Rhapsody.

MV5BNWIxNzZlY2ItMGI1YS00NTYyLWE1MDctMzJhYWE2MGY0N2U5XkEyXkFqcGdeQXVyNjc0NzQzNTM@._V1_SX1777_CR0,0,1777,823_AL_

Karena diceritakan setelah semua “kekacauan” yang terjadi dalam hidup Freddie, setelah dia berantem sama grup band nya, setelah dia jadi homo, setelah dia kena AIDS (walaupun aslinya Freddie baru menyadari bahwa dia kena AIDS di tahun 1987, sementara konser Live-Aid berlangsung tahun 1985), drama kehidupan Freddie ditutup dengan Queen menyanyi tanpa dibayar dalam sebuah konser amal, seperti sebuah penggambaran dari “Good Deeds” yang selama ini diharapkan oleh Ayahnya. (Ada adegan dimana Freddie dan Ayahnya berpelukan, dan ayahnya tampaknya sudah nrimo Freddie apa adanya)

Jika film ini adalah perjalanan kehidupan, maka Freddie mencatatkan akhir yang baik (setidaknya di dalam layar). Setelah dia digambarkan melakukan hal-hal buruk dalam hidupnya maka scene terakhir adalah momen saat Freddie melakukan hal baik. Apalagi setelah scene konser Live-Aid, credit title naik, dan meninggalkan informasi bahwa Freddie Mercury sudah meninggal.

Jika memang itu maksudnya, maka saya mengatakan bahwa film ini menutup kisah Freddie dengan khusnul khotimah. Mungkin, Bohemian Rhapsody memang ingin mengajarkan bahwa apapun yang kamu lakukan, segila apapun yang kamu perbuat, selalu akhiri dengan hal baik, supaya kamu tetap dikenal sebagai orang baik. Selamat jalan Freddie.[]

Share This:

Related posts:

Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton
Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain. Bukan apa-apa, sebuah ...
Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalnya ...
Rumah Putih #3: Indonesia tak Pernah Memilih
“Indonesia memilih….” teriak Atta dan Irgi, lalu mereka diam, menyebarkan suasana tegang ke seluruh arena. Kamera mensyut wajah Mike, Judika, lalu menjauh, menyorot empat sosok itu. Sesaat kemudian, k...
2012: Indonesia Perlu New Wave Lagi
Sebenarnya, new wave adalah sebuah istilah ciptaan media sebagai sebutan pada sebuah kegiatan pembaharuan dunia perfilman di suatu negara. Ciri-cirinya sama yaitu pertama, selama beberapa tahun perfi...
Goodbye Dragon Inn
Bulan Desember ini saya memang sudah rencana untuk menonton film-film dengan ritme yang lambat. Tidak ada alasan khusus. Euh... ada sih... yaitu untuk lebih menghayati kesendirian, kesepian, dan kerin...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *