Bad Times at the El Royale: Antara Imaji, Cermin, dan Ironi

Saat pertama kali saya lihat trailer film ini di Twitter, saya langsung masang niat untuk nonton. Penyebab utama adalah saya tertarik pada ceritanya, karena kebetulan novel keenam saya, Meja Bundar, punya tema yang mirip-mirip: orang-orang yang memendam rahasia berkumpul di satu tempat, lambat laun dengan caranya masing-masing rahasia mereka saling terbuka, dan ending ceritanya adalah pertaruhan kematian. (Silahkan beli jika penasaran #iklan)

Pada hari pemutaran, saya datang ke bioskop tidak dengan persiapan apapun, membaca sinopsisnya pun tidak, apalagi membaca review-reviewnya. Modal saya cuma trailer itu saja. Paling ngecek-ngecek info di app Cinema21 bahwa durasi film ini sekitar 140 menit, genrenya mystery & suspense, dan secara borongan Drew Goddard menjadi penulis skenario, sutradara, dan produsernya. Wah, triangle system dia ambil semua?

Saat mengetahui itu, saya mulai bertanya-tanya: apakah Goddard punya teman diskusi atau sparring partner terutama saat fase pra-produksi? Sebuah fase yang vital dan biasanya diwarnai diskusi (baca: perkelahian) mati-matian dari ketiga pemangku jabatan tadi. Kalau semua diambil satu orang, yang ada dia malah berdebat dengan diri sendiri dong?

Tapi ya tak apalah, lupakan! Toh Goddard juga bukan anak kemaren sore di dunia perfilman Hollywood. Pasti dia tahu apa yang dilakukan.

Sebenarnya Goddard ini lebih banyak dikenal sebagai penulis skenario ketimbang sutradara; dan ternyata saya pernah menonton beberapa film dari skenario dia. Sebut saja: World War Z (Marc Forster, 2013), Cloverfied (Matt Reeves, 2008), dan tentu saja serial Buffy the Vampire Slayer yang tayang sekitar 2002-2003 (tua banget deh gue). Film debut Godard sebagai sutradara adalah The Cabin in the Woods (2012), yang malah saya belum saya tonton. Sederhana sih, saya tidak suka horor! ūüėÄ

Dengan referensi-referensi seperti atas, plus mengamati trailer, saya mulai menduga bahwa meski Bad Times at the El Royale masuk genre film mystery & suspense, tapi film ini juga dibangun dengan elemen horor.

Dugaan itu ternyata juga tidak teralu salah, karena sepanjang film saya menemukan banyak tone, lighting, dan gerakan kamera yang biasa ada di film horor. Misalnya: ada satu adegan ketika Miles (Lewis Pullman) berdiri di sebuah lorong gelap dan bicara pada Pendeta Flynn (Jeff Bridges), itu jelas-jelas rasanya horor banget, karena sosok Miles tampak seperti sebuah bayangan saja. Bayangkan: sebuah bayangan yang bicara, di dalam sebuah lorong gelap. Saya hampir berpikir bahwa setelah bicara tiba-tiba saja kepala Miles putus dan darah menyembur memenuhi layar. Untung bukan itu yang terjadi.

MV5BOTExYTI5YTgtNWUzYy00NDdhLWJiODQtNDRlYTU4NzE1YjQ0XkEyXkFqcGdeQXVyNDg2MjUxNjM@._V1_SY1000_SX1500_AL_

Kalau mau bicara dua hal yang menarik, saya garis bawahi dua hal: seting tempat dan karakter tokoh.

Secara seting tempat, El Royale adalah hotel sangat menarik: sebuah hotel tua yang lobby nya terbelah dua oleh garis batas antara negara bagian Nevada dan California. Karena terbelah dua, maka hotel itu pun jadi punya dua aturan, misalnya di Nevada boleh jual miras sementara di California nggak (itu sebabnya bar mereka ada di sisi Nevada), atau di salah satu negara bagian ada aturan soal judi, maka mereka menempatkan kasino di sisi negara bagian yang tidak ribet undang-undang judinya. Begitu juga harga kamar di California pasti lebih mahal satu dolar karena ada urusan pajak, seperti itu deh contohnya, saya juga agak lupa lagi.

Di tempat seperti itu, ‚Äúsecara kebetulan‚ÄĚ pada suatu hari ngumpullah beberapa orang:

Yang pertama muncul adalah Pendeta Daniel Flynn dan seorang penyanyi bar bernama Darlene (Cynthia Erivo). Mereka mengobrol di teras hotel, lalu masuk ke lobby dan menjumpai seorang salesman bernama Seymour (Jon Hamm). Ketika mereka bertiga sedang mengurus pendaftaran pada resepsionis bernama Miles, tiba-tiba datang seorang perempuan hippie bernama Emily (Dakota Johnson, yes Fifty Shades of Grey star in here! Asal tau aja, Dakota Johnson sudah mulai mengganggu pikiran saya sejak muncul sambil bercelana super-pendek di film The Social Network)

Kelima orang ini berkelindan sepanjang cerita, dan seiring durasi akan muncul juga tokoh-tokoh lain, misalnya Rose (Cailee Spaeny) dan Billy Lee (Chris Hemsworth) sehingga total ada tujuh orang yang punya urusan di tempat ini. Untuk keadilan kepada yang belum nonton, saya tidak akan memberi tahu siapa mereka atau apa tujuan mereka ada di El Royale malam itu. Silahkan cari sendiri; dan inilah keribetan nulis review film misteri. Saya benar-benar tidak boleh bilang apapun tentang aspek-aspek misterinya, saya nggak boleh bilang siapa yang mati, atau matinya kenapa, karena nanti malah nggak rame. ūüėÄ

Tapi ya udah kagok ketahuan sih, nanti ada beberapa orang di sini yang mati, dibunuh. Soal kenapa mati dan dibunuh sama siapa, bisa nonton sendiri aja.

MV5BMjQ0YTU4ZjMtY2YwNS00MmFhLTk3ZDMtMzI3ZDQ4MzBkMDhmXkEyXkFqcGdeQXVyNTc5OTMwOTQ@._V1_SY1000_CR0,0,1500,1000_AL_

Setelah seting yang menarik, kita bicara soal karakter ketujuh orang yang tadi namanya sudah disebut di atas. Saya tidak akan menguraikan karakter mereka satu persatu, buang waktu, dan kalau teman-teman nonton juga nanti kebayang sendiri, Tapi satu catatan saja: saya kira dalam proses penulisan skenarionya, Goddard benar-benar menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk menyempurnakan karakter tiap tokoh. Bukan cuma karena karakter mereka kuat, tapi juga karena proses keterbukaan karakter dan cerminan karakter yang tidak bisa diabaikan begitu saja. (iyaaaaa, bahasa rumit,  saya tahu!)

Sejak tokoh pertama muncul, Goddard mencicil informasi-informasi tentang mereka. Terkadang informasinya bertumpuk, karena karakter yang satu pun belum tergambar utuh penonton malah sudah disuguhi potongan puzzle dari karakter lain.

Bahkan sebenarnya sesuai pengamatan saya, setiap¬† karakter di film ini sebenarnya punya “dua wajah”, antara karakter‚ÄĒyang ditampilkan di‚ÄĒpublik, dan karakter‚ÄĒdengan tujuan masing-masing dari‚ÄĒpribadi mereka. Hingga terus terang saya beberapa kali tersesat pada kesimpulan sendiri, saya kira tokoh A itu begini, ternyata begitu. Setiap muncul potongan puzzle baru saya langsng menduga-duga, dan ternyata tebakan saya banyak yang meleset.

Jadi semua karakter datang ke dalam frame dengan menggenggam rahasia masing-masing, yang lambat laun seiring cerita berjalan rahasia-rahasia itu mulai terbongkar. Ini seperti orang main kartu, mereka pada awalnya memegang kartu masing-masing, ditutup sedemikian rupa hingga orang lain tidak bisa melihat. Tapi lambat laun semua terbuka di atas meja, dan penonton bisa dengan jelas melihat siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Sebuah kerja plot yang bagus dari Goddard, karena apa artinya kita menulis cerita yang endingnya sudah diketahui orang lain? Iya kan?


Cerminan Imaji Antar Karakter

Lalu, lebih jauh dari itu karakter yang kuat tapi kemunculannya dicicil, Goddard juga sangat memikirkan konsep hubungan antar karakter. Saya lihat secara simbol, garis merah yang membelah hotel menjadi dua itu bukan sekadar garis, tapi simbol dari sesuatu yang lebih besar lagi: membentuk kesimetrisan yang bercermin satu sama lain.

Bagaimana perspektif dari garis merah simetris ini? Ternyata jika dipikirkan, Goddard membentuk sebuah hubungan karakter yang luar biasa antara ketujuh orang ini. Sesuatu yang saya sebut cerminan karakter. Bahwa sebuah karakter adalah cerminan imagi karakter lain, dan itu artinya tidak ada satupun karakter yang berdiri sendiri. Siapapun yang sempat mempelajari teori image dari Frank Jefkins tahu bahwa ada lima jenis image diri, tiga diantaranya adalah: Mirror Image, Current Image, dan Wish Image. Saya menduga, dengan menggunakan teori inilah Goddard memainkan penokohannya.

Agak rumit menjelaskannya, dan saya tidak mau spoiler, tapi kurang lebih begini: saya melihat karakter Flynn merupakan cermin sempurna dari Darlene. Jadi meski mereka beda profesi, latar belakang, dan warna kulit (kabarnya, peran Darlene awalnya akan dimainkan oleh Beyonce), mereka berdua ternyata punya ‚Äúketaktisan bertindak‚ÄĚ yang sama. Apa yang dilakukan oleh Darlene, akan menimbulkan efek pada Flynn.

SPOILER

Terbukti dengan kesamaan karakter itu, hanya mereka berdualah yang selamat bisa keluar dari El Royale.

[collapse]

Atau cermin ini juga bisa dilihat jelas pada hubungan aneh antara kakak-adik Emily ‚Äď Rose, love-hate mereka jelas sekali. Dimana Emily percaya pada Wish Image dari Rose, dan sebaliknya Rose mempertahankan Current Image nya di wajah Emily.

SPOILER

Hubungan yang kacau balau ini menimbulkan sebuah pengkhianatan yang membuat mereka berdua jadi korban. Jadi jika hubungan karakter dari Flynn-Darlene menyelamatkan mereka, tidak begitu yang terjadi pada hubungan Emily-Rose.

[collapse]
Atau hubungan imaji yang paling bikin saya kaget sebenarnya yang terjadi pada karakter Billy Lee dan Miles. Karena sebenarnya mereka saling bercermin satu sama lain meski dengan imaji yang berlawanan. Jika Billy Lee adalah orang yang rapuh di dalam tapi casing nya tegar (dan kekar), maka Miles adalah orang yang tegar dan berani tapi terbungkus dalam fisik ‚Äúkutu buku culun‚ÄĚ.

SPOILER

Hubungan karakter ini membuat Miles membunuh Lee, tapi Miles juga terbunuh oleh Rose yang jelas merupakan “kembaran” dari karakter Billy Lee.

[collapse]

MV5BZTI1NGNlNTUtZTNjMC00ZGNmLWE5YzktZmU0MTg2NDA2Y2NiXkEyXkFqcGdeQXVyNTc5OTMwOTQ@._V1_SY1000_CR0,0,1500,1000_AL_

Ironi: Hotel El Royale Bukanlah Tempat Bersantai

Begitulah, Bad Times di El Royale adalah sebuah film dengan multiplot, sesuatu yang beresiko (apalagi setting tempatnya hanya satu) namun ini adalah konsep plot yang memang diperlukan untuk mengisi slot 140 menit tanpa menimbulkan kebosanan.

Saat menontonnya, pada awalnya kita akan merasa semua hal terlalu samar dan kabur, tapi begitu kita berhasil menyambungkan benang-benang merah di sana, maka film itu berubah menjadi sebuah cerita berdarah dengan plot yang nyaris tanpa penyelesaian kecuali dengan kematian. (Love that!)

Di Hotel El Royale, semua karakter di sana bisa masuk dengan mudah, tapi tidak bisa keluar tanpa mengorbankan sesuatu.

Satu lagi, saya memuji Goddard yang bisa menyajikan simbol-simbol yang menunjukkan ironi, baik secara visual atau teks. Bahkan nama hotelnya pun sudah terasa ironis: El Royale (adj. French: royal; superior baik dalam ukuran atau kualitas), tapi hotelnya sendiri adalah hotel tua dengan sisa-sisa keagungan masa lalu, sudah tak layak lagi menyandang nama ‚ÄúRoyal‚ÄĚ.

Lalu bukankah hotél yang sepi tentu menjanjikan ketenangan bagi penghuninya? Lagi-lagi ironinya tampak jelas: di El Royale, aturan itu tidak berlaku. El Royale yang sepi bukanlah tempat untuk tidur malam yang nyenyak. Ini adalah tempat berbenturannya intrik, keputusasaan, dan pertumpahan darah.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Death Bell: Ini Film Slasher Pendidikan?
Film Death Bell dari Korea ini adalah karya Kim Sang Man (ditulis di kotak DVD) atau Yoon Hong-seung (ditulis di situs resminya) yang rilis tahun 2008. Film ini sebenarnya termasuk ke genre slasher. S...
Coraline... Bukan Caroline!
Sekarang saya bakal ngomongin salah satu film horor yang bikin betah ditonton. Yah sebenarnya saya ini rada alergi sama film horor, kecuali kalau dijebak teman seperti kasus ini. Namun khusus untuk Co...
Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Basic Instinct Itu Menyehatkan Mata
Karena saya lagi nulis novel yang ada unsur psikopatnya, maka saya merasa wajib nyari banyak literatur soal kehidupan seorang psikopat. Kalau dari baca buku sudah, e-book novel soal pembunuhan numpuk ...
Django Unchained: Happy Ending versi Holywood
Salah satu sutradara‚ÄĒmungkin malah satu-satunya‚ÄĒyang saya suka adalah Quentin Tarantino. Walaupun saya kenal karya dia agak telat, yaitu dari Kill Bill I (2003). Kalau sutradara lain saya jarang mempe...
Kronik Sebuah Kota Tuhan
Dua hari yang lalu, selang-seling mengurus pekerjaan, saya untuk kesekian kalinya menonton film City of God (Fernando Meirelles, 2002), sebuah film Brasil yang bercerita tentang realita kehidupan jala...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *