Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa?

Beberapa waktu yang lalu saya ikut sebuah acara Family Camp di daerah Sangatta. Sebenarnya pas awal-awal tahu acara ini, saya malas ikut. Kadang kalau jiwa introvert saya lagi kumat, saya memang berpikir untuk lebih banyak tidur di rumah ketimbang keluar dan ketemu orang baru; dan pergi ke sebuah acara Family Camp tentu memaksa saya untuk berjumpa dengan banyak orang. Sesuatu yang terkadang sedikit menyebalkan. Apalagi saya orangnya sulit sekali fokus pada hal lain jika sedang punya tulisan yang belum selesai, dan kali ini kebetulan ada deadline novel yang sedang saya kejar.

Tapi berkat kegigihan istri—dan merayu dengan cara-cara yang tidak usah diceritakan di sini—akhirnya saya bersedia ikut. Istri senang, dan saya berpikir, “Baiklah, sesekali boleh keluar dan bersosialisasi, toh sebenarnya target bab-bab novel yang sedang digarap juga sudah rampung. Sisanya bisa menunggu.” Maka jadilah saya berangkat ke acara tersebut. Ikut mobil teman yang juga jadi peserta

Acara itu sebenarnya merupakan sebuah konsep camping (a.k.a bermalam di udara terbuka) sambil diisi kelas-kelas teori unruk “menyuntikkan” konsep parenting dan metode pendidikan anak. Diampu oleh dua pakar pendidikan keluarga, Pak Dodik Mariyanto dan Bu Septi Peni Wulandani (yang belum tahu dua nama ini, mending Googling sendiri ya, mereka orang-orang keren kok), ikut pula dua anak mereka: Ara serta Enes sebagai pengampu materi buat anak-anak. Jadi ceritanya anak dan orang tua kelasnya terpisah. Begitu.

Setelah dua hari mengikuti acara ini, ternyata saya mendapati bahwa ikut acara tersebut merupakan salah satu keputusan paling tepat dari sekian sedikit keputusan dalam hidup saya. Bukan saja saya bisa menerima materi yang diberikan secara tepat—saya sering sekali keluar dari sebuah acara ketika narasumber tidak memberikan materi secara benar, biasanya terlalu menggurui atau malah membahas kelebihan hidup dia—namun juga saya mendapat pencerahan serta arah yang lebih benar untuk menerapkan pendidikan pada anak-anak saya.

Sebab, sejak tahun kemarin saya dan istri sepakat untuk mulai menerapkan homeschooling bagi kedua anak kami; dan itu bukanlah keputusan yang mudah. Memindahkan konsep—yang dicekoki sejak kecil—sekolah formal ke homeschooling itu perlu persiapan luar biasa, yang bahkan hingga tulisan ini dibuat pun kami belum bisa melaksanakannya dengan tepat. Terkadang saya merasa tersesat dan putus asa melihat betapa pendidikan anak saya tidak maju-maju. Sering terpikir untuk kembali saja ke sekolah formal, tapi sekuat tenaga saya tahan, karena masih merasa bahwa konsep ini adalah konsep paling tepat bagi kami, hanya saja: pelaksanaannya belum tertata dengan sempurna

Akhirnya, saat pulang saya bisa membawa beberapa bahan pemikiran baru. Ini juga yang saya suka, Pak Dodik dan Bu Septi tidak mendoktrin kita dengan teori apapun, apalagi belibet dengan “kata-kata pakar”. Mereka hanya mengajukan hal-hal tertentu untuk kita pikirkan bersama, yang mana kalau kita mau ya silahkan jadikan bahan pemikiran pribadi, kalau tidak mau ya sudah buang saja. Sama sekali tidak ada paksaan.

Nah, sejauh ini ada empat hal penting yang terus menerus saya pikirkan, sampai sekarang. Keempat hal itu adalah:

(1) Homeschooling atau Sekolah Formal?

Seperti yang sudah disebut di atas tadi, kedua anak saya mengikuti pendidikan homeschooling, sementara di luar sana masih banyak yang anaknya diikutkan pada pendidikan formal di sekolah-sekolah konvensional. Pertanyaan yang sering muncul adalah: manakah yang lebih baik? Secara halus—yes, secara halus, kami belum seatraktif pendukung Jokowi atau Prabowo—fans kedua kubu seringkali berusaha menonjolkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki kedua konsep ini.

Padahal saya menangkap bahwa di sini, semuanya hanya mengenai pilihan. Tidak ada gunanya memperdebatkan mana yang lebih baik: homeschooling atau sekolah formal, sebab di luar itu semua, ada satu hal yang lebih penting untuk diperhatikan, yaitu: HOME BASED EDUCATION, atau pendidikan di rumah, saat anak-anak kita sedang ada di luar jam belajar.

Anggaplah sekolah formal punya tujuh jam belajar, sementara homeschooling punya tiga jam sehari (meski praktiknya tidak begitu, anak-anak homeschooling bisa saja belajar 15 jam sehari, tergantung konsep yang diterapkan serta definisi jam belajar). Nah, mau yang manapun juga anak-anak itu pasti punya waktu di luar jam belajar. Di situlah justru bagian terpenting dari pendidikan anak. Di situlah justru peran orang tua mereka sangat  diperlukan.

Karena saat mereka belajar maka anak-anak itu dilatih skill serta ilmu pengetahuannya, namun dalam jam-jam di luar waktu belajar adalah masa mereka mengalami pembentukan karakter. Sebuah hal yang paling mendasar, yang menentukan ke arah mana ilmu-ilmu mereka kelak diterapkan. Sebab orang pintar dengan karakter yang lemah atau akhlak yang berantakan jelas tidak akan ada gunanya, malah mungkin saja menimbulkan kerusakan.

Di sinilah orang tua harus paham, jangan merasa cukup sudah memberikan anak pelajaran dari buku-buku saja. Tapi yang penting adalah memastikan bahwa anak-anak punya karakter yang cukup baik untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat dari buku tadi. Saat bagian itu diabaikan, jangan heran kalau anak-anak itu akan mencari “pendidikan lain” di luar; yang malah sering membuat orangtuanya merasa asing dengan hasilnya.

[collapse]
(2) Orang Tua adalah Role Model Terkuat

Pendidikan karakter, pendidikan akhlak, atau apapun yang berkaitan dengan sikap mental dan pola pikir anak itu tidak bisa diajarkan. Iya sih banyak buku yang membahas hal itu. Tapi tidak serta merta anak disuruh baca buku lalu kelakuannya jadi membaik. Itulah sebabnya, pendidikan karakter ini tidak bisa diajarkan, karena hanya bisa dicontohkan; dan contoh pertama yang mereka lihat adalah ORANG TUA sendiri. Sebelum mereka bisa membaca buku apapun, mereka akan memandang orangtuanya. Menyerap perilaku orangtuanya.

Kalau begitu, masalah selesai dong? Tinggal orang tuanya saja jaga-jaga kelakuan, terutama kalau di depan anak. Iya sih, namun masalahnya, sedekat apapun anak dengan orang tua, tanpa sadar orang tua sering mengundang “pihak luar” untuk (secara tidak langsung) mengajari anak-anak mereka.

Pihak-pihak luar itu paling mudah masuk lewat Televisi dan Sosial Media. Anak-anak juga punya kecenderungan untuk mencontoh mereka. Dengan hasil yang di luar dugaan (saya tidak bilang jelek ya, cuma di luar dugaan). Misalnya: orang tua angkatan 80-an tidak mengenal profesi Youtuber, tapi anak-anak sekarang sudah langsung paham. Siapa yang mengajari jika bukan “pihak-pihak luar” itu?

Di sinilah perlu kerelaan dari orang tua untuk “turun” ke dunia anak mereka, bukan malah memaksa anak untuk mengerti pola pikir orang tuanya. Gap antara generasi yang terlalu jauh seringkali menghambat hal tersebut. Maka paling orang tua yang sudah pernah mengalami masa usia anak, akan lebih mudah untuk beradaptasi, ketimbang sebaliknya.

 

[collapse]

(3) Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa?

Entah kenapa, saya satu hal yang mengganggu pikiran saya adalah fakta bahwa kelak, hasil akhir dari pola pendidikan anak adalah tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga.

Jadi dalam pemikiran saya, kurang tepat kalau pendidikan anak seluruhnya dibebankan ke istri hanya karena alasan istri lebih sering ketemu dengan anak. Lah, Imam di keluarga itu siapa sih? Bapaknya kan? Ya si Imam ini yang nanti akan memegang tanggung jawab pada hasil akhirnya. Otomatis, harus si Imam ini juga yang memegang pola kendali konsep pendidikan anaknya.

 Atau kasarnya: mau jadi apa anak-anaknya itu ya tanggungjawab Bapaknya
…dan poin ini membawa saya pada pemahaman ke empat

[collapse]

(4) Pendidikan Anak Itu Full Time Project

Pendidikan anak adalah full time project, tidak bisa dijadikan part time. Ya memang benar sih, sejak pertama kali anak kita lahir ke dunia, tugas orang tua sudah dimulai; dan karena mereka hidup 24 jam, sama kayak kita maka pendidikan anak jadi sesuatu yang harus dilakukan selama mereka bernafas..

Yah, lagipula agak tidak masuk akal saja sih, mendidik anak kok part time!

Nah, gara-gara ini saya sempat kepikiran untuk resign dari kerja kantoran dan kerja full di rumah (mengerjakan proyek pribadi) sekalian memperhatikan pendidikan anak-anak, namun setelah dipertimbangkan sepertinya saya belum punya cukup keberanian untuk melakukannya. Entah ini pertanda saya penakut atau realistis.

[collapse]

Itulah pemahaman yang saya dapat setelah mengikuti Family Camp di Sangatta, karena namanya pemahaman pribadi maka ya maaf-maaf kalau tidak cocok dengan pemahaman teman-teman lain. Namanya juga temuan pribadi, maka tentu jadinya sangat subjektif sekali.

Kabarnya sekitar bulan November 2018 nanti ada lagi acara sejenis di Salatiga. Saya sudah punya beberapa pertanyaan baru untuk Pak Dodik dan Bu Septi. Semoga bisa disampaikan secara langsung. Karena makin sini, urusan pendidikan anak dan keluarga ini berubah jadi semakin menarik dan menantang sekali.[]

Share This:

Related posts:

Selamat Datang Cacar Air!
Hehe, sudah dua hari ini saya kena cacar air. Eh beneran, banyak teman yang heran kenapa saya baru ngerasin cacar di umur segini (ga akan bilang umur berapa!) tapi memang yang orang tahu penyakit caca...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Impaksi 01: Apa Sih Impaksi?
Kemarin, untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gusi gara-gara impaksi. Operasi yang pertama sudah agak lama, sekitar Juni 2015. Waktu itu setelah rontgen baru ketahuan kalau gigi saya yang impaksi ...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Nenek Bebek Berkata...
Only boring people get bored! Itu yang nenek bebek pernah katakan, menyebalkan sekali. Perasaan bosan membuat berat semuanya, padahal pekerjaan yang menumpuk (apalagi mengerjakan hobi) harusnya bisa m...
Modal Penting Mencari Kerja
Pada suatu hari di grup alumni STM, ada satu orang teman yang mempost seperti ini: Temans… barangkali punya info lowker di bdg atau lg membutuhkan tenaga kerja di bdg lulusan SMA, pria, jujur, ulet…  ...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.