Potret Politik Dalam Mantra Pejinak Ular

Saya belum terlalu akrab dengan karya-karya Kuntowijoyo, bahkan bisa dibilang Mantra Pejinak Ular adalah novel pertama Kuntowijoyo yang saya baca sampai habis. Ada bagusnya, karena saya jadi tidak punya ekspektasi apapun saat pertama kali membuka novel ini. Saya membacanya dengan “pasrah”, tidak berharap apapun kecuali untuk menikmati sebuah cerita. Beda dengan—misalnya—saat membaca Bilangan Fu karya Ayu Utami, saya masih terbayang-bayang dahsyatnya gaya tutur novel Larung (akhirnya Bilangan Fu membuat saya jatuh kecewa dan sejak saat itu berhenti membaca novel-novel Ayu Utami), atau—yang belum pernah mengecewakan—saat saya membaca 1Q84 nya Haruki Murakami, saya sudah memasang standar gaya bahasa minimal seperti Norwegian Wood.

Novel Mantra Pejinak Ular mengisahkan kehidupan tokoh Utama yang bernama Abu Kasan Sapari, seorang pegawai kecamatan yang “serba bisa”, saya katakan serba bisa karena memang dia ini seolah dijadikan sebagai  seorang tokoh yang menguasai banyak hal dalam hidupnya. Atau mungkin bukan menguasai banyak hal, namun menguasai hal-hal tertentu yang kebetulan sekali diperlukan oleh komunitas masyarakat tempatnya bergaul.

Sekilas, tokoh Abu ini mirip dengan tokoh Wasripin dalam novel karya Kuntowijoyo yang berjudul “Wasripin dan Satinah”. Bedanya, meski tokoh Wasripin digambarkan serba bisa dan menjadi pengayom masyarakat, namun ia kurang pendidikan, terlalu polos, dan menerima takdirnya yang tragis. Sementara Abu adalah orang berpendidikan, pantang menyerah, dan bernasib lebih baik

Kembali kepada Abu Kasan Sapari. Selain bekerja sebagai pegawai Kecamatan, Abu juga seorang dalang. Dengan kata lain, ia adalah seorang seniman. Nah, dari sinilah poin cerita utama dimulai. Dari sikap mental seorang Abu yang murni ingin berkesenian, namun malah menemukan dirinya di tengah-tengah badai pertarungan politik tingkat desa hingga melibatkan parpol-parpol penting.

Abu terjebak antara idealisme pribadinya melawan arus politik di sekitarnya. Karena menurut seorang Abu, seni berbeda dengan politik. Keduanya tak dapat disatukan. Walaupun banyak pada jaman itu maupun jaman sekarang seni menjadi alat untuk berpolitik. Abu justru melawan hal itu.

“Dalang itu seperti halnya ulama, sastrawan seniman, dan ilmuwan tidak boleh menggunakan profesinya untuk kepentingan suatu parpol. Dalang itu bagian dari masyarakatnya dalam arti terikat dengan unggah-ungguh, hukum, dan perundang-undangan persis seperti orang lain, tapi tidak boleh berpolitik melalui parpol. Politik dalam arti pencerahan politik, pendidikan politik, dan kesadaran sebagai warga negara itu sehat untuk kesenian, sebab itulah salah satu fungsi sosial dari dalang. Fungsi lain ialah pencerahan moral, etika, kesadaran hukum, kesadaran lingkungan, kesadaran bermasyarakat, dan sebagainya.” (hlm. 154-155)

Poin inilah yang tampak diperjuangkan oleh Abu dengan susah payah. Bisa dibilang begitu karena seringkali Abu terpaksa bergerak sendiri di tengah orang-orang sekitarnya yang belum paham akan idealismenya. Beberapa kali ia terpaksa menerima ganjaran karena bersikeras mendalang dengan/ tanpa memperhatikan arus politik. Misalnya dengan diberhentikan dari jabatannya dan dipindah ke daerah lain hanya karena di daerah tersebut calon dari “Mesin Politik” tidak meraih dukungan 100%, ditambah lagi ada media yang mengompor-ngompori bahwa politik di sana tidak murni karena sudah terpengaruh oleh kesenian; dalam artian ini adalah wayangan, karena Abu pernah diminta oleh salah satu paslon yang “non mesin politik” untuk mendalang saat masa kampanye. Bagi Abu, mendalang ya mendalang tidak peduli siapa yang meminta, tapi dalam politik ternyata situasinya tidak sesederhana itu.

Dari situlah nama Abu di dunia politik menjadi dikenal, lebih-lebih dia pula mendalang untuk salah satu calon kandidat pemilihan lurah yang tidak ditunggangi oleh mesin politik. Tanpa sadar ketika itu seorang wartawan lokal menyiarkan beritanya, dengan bumbu-bumbu yang Abu sendiri tidak mengetahuinya. Alhasil awal mula pertentangan Abu dengan mesin politik pun dimulai. Abu mesti menjalani pemindahan daerah, perang ideologi-komunitas dalang yang dia dirikan dengan teman-teman dalang lainnya, serta Abu tanpa alasan yang jelas mesti mendekam di penjara atas fitnah “Mesin Politik” selama berhari-hari sampai ia dibuktikan tidak bersalah.

Konflik inilah sebenarnya yang diangkat oleh Kuntowijoyo. Sehingga dalam hal ini, saya menganggap scene-scene yang menggambarkan hubungan antara Abu dengan seorang janda cantik bernama Lastri, juga tentang mantra pejinak ular yang dimiliki Abu hasil “warisan” dari seorang kakek tak dikenal, itu bisa jadi merupakan sebuah  suatu alegori atau dapat pula dianggap sebagai sebuah red herring, yaitu suatu fragmen cerita yang bisa mengarahkan pembaca membuat pembaca terdistraksi dan teralihkan dari konflik cerita yang sesungguhnya.

Bagi saya, Mantra Pejinak Ular adalah cerita yang menarik dalam usahanya menggambarkan situasi politik di era Orde Baru. Terutama karena Kuntowijoyo tidak bermain di ranah politik elit, namun menampilkan keadaan sosial-politik di tingkat mikro yang terjadi pada masyarakat pedesaan yang masih tradisional. Sesuatu hal yang bisa lebih dipahami bagi sebagian besar pembaca. Termasuk saya.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Mustahil Ngerem Omongan Orang
Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yan...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...
Latte, Adalah Kopi Saya Hari Ini
Seorang senior saya di Forum Lingkar Pena—saya pernah menyebut namanya di tulisan ini—pernah berkata: Kalau kamu ingin menulis tapi merasa lelah, ya istirahat dulu. Tapi kalau kamu ingin menulis tapi ...
Mengapa Menulis Tentang Kematian?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Di novel ini saya membahas tentang kematian, atau lebih tepatnya tentang tiga orang yang berusaha men...
Istri Dewa Dapur
Seberapa sering kita menemukan buku yang menceritakan dengan cukup tepat tentang perasaan-perasaan kita? Saya pertama kali melihat novel “The Kitchen God’s Wife” di tahun 1994. Waktu itu saya masih k...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.