Dataran Tortilla: Semua Selesai dengan Anggur

Sejak pertama kali membaca novel Dataran Tortilla, saya sudah langsung jatuh cinta pada isinya. Eh, sebenarnya saya sendiri belum yakin ini lebih layak disebut novel atau kumpulan kisah. Karena tipe penceritaan di dalam buku ini terbagi ke dalam tujuhbelas bab, yang seluruhnya disambungkan dengan benang merah seorang tokoh bernama Danny dan kawan-kawannya (Pilon, Pablo, Big Joe, Bajak Laut dan Jesus Maria). Mirip dengan plot Mimpi-mimpi Einstein karya Alan Lightman, yang meski disebut novel tapi berisi kumpulan kisah. Bedanya, jika kisah-kisah di dalam Mimpi-Mimpi Einstein seolah terlepas satu sama lain, maka di Dataran Tortilla kisah-kisahnya tampak lebih menyatu dan jelas awal akhirnya.

Kembali pada tokoh-tokoh yang disebutkan di atas. Nama-nama di atas itu adalah para lelaki yang menjadi bagian dari masyarakat paisano (orang-orang berdarah campuran Spanyol, Indian, Meksiko, dan ras Kaukasia yang menurut sejarah sudah berdiam di dataran itu selama dua ratus tahun lebih).

Entah memang Paisanos yang asli memang hidup seperti Danny dan kawan-kawan atau tidak, namun jelas saya lihat mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat menarik. Mereka semua bukannya jenis manusia yang hidup tanpa aturan, tapi mereka malah hidup dengan aturan sendiri yang sulit dipahami oleh orang “normal”. Sebuah kehidupan yang hanya bisa dijalani dengan spontanitas serta pemikiran sederhana; yang ketika dijalani, ternyata itu semua membuat hidup jadi tampak menyenangkan. Terutama karena satu hal sederhana: seolah semua masalah di tangan mereka akan selesai dengan segalon anggur.

Bahkan bisa disebut bahwa Danny dan kawan-kawannya itu hidup hanya untuk dua hal: persahabatan dan anggur, atau anggur dan persahabatan. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah keluyuran ke manapun nasib membawa mereka. Mereka tidak diperbudak agenda-agenda dan target-target. Lebih lagi, mereka tak banyak pikir tentang masa depan

Dalam sekejap saja, novel ini menjadi salah satu novel favorit saya. Ini novel komedi, jelas sekali, karena elemen komedi (set-up, punchline, incongruity)  sangat jelas sejak bab pendahuluan. Misalnya ketika Danny berniat mendaftar tentara, Sersan kepala yang bertugas di bagian pendaftaran bertanya, “Kau bisa apa?”, Danny menjawab “Aku bisa mengerjakan apa saja.”. Sersan itu bertanya lagi, “Sebelum ini apa pekerjaanmu?”, Danny menjawab, “Aku tukang keledai.” Ternyata alih-alih menjadi tentara seperti yang dibayangkan pembaca, jawaban itu malah membuat Danny langsung dikirim ke Texas untuk menggembalakan keledai-keledai milik si Sersan tadi.

Salah satu bagian yang membuat saya tertawa ngakak adalah ketika adegan rumah Danny terbakar (dia punya dua rumah, satu ditinggali olehnya, satu lagi ditinggali oleh Pablo dan Pilon), saat itu Jesus Maria lari menembus udara malam dan memberitahu Danny, “Rumahmu terbakar! Rumah tempat Pablo dan Pilon!”, mendengar itu Danny membuka jendela kamar dan malah balik bertanya, “Apakah pemadam kebakaran sudah ke sana?”, Jesus Maria menjawab, “Sudah!”, Danny lalu menjawab ketus, “Huh, kalau pemadam kebakaran tak mampu berbuat apa-apa, aku disuruh apa oleh Pilon?” setelah itu dia malah membanting jendela, dan tidur lagi, meninggalkan Jesus Maria dalam kebingungan.

Begitulah karakter Danny dan sahabat-sahabatnya dalam mengarungi kehidupan sehari-hari mereka, easy going dan tidak dibebani target apapun. Salah satu buktinya, bisa dilihat saat Danny memkirkan rumahnya yang terbakar tadi. Dengan tenang ia malah berkata, “Bila rumah itu masih ada, pasti aku masih memiliki rasa tamak atas sewa rumah, dan kawan-kawanku akan akan bersikap dingin terhadapku karena mereka berhutang padaku. Kini dengan lenyapnya rumah itu, kami kembali bebas dan bahagia lagi.

Sebuah konsep berpikir yang sangat easy going sekaligus tidak waras jika dilihat dari kacamata manusia kebanyakan.

Lalu salah satu yang paling menonjol dalam karakter-karakter di dalam cerita ini adalah cara mereka memperlakukan hidup dan menggunakan waktu. Mereka semua tidak melihat waktu sebagai beban. Mereka tak mengenal efisiensi dalam penggunaan waktu. Mereka hidup sesuka hati tanpa mengindahkan norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan sebagaimana yang kita kenal di masa sekarang. Memang kalau dipikir-pikir, Danny dan kawan-kawannya ini adalah kelompok masyarakat yang tidak punya kelas. Orang kaya bukan, orang miskin bukan, orang biasa-biasa pun bukan. Terinklusi dalam tatanan nilai moral masyarakatnya pun tidak! Tapi mereka bisa sangat humanis dengan kekomunalan dan solidaritasnya.

Bahkan, karakter ini bukan hanya melekat pada Danny, dan kawan-kawan saja, tapi juga soal para tetangga mereka, misalnya: Teresina (seorang perempuan yang selalu hamil dan yakin bahwa tanpa laki-laki pun dia bisa hamil, dia percaya kesembilan anaknya masih bisa makan asal ia masih boleh memunguti kacang polong yang lepas dari mesin tresher), atau Si Manis Ramirez (yang percaya bahwa kepemilikan mesin penyedot debu membuat martabatnya naik sekian kali lipat dari perempuan lain, meski dia tahu rumahnya belum dialiri listrik).

Membaca novel ini, membuat saya sadar bahwa Danny dan teman-temannya ini bukanlah orang-orang bengal yang tidak peduli dengan hidup. Mereka memang tak peduli dengan rencana-rencana besar, namun mereka semua yakin bahwa esensi hidup adalah petualangan menghadapi apapun yang hadir di depan mata; jadi, yang penting adalah petualangannya, bukan capaian-capaian atau target-targetnya. Paragraf terakhir Dataran Tortilla pun secara sangat filmis berhasil menggambarkan keteguhan tekad manusia dalam memutuskan ke mana ia akan melangkah, serta keberanian manusia untuk meninggalkan sesuatu yang menurutnya sudah selesai dan mesti ditinggalkan.

Saya juga cenderung menganggap bahwa Dataran Tortilla adalah cara dari John Steinbeck mengolok-olok masyarakat modern mengenai rutinitas dan produktivitas pekerjaan harian yang serba teratur dan terukur. Sementara kita semua setiap hari malah cenderung berpikir bahwa kemewahan dianggap harus diperoleh dari mengumpulkan sebanyak-banyaknya materi dan harta benda, hingga lupa untuk berbagi dan tak peduli pada tetangga kanan kiri. Kemewahan saat ini diukur dari jabatan yang tinggi, mengikuti derasnya arus teknologi terkini, kedudukan terhormat dalam masyarakat, bukan karena bersahabat dan saling tolong-menolong dalam berbuat kebaikan.

Terus terang, saya iri pada Danny dan kawan-kawan, saya ingin bisa hidup seperti mereka.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
Pengkhianatan Film Pada Novel, Kenapa Tidak?
Dalam sebuah diskusi film KCB, Hikmat Gumelar mengatakan bahwa film Ayat Ayat Cinta (AAC) lebih berhasil karena dia berani “mengkhianati” novelnya. Ini pernyataan yang menarik lantaran pernyataan ini ...
Mau Bagi-Bagi Buku (Lagi)
Untuk kedua kalinya dalam waktu setahun ini saya kembali harus menguras rak buku. Yang pertama bulan Februari 2016, saya melepas sekitar 75 buah buku ke sebuah acara pemutaran film yang menyediakan ju...
Mustahil Ngerem Omongan Orang
Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yan...
Latte, Adalah Kopi Saya Hari Ini
Seorang senior saya di Forum Lingkar Pena—saya pernah menyebut namanya di tulisan ini—pernah berkata: Kalau kamu ingin menulis tapi merasa lelah, ya istirahat dulu. Tapi kalau kamu ingin menulis tapi ...
Istri Dewa Dapur
Seberapa sering kita menemukan buku yang menceritakan dengan cukup tepat tentang perasaan-perasaan kita? Saya pertama kali melihat novel “The Kitchen God’s Wife” di tahun 1994. Waktu itu saya masih k...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.