Secangkir Kopi Untuk Felly

Setiap gambar memiliki cerita. begitu juga dengan foto yang saya ambil diam-diam ini.

Saat itu saya baru selesai liputan di Balikpapan, sambil menunggu jadwal penerbangan kembali ke Bontang, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di kedai Starbucks, E-Mall Balikpapan. Bukan tempat yang jadi pilihan pertama saya untuk menghabiskan waktu, tapi juga bukan tempat yang buruk—kecuali kalau kita menghitung harga secangkir kopinya—lagipula hari itu saya sudah seminggu tidak minum kopi, jadi tak apalah sesekali merayakannya dengan kopi yang agak mahal sedikit

Sepuluh menit duduk dan menyeruput Latte, saya menyadari kehadiran Bapak ini di meja sebelah. Sebuah meja yang panjang, kosong, dan tidak menawarkan apa-apa kecuali kesunyian. Sebuah kesunyian yang muncul di tempat riuh, itulah ironi yang sebenarnya. Dalam pandangan sekilas, saya melihat aroma kesedihan di gurat-gurat wajahnya. Saya mencoba mengalihkan pandangan, tapi tak sepenuhnya bisa, saya pun mendapati diri ini secara konstan saya mencuri pandang ke arahnya setiap beberapa menit

Lalu sepuluh menit menjadi tiga puluh menit, menjadi satu jam, dan menjadi dua jam. Bapak itu masih di sana, masih bertahan dengan raut wajah yang sama. Dia hampir tak bergeser, hanya sesekali melepas pandangan ke pintu kaca, memperhatikan setiap kali ada orang masuk. Tapi lantas menarik napas panjang (kecewa mungkin?) dan menyeruput kopinya (dan menggigit rotinya) sedemikian rupa hingga tampak sekali ia tak ingin buru-buru menghabiskannya. Seperti tak memilik hal lain yang bisa dilakukan jika kedua barang tersebut habis. Kopi dan roti itu seperti sebuah alasan dirinya bertahan duduk di sana, menanti entah siapa.

Makin sering mencuri pandang ke arahnya, saya makin memperhatikan detail-detail, seperti corak bajunya (yang mengkilat), cincin batu akik hitam di jarinya, besar ukuran daun telinganya, dan gelas kopinya yang bertuliskan sebuah nama

“Felly”

Saya yakin itu bukan nama si Bapak, secara cepat saya mengambil kesimpulan bahwa itu adalah nama perempuan. Apakah itu kopi milik si perempuan? Apakah itu kopi milik Felly? Siapa Felly?

Saya menunggu, ingin mendapat jawaban. Tapi dalam dua jam lebih saya menanti, tak ada perempuan yang menghampirinya—bahkan sebenarnya, tak ada seorang pun yang menghampirinya—lagipula gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia sedang menunggu seseorang (Menunggu Felly?). Tapi dua jam? Dua jam menunggu dengan keresahan dan raut wajah yang makin lama makin berat? Ada apa sebenarnya?

Maka sambil memperhatikan Bapak Itu, beginilah otak (kanan) saya tiba-tiba menyusun sebuah plot cerita:

Seorang ayah sudah sepuluh tahun terpisah dari anak perempuannya (yang bernama Felly?) karena mereka terlibat dalam selisih pendapat yang besar (mungkin soal KDRT? pendidikan? pernikahan? LGBT? agama? perselingkuhan? poligami? apapun!).

Selama sepuluh tahun, si Ayah berusaha menghubungi anaknya, ia ingin meminta maaf, atau menjelaskan kejadian sebenarnya (karena saat peristiwa besar itu terjadi, si anak masih terlalu kecil untuk mengerti), namun selama itu pula si anak tidak mau menerima kontak apapun dari ayahnya karena merasa ayahnya itulah yang menanggung kesalahan tak termaafkan, yang menyebabkan keluarga mereka hancur.

Namun akhirnya (entah bagaimana, belum terpikirkan) setelah sepuluh tahun, mereka bisa mengadakan janji temu. Mereka janjian bertemu di sebuah kedai kopi, dan sangat ayah ingin mengejutkan anak perempuannya itu dengan membelikan kopi kesukaan si anak. Mungkin dia ingin bilang, “Lihat aku masih ingat kopi kesukaanmu.”…

Si ayah datang lebih awal di tempat itu, mungkin 30 menit sebelum janji pertemuan, memesan minuman kesukaan si anak, meminta pelayan menuliskan nama si anak di gelas, lalu duduk menanti. Ia sudah membayangkan mereka akan bermaafan, akan sedikit bertangis-tangisan, tapi semua akan selesai dibicarakan, mereka pulang dan kembali menjadi ayah dan anak.

Namun sudah dua jam menunggu, si anak tak muncul-muncul. Si Ayah (mungkin tak punya uang lagi untuk beli kopi baru) akhirnya meminum kopi serta memakan roti yang tadinya disediakan untuk si anak, karena dia merasa haus dan lapar. Dia sudah bertekad akan meminta maaf karena sudah meminum kopi itu, dan mungkin berjanji akan membelikan yang baru. Tapi lelaki itu tahu bahwa apapun yang terjadi, masalah ayah-anak ini harus selesai sekarang. Tidak bisa ditunda lagi…

Karena itulah ia terus menunggu

Well, itulah plot yang saya pikirkan. Hanya plot yang masih mentah, tapi setidaknya saya memikirkan sesuatu. Saya mungkin saja bisa berdiri dan menghampiri Bapak itu, menanyakan alasannya dua jam menunggu di meja yang sama dan meminum kopi sedikit-sedikit seolah tak ingin buru-buru menghabiskannya, dan dengan keresahan dan raut wajah yang makin lama makin berat?

Saya bisa saja melakukannya. Tapi yang saya lakukan adalah memotretnya, memindahkan segala keresahan di wajahnya dalam lensa kamera. TREKK. OFF. Saya tidak ingin mengganggunya, dan saya tidak ingin imajinasi saya berantakan jika sampai tahu situasi yang sebenarnya.

Lalu saya memilih pergi dari sana, karena pesawat saya akan segera berangkat.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Impaksi 01: Apa Sih Impaksi?
Kemarin, untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gusi gara-gara impaksi. Operasi yang pertama sudah agak lama, sekitar Juni 2015. Waktu itu setelah rontgen baru ketahuan kalau gigi saya yang impaksi ...
Impaksi 02: Operasi di RSGM
Di postingan sebelumnya, saya cerita bahwa untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gara-gara impaksi gigi geraham bungsu. Operasi pertama saya lakukan tahun 2015, dan operasi kedua sekitar semingguan...
Pelajaran Dari Kaki Seribu
Di rumah kontrakan saya sering sekali muncul kaki seribu—masih diperdebatkan, karena ada teman saya yang bersikeras bilang kalau itu namanya ulat gonggo, apapun… I’m a simple man: hewan itu melata dan...
Perpisahan Perlahan atau Perpisahan yang Direncanakan?
Pagi ini, matahari batal terbit. Gerimis dan mendung kelabu mendera waktu sejak saat fajar harusnya ada. Saya merenung memandangi jendela yang berembun, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mendadak te...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.