Kamu Ingin Mati Sendiri, Di Sebuah Pulau Sunyi

When I get bigger, big enough to go somewhere by myself, I want to go to a land that’s far away. I want to go to a faraway island. I want to go to an island that has no people. I want to go to an island that has no pain or sadness. On that island, I can climb a tree when I want to climb, swim in the sea when I want to swim, and sleep when I want to sleep. When I think about the town without me, I feel a sense of relief. I want to go far, far away.

~ Kayo’s poem; The Town Without Me

Kamu membuka mata, bangun pagi dengan perasaan berat dan sedih yang luar biasa. Untuk kesekian kalinya, kamu merasakan hal seperti ini. Sebuah perasaan sedih telah menjadi manusia tak berguna, sebuah perasaan sedih yang keluar saat menyadari bahwa apapun yang kau lakukan tidak cukup cepat, tidak cukup bagus, dan tidak cukup untuk membawamu mencapai penghargaan yang sesungguhnya di mata manusia.

Berulang kali saat perasaan itu mendera, kamu beranjak tidur, berharap perasaan itu lantas mereda. Tapi pagi ini ternyata tidak bisa. Kamu sudah mencapai titik terlelahmu, sudah mencapai limit akhir untuk bertahan. Pada akhirnya kamu menyadari bahwa selama ini dirimu hidup dalam kepalsuan, dalam imajinasi dan ilusi bahwa dirimu adalah orang hebat dan punya keunikan, orang hebat yang memiliki sesuatu yang tak mungkin digapai oleh orang lain. Padahal sebenarnya tidak begitu, kamu adalah sampah dunia, dan diberi minyak wangi sebanyak apapun, sampah tetaplah sampah.

Hidupmu hanya untuk menghabiskan oksigen, lalu mengeluarkan karbondioksida. Hidupmu hanya untuk menelan karbohidrat, lalu mengeluarkan tinja. Sesederhana itu, tak ada gunanya untuk manusia lain, tak ada pernah melakukan sesuatu yang hebat, yang membuat orang bertepuk tangan. Tak pernah membuat orang membelalakkan mata karena kekaguman, dan pada akhirnya: kamu menjadi orang yang selalu mudah untuk disingkirkan pada kesempatan pertama.

Bila seseorang sedang memiliki pilihan-pilihan yang di dalamnya ada kamu, maka otomatis kamu menjadi yang pertama dihapus, dicoret, dilupakan. Kamu tak memiliki apa-apa, kamu tak bisa apa-apa, kamu adalah orang bermental pengemis yang sukanya menengadahkan tangan meminta uang tanpa berpikir untuk membuat sesuatu yang berguna bagi orang lain. Bukan karena kamu tak mau, tapi karena kamu tak bisa, karena kamu tak menguasai apapun yang diperlukan untuk bertahan hidup di tengah kepungan manusia, karena saat kamu melakukan sesuatu, ternyata itu tidak cukup penting, tidak cukup baik, dan tidak cukup berguna bagi orang lain.

Tapi kamu menolak untuk bunuh diri, kamu sudah pernah mencobanya tapi mengurungkan niat di detik terakhir karena merasa itu tidak ada gunanya (Lihat kan? Bahkan untuk sekadar membunuh dirimu sendiri pun, kamu gagal, kebodohan macam apa itu?). Karena itulah kamu berniat untuk pergi dan menyepi. Sendiri.

Impianmu sebenarnya sangat sederhana: sebuah pulau kecil di tengah samudera, tanpa manusia yang berarti pula tanpa harus memikirkan friksi-friksi serta konflik yang mungkin terjadi, tanpa harus memperhatikan perasaan-perasaan yang mungkin bersinggungan, hal-hal yang membuat lelah. Sebuah pulau kecil di tengah samudera, yang seperti dikatakan oleh Kayo: tak ada rasa sakit dan kesedihan. Di pulau itu, kamu akan memanjati setiap pohon—saat kamu ingin memanjat pohon. Kamu akan berenang di laut—saat kamu ingin berenang di laut. Kamu akan tidur sepuasnya sambil berjemur—saat kamu ingin tidur sepuasnya sambil berjemur. Menjemput matahari terbit, dan mengantarkan matahari terbenam setiap hari.

Tak ada peraturan, tak ada kompromi yang harus dilakukan, tak ada perasan-perasaan sialan yang harus diperhatikan, lalu yang terpenting adalah: kamu tak perlu merasa tak berguna, karena kamu hanya berjuang untuk hidupmu sendiri, tak ada manusia lain sebagai pendamping, tak ada persaingan karena hidupmu toh hanya sendirian. Setiap siang kamu berjuang mencari makan, setiap malam kamu tidur, dan ketika esok pagi kamu terbangun maka itulah prestasimu: bisa bertahan hidup sehari lagi

Lalu kamu mati sendirian, perlahan-lahan, di sebuah pulau sunyi di tengah samudera. Tak ada yang tahu, tak ada yang peduli, tak ada yang memuat berita kematianmu di surat kabar atau sosial media—yang mana tak ada yang memperhatikan, sebab esok hari semua orang sudah lupa dan melanjutkan hidup mereka. Sebuah kehidupan dan kematian yang menyenangkan.

Di sebuah pulau kecil di tengah samudera. Sendiri.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Kala Subuh: Teringat Sahabat Lama.
Masih sama, seperti beratus-ratus subuh sebelumnya, membuka laptop, menekuni lagi tulisan yang tidak kumengerti... Teringat: "It's a big thing for me!" kalimat itu meluncur berulang-ulang ...
Selamat Datang Cacar Air!
Hehe, sudah dua hari ini saya kena cacar air. Eh beneran, banyak teman yang heran kenapa saya baru ngerasin cacar di umur segini (ga akan bilang umur berapa!) tapi memang yang orang tahu penyakit caca...
Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Saya Mulai Takut Menghidupkan Telepon Genggam
Beberapa hari belakangan ini dengan sengaja dan sukarela saya memang mematikan telepon genggam. Awalnya karena ikut acara Family Camp selama dua hari di daerah Sangatta. Namanya kemping tentu disertai...
Secangkir Kopi Untuk Felly
Setiap gambar memiliki cerita. begitu juga dengan foto yang saya ambil diam-diam ini. Saat itu saya baru selesai liputan di Balikpapan, sambil menunggu jadwal penerbangan kembali ke Bontang, saya mem...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.