Istri Dewa Dapur

Seberapa sering kita menemukan buku yang menceritakan dengan cukup tepat tentang perasaan-perasaan kita?

Saya pertama kali melihat novel “The Kitchen God’s Wife” di tahun 1994. Waktu itu saya masih kelas satu SD.

Sejak pertama kali melihat, saya langsung ingin membelinya. Mungkin juga karena covernya yang semarak, penuh warna, ada gambar buah-buahan, teko, cangkir, dll. Mungkin memang naluri saya yang masih kecil menganggap cover novel ini lucu. Namun saya tahu, ada sebuah perasaan yang menyelinap dari dalam, ada sebuah bisikan lirih yang seperti menyuruh saya membeli buku ini. Dia seperti berkata, “Ada sesuatu di dalam buku ini…”

Sayang sekali, saat itu Ibu saya melarang. Katanya ini bukan bacaan anak kecil. Akhirnya saya pulang membawa buku lain (Lima Sekawan dan Sinar Z, kalau tidak salah)

Tapi keinginan untuk memiliki “The Kitchen God’s Wife” tidak pernah pupus. Hanya saja saya tidak pernah lagi menemukannya di mana-mana, terutama yang menggunakan versi cover seperti tahun 1994

Beruntung saya menemukannya di lapak buku Ari Naicker. Akhirnya saya bisa memenuhi “hasrat” semasa kecil, sekaligus menguak arti bisikan lembut yang saya dengar dua puluh empat tahun yang lalu, “Ada apa sebenarnya dalam buku ini sampai ‘kamu’ menyuruh aku membacanya?”

Perlu dua bulan untuk menamatkannya, sampai tadi sekitar jam enam pagi saya menuntaskan novel setebal 752 halaman ini. Terus terang dalam setahun terakhir ini saya sudah agak jarang menamatkan sebuah buku, bahkan bisa dibilang ini adalah buku pertama yang sama baca sampai selesai di tahun 2018.

Kesan setelah membaca? Seperti yang saya katakan di awal tadi, novel ini menceritakan dengan cukup tepat tentang perasaan-perasaan saya. Perasaan-perasaan Pearl terhadap ibunya, Jiang Weili. Hubungan mereka dengan Hulan, dan yang jelas bagaimana mereka semua saling menyimpan rahasia dengan ketat, lalu bagaimana ikatan rahasia itu perlahan dikendurkan dengan sukarela. Semua berkelindan jadi satu hingga mengingatkan saya bahwa perasaan-perasaan mereka sebenarnya saya rasakan juga selama bertahun-tahun, baik saat hidup sendirian, atau saat berinteraksi dengan orang lain, termasuk keluarga.

Saya bersyukur Ibu melarang saya membeli novel ini di tahun 1994, karena seandainya saya membacanya di tahun itu, maka novel ini pasti tidak akan memiliki makna apapun.

Sebab sekarang, ada akumulasi-akumulasi kisah, prasangka, emosi, hubungan kekerabatan, cita-cita, mimpi, air mata, dan realita yang terkumpul dalam hidup saya selama dua puluh empat tahun, yang bisa membuat novel ini menjadi sangat bermakna, dan menjadi salah satu cerita yang tak akan saya lupa.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
Mau Bagi-Bagi Buku (Lagi)
Untuk kedua kalinya dalam waktu setahun ini saya kembali harus menguras rak buku. Yang pertama bulan Februari 2016, saya melepas sekitar 75 buah buku ke sebuah acara pemutaran film yang menyediakan ju...
Dikutuk Untuk Selalu Optimis
Kemarin saya baru me-lock draft lima novel "Meja Bundar", naskah ini kami (saya dan mbak Latree) kerjakan selama lima tahun, dan draft lima adalah keputusan akhir yang harus diambil karena k...
Latte, Adalah Kopi Saya Hari Ini
Seorang senior saya di Forum Lingkar Pena—saya pernah menyebut namanya di tulisan ini—pernah berkata: Kalau kamu ingin menulis tapi merasa lelah, ya istirahat dulu. Tapi kalau kamu ingin menulis tapi ...
Mengapa Menulis Tentang Kematian?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Di novel ini saya membahas tentang kematian, atau lebih tepatnya tentang tiga orang yang berusaha men...
Mengapa Memilih Durasi 18 Jam?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Dan seperti layaknya sebuah proses, dalam setiap novel yang keluar, saya berusaha mencapai satu level...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.