Saya Mulai Takut Menghidupkan Telepon Genggam

Beberapa hari belakangan ini dengan sengaja dan sukarela saya memang mematikan telepon genggam. Awalnya karena ikut acara Family Camp selama dua hari di daerah Sangatta. Namanya kemping tentu disertai beberapa kendala, antara lain akses listrik. Karena itulah sejak awal tiba di camp saya sudah berniat untuk matikan saja telepon genggam, toh dinyalakan juga akan susah ngecasnya, apalagi batre saya sudah sangat drop. Biasanya sehari sekali harus dicas, kadang kalau lagi parah bisa sehari tiga kali. Selain itu, saya juga ingin mencoba hal baru:

Hidup tanpa telepon genggam!

Yah, meski sempat sih barang itu on beberapa kali—antara lain ketika saya perlu melihat jam atau mengaktifkan fungsi senter—tapi saya benar-benar tidak memanfaatkan sama sekali fungsi utamanya sebagai alat komunikasi. Maka ketika sempat on dan beberapa pesan masuk, saya tidak membukanya. Saya benar-benar ingin mencoba rasanya lepas dari barang itu—dalam artian cara berkomunikasi dengan orang lain. Jadi kemarin itu segera saja telepon genggam itu saya gunakan seperlunya lalu saya matikan lagi. Begitu terus sampai pulang.

Dua hari di camp, saya pulang ke rumah sore hari. Saya ingat bahwa besok sudah harus kerja. Maka tentu saja saya benar-benar memanfaatkan sisa waktu untuk istirahat. Tas-tas yang berantakan di ruang tamu tidak saya rapikan. Foto-foto di kamera masih belum dicopy, apalagi disortir. Baju kotor cuma diambrukin saja dekat mesin cuci. Makanan bekal, air minum gelas berantakan begitu saja di meja. Termasuk telepon genggam juga belum dinyalakan (sempat nyala, tapi lagi-lagi hanya untuk memeriksa jam karena kebetulan jam dinding di rumah juga mati. Selepas melihat jam barang itu saya matikan lagi).

Pagi hari saya bangun seperti biasa, lalu persiapan pergi kerja. Sambil melakukan itu semua saya merenung-renung. Eh kok ya anehnya saya merasa hidup ini jadi lebih ringan, tidak ada beban, tidak ada hal yang memburu-buru untuk segera ditanggapi, tidak ada kekacauan yang terjadi.

Mungkin saya memang salah sangka dengan diri ini, selama ini saya menganggap harus jadi manusia yang selalu online, harus bisa dihubungi 24 jam, 7 hari seminggu. Tapi ternyata itu hanya kegeeran saya pribadi. Toh ketika saya perhatikan, organisasi tetap berjalan tanpa ada saya, tugas-tugas kantor tidak lantas terbengkalai (masih ada email untuk boss kasih instruksi), saya masih bisa kontakan dengan client juga lewat email. Proses transfer-transfer uang untuk biaya hidup juga tidak terganggu karena toh selama ini saya tidak memakai mobile banking, saya pakai ATM biasa. Lalu rutinitas saya di luar kantor? Menulis novel dan latihan saxophone tidak menggunakan telepon genggam, maka jelas kedua hal itu tidak akan terhambat sama sekali. Memotret atau merekam video? Kan saya punya Nikon D7000, pakai saja itu!

Yah, ternyata saat dipikir-pikir, saya belum cukup penting untuk dicari atau dihubungi dengan urgensi luar biasa. Saya masih bisa sembunyi jika saya mau, dan semua masih berjalan dengan lancar. Maka jika ternyata saya masih bisa punya sarana bersembunyi, kenapa pula tidak saya manfaatkan?

Lebih jauh lagi saya menemukan fakta bahwa rasa-rasanya—saya belum mengukur secara spesifik—lebih dari 50% masalah dan ketegangan saya bersumber dari telepon genggam itu. Saat handphone itu terus on, seolah terbuka ruang buat siapapun untuk “bermasalah” dengan saya. Sebab selalu saja ada kemungkinan pesan masuk untuk memberi tugas (yang kadang membuat penumpukan kerjaan), menanyakan sesuatu (yang kadang membuat saya harus berpikir saat sedang tidak ingin berpikir), mengungkapkan fakta tertentu (dan biasanya minta direspon, padahal saat itu saya sedang tidak ingin merespon apapun), atau kadang beberapa orang menuntut penjelasan kenapa saya melakukan ini dan itu (padahal saya sedang tidak ingin memberi penjelasan, atau malah saya berpikir hal yang dia tuntut itu tidak layak diberi penjelasan).

Belum lagi keberadaan grup-grup Whatsapp yang menyebalkan, yang selalu saja riuh dan membuat saya seolah dipaksa mengetahui informasi tentang orang lain saat tidak ingin tahu apa-apa tentang mereka. Grup-grup Whatsapp itu menyeret saya masuk ke dalam urusan orang lain saat saya tidak ingin terlibat. Grup-grup Whatsapp yang para anggotanya memiliki keterikatan karena aktifitas tertentu pada periode tertentu sehingga kadang saya merasa tidak enak kalau sampai left group. Menyebalkan sekali.

Begitulah, saya baru sadar bahwa saat telepon itu menyala, saya selalu merasakan ketegangan dan ketakutan. Takut dikontak oleh orang yang saya sedang tak ingin bicara dengannya (penagih hutang misalnya?), takut mendadak diberi pekerjaan saat saya sedang fokus mengerjakan hal lain, takut mengetahui info-info yang tidak ingin saya tahu.

Hingga satu titik, pagi ini di kantor saya merasa takut menyalakan telepon genggam itu lagi. Saya membawanya di tas, tapi sama sekali tidak ingin menyalakannya. Saya tidak tahu deretan pesan semacam apa yang akan saya baca saat benda itu menyala, saya tidak bisa jamin seberapa besar tingkat stress dan tekanan yang akan saya rasa saat membaca pesan-pesan di sana.

Mungkin saya terkena Telephonophobia, mungkin juga tidak (karena toh saya merasa baik-baik saja kalau menerima telepon di line kantor), hanya saja yang jelas sih saya merasa takut menerima informasi apapun lewat telepon genggam. Atau mungkin bukan takut juga, hanya merasa hidup lebih tenang dan lebih santai saat benda itu tidak menyala. Saya merasa bisa fokus pada proyek-proyek yang belum selesai, dan tidak merasa harus waspada 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Saya merasa benar-benar bisa menikmati waktu hidup, dan tidak terikat pada keharusan memeriksa kotak kecil itu setiap kali dia bergetar.

Entah sampai kapan, tapi kalaupun harus berlangsung selamanya, sepertinya saya tidak keberatan.[]

Share This:

Related posts:

Ketika Aku dan Dia Menjelma Diam
FADE IN Sore... maghrib... senja (aku tak mengerti lagi sebutannya). Tiga kali film Jermal ini diputar di ruangan ini, ruangan kayu... aku mendengarnya lewat udara. Ketika itu, ada dia, bernyanyi kac...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Tuhan Memaafkan Semuanya, Termasuk Steve Harvey
Peristiwa salah baca di ajang sekelas Miss Universe 2015 kemarin itu memang cukup bikin heboh, dan dunia seolah kompak menyalahkan Steve Harvey yang didapuk jadi MC acara tersebut. Buat yang ngga...
Filsafat Itu Seperti Pornografi
Seorang teman menulis status Facebooknya, statusnya tidak penting. Tapi dibawahnya ada 70-an komentar, yang salah satunya cukup mengganggu saya karena isinya: "Makanya jangan belajar filsafat, ka...
Ikigai: Apa Tujuan Kita Diciptakan?
Beberapa hari ini saya agak serius mengkaji soal IKIGAI, terutama soal yang berkaitan dengan diri sendiri. Mungkin ada yang sudah pernah denger soal ini, tapi mungkin juga belum… Kata “Ikigai” sebenar...
Pemaksaan Perspektif
Betapa sering kita memaksakan perspektif kepada orang lain? Seolah kita bisa memetakan detail yang mereka hadapi dan memberi komentar seolah kita adalah orang yang paling mengerti situasi. Hingga pada...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.