Mari Mengobrol Seperti Domino

Berapa lama waktu yang pernah kita habiskan untuk mengobrol dengan seorang kawan? Ingat, hanya seorang, bukan mengobrol dalam grup. Satu jam? Dua jam? Empat jam?

Ketika masih kuliah, saya pernah mengobrol dengan seorang teman selama sepuluh jam! Atau kurang selama itulah, dari habis Isya hingga adzan subuh menjelang. Kita teman satu kosan, dan kita mengobrol di kamarnya. Saya semalaman di duduk bersandar di kusen pintu kamar, dan dia semalaman pindah guling-guling antara kasur, lantai, depan rak buku, atau lemari bajunya. Saya sudah lupa kita mengobrol apa saja, tapi memang saat itu kita betul-betul mengobrol, tanpa alunan musik, atau deringan handphone (waktu itu belum masuk jaman handphone, masih di jaman telepon koin); dan itu adalah sebuah ngobrol yang tidak terencana.

Jadi kurang lebih setelah kita makan malam bersama (nyegat nasgor yang lewat depan kosan, sesuatu yang rutin saat itu), saya bertanya tentang sesuatu dan dia menjawab dengan sebuah cerita, yang ternyata jadi memanjang, dari “apa”, menjadi “kenapa”, menjadi “kok bisa”, dan menjadi “eh aku punya pengalaman juga soal itu, begini…” dan kamu terus mengobrol tentang banyak hal, jadi merembet ke urusan kuliah, buku, cinta, film, makanan, tempat hiburan, musik, dan lain sebagainya.

Andaikan saat itu ada kamera, dan saya sudah mengerti soal film, tentu saya akan merekamnya. Menjadikan obrolan semalam suntuk itu macam film Tape (Richard Linklater, 2001), premisnya: Seorang drug dealer bernama Vince (Ethan Hawke), seorang sutradara film indie bernama Jon (Robert Sean Leonard), dan seorang perempuan bernama Amy (Uma Thurman) yang juga merupakan mantan pacar Vince dan Jon… mereka pernah satu SMA, dan kini mereka bertemu di sebuah kamar hotel murahan, dan mereka mengobrol. Film ini lumayan (Nilai IMDb 7,3/10), dan isinya benar-benar orang ngobrol di sebuah kamar.

Saat sekitar tahun 2010 saya menonton Tape, saya seperti melihat apa yang terjadi di film itu sedikit banyak mengulang kisah obrolan selama sepuluh jam itu. Saya sendiri tidak ingat apa yang menyebabkan obrolan kita bisa begitu panjang, tapi pada intinya kita selalu bisa menyambungkan buntut dengan kepala, obrolan tentang musik bisa menyambung ke politik, lalu tiba-tiba berbelok ke  soal pacaran, belok lagi ke kuliner, belok lagi ke soal kendaraan, belok lagi ke soal tanaman, hobi, pesawat terbang, acara TV, sejarah, perang dunia, cerita lucu, dan berbagai belokan random yang membuat obrolan itu seperti orang sedang menyambungkan bulatan-bulatan kartu domino.

Hanya adzan subuh yang menghentikan kami mengobrol, dan kami hanya cengar-cengir saja saat pagi-pagi bapak kost bertanya, ”Malem siapa sih yang ngobrol? Sampe kebawa mimpi, Bapak lagi tidur juga perasaan terus denger.”

Tapi sebenarnya, sejak malam saya mulai menghargai arti sebuah obrolan antar dua orang teman; dan ternyata bila memang kita berniat, sebuah pembicaraan bisa berlangsung sepanjang yang kita inginkan.

Hanya saja mungkin makin ke sini, kita makin sulit menemukan waktu untuk melakukannya. Kita semua. Termasuk saya.[]

,,,

,,,

Share This:

Related posts:

Ketika Aku dan Dia Menjelma Diam
FADE IN Sore... maghrib... senja (aku tak mengerti lagi sebutannya). Tiga kali film Jermal ini diputar di ruangan ini, ruangan kayu... aku mendengarnya lewat udara. Ketika itu, ada dia, bernyanyi kac...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Pelajaran Dari Kaki Seribu
Di rumah kontrakan saya sering sekali muncul kaki seribu—masih diperdebatkan, karena ada teman saya yang bersikeras bilang kalau itu namanya ulat gonggo, apapun… I’m a simple man: hewan itu melata dan...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
Perpisahan Perlahan atau Perpisahan yang Direncanakan?
Pagi ini, matahari batal terbit. Gerimis dan mendung kelabu mendera waktu sejak saat fajar harusnya ada. Saya merenung memandangi jendela yang berembun, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mendadak te...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.