Reuni dan Cerita Masa Lalu

Reuni adalah momentum menarik yang dilakukan setelah sekian lama berpisah, baik bersama teman sekolah maupun kuliah. Ada banyak topik menarik yang lazim dibahas dalam sebuah pertemuan reuni. Dari masalah kehidupan pasca berpisah, dunia kerja, hingga masalah keluarga.

Tetapi, kadang ada masalah atau topik yang justru lebih menarik untuk dibahas tinimbang hal-hal klise semacam “Apakah kamu sudah menikah?” atau “Si Mimin sudah punya anak berapa?”. Dan, itulah yang dilakukan Azzuhri, Elias, dan Kirani dalam novel Meja Bundar karya Hendra Purnama (Hendra Veejay) dan Latree Manohara. Tiga sahabat semasa kuliah memutuskan untuk mengadakan reuni di kafe sebuah hotel di Ibu Kota dan hendak memainkan sebuah permainan bernama “Sincerity”.

Permainan ini terbilang unik karena menuntut kejujuran antarpemain. Pertama, para pemain duduk melingkar. Sebenarnya, agar lebih semarak, sebaiknya pemain berjumlah lima orang atau lebih. Tapi, bertiga pun bisa dilakukan.

Kedua, secara bergiliran setiap pemain harus membuat satu pernyataan (dalam praktiknya kadang yang ada malah bercerita). Normalnya, permainan akan berlangsung empat ronde, satu pernyataan tiap ronde sehingga kalau pemainnya ada lima orang, maka akan ada dua puluh pernyataan.

Terakhir, dari semua pernyataan tadi, para pemain bebas menentukan mana pernyataannya yang bohong dan jujur. Tidak ada aturan baku yang mengatur, seorang pemain hanya boleh membuat satu pernyataan jujur dan sisanya bohong atau sebaliknya. Semua bebas memberikan pernyataan, sesuka-suka dirinya.

Keempat, para pemain akan mengidentifikasi mana cerita yang jujur dan mana yang bohong. Pemain A menebak kebenaran cerita pemain B dan C, pemain B menebak kebenaran cerita pemain A dan C, dan pemain C melakukan hal yang sama pada pemain A dan B. satu poin untuk yang menebak benar, tidak mendapat poin untuk tebakan salah (hlm. 10-11).

Setelah melalui kemacetan Ibu Kota, akhirnya tiga sahabat itu bertemu dan permainan pun dimulai. Satu persatu melontarkan pernyataannya. Azzuhri yang kali pertama mendapat jatah waktu menyampaikan pernyataan. Sebuah pernyataan yang mengejutkan kedua sahabatnya. Azzuhri mengaku bahwa, dia pernah membunuh orang. Sementara pada ronde kedua, Azzuhri bilang bahwa dia punya 100 anak asuh.

Elias, yang mendapatkan kesempatan kedua mengatakan bahwa dia pernah bertemu Tuhan, dan pada ronde kedua mengatakan kalau pernah main hompimpa taruhannya pindah agama. Sementara Kirani, menyatakan bahwa dia pernah mencari-cari Tuhan, tapi tidak pernah ketemu. Lalu, pada kesempatan kedua, dia mengatakan kalau pernah mandi lima kali sehari (hlm. 81).

Pernyataan yang dilontarkan pada dua ronde pertama menimbulkan perdebatan sengit antara ketiga sahabat itu. Saat Azzuhri mengatakan pernah membunuh orang, kedua sahabatnya kompak mengatakan bohong, padahal Azzuhri jujur. Anehnya, pernyataan kedua saat ia bilang punya 100 anak asuh, kedua temannya sepakat mengatakan jujur, dan ia memang benar-benar jujur.

Perdebatan cukup sengit ketika membahas pernyataan Elias, yaitu tentang ia yang pernah bicara dengan Tuhan dan main hompimpa dengan taruhan pindah agama. Menurut mereka, pernyataan itu bisa jadi bohong atau jujur karena, agama adalah keyakinan yang tidak bisa jadi bahan permainan. Agama itu bukan baju yang bisa dilepas kapan saja oleh pemakainya. Tapi, Elias justru berani mengatakan bahwa agama itu memang baju. Buat beberapa orang, agama atau teisme itu semacam baju, dan atheis adalah orang yang telanjang (hlm. 69).

Bahkan, Kirani mengatakan bahwa penting mengumumkan pada dunia apa agama seseorang, supaya pada diri mereka, beragama itu ada kehati-hatian. Ada semacam kontrol. Sementara itu, Elias menyatakan bahwa soal pindah agama itu lebih baik tidak usah dibesar-besarkan. Agama urusan manusia dengan Tuhan, kehidupan di dunia pun, menciptakan aturan-aturan di mana orang bisa melepaskan agamanya (hlm. 70).

Tentang pernyataan yang disampaikan Kirani, ternyata membuat Kirani harus berjuang dengan diri sendiri. Menaklukkan ketakutan yang selama ini bersembunyi dalam dirinya. Bahwa dia pernah berada di titik yang menggelisahkan. Pernah memiliki keyakinan yang dianggap “aneh” oleh banyak orang, sehingga ia pernah mengalami sakit jiwa dan sempat menjalani terapi psikologis. Itulah yang membuat dia menyatakan pernah mencari-cari Tuhan dan tidak pernah ketemu.

Pernyataan demi pernyataan dan tanggapan demi tanggapan disampaikan oleh Azzuhri, Elias, dan Kirani. Permainan itu justru membuat mereka harus membuka tabir masa lalu yang pernah mereka jalani. Azzuhri yang pernah membunuh orang, Elias yang pernah pindah agama karena pernikahan, dan Kirani yang pernah gamang dalam menjalani kehidupan beragama, sehingga membuatnya pernah depresi dan gamang menjalani kehidupan beragama.

Dalam novel 308 halaman ini, Hendra dan Latree tidak hanya mengupas tentang makna sebuah reuni dan persahabatan, tetapi juga mengulik makna kematian, kehidupan beragama, bahkan filsafat. Sebuah novel yang akan membuat pembaca berpikir tentang pelbagai hal dalam kehidupan yang semakin kompleks. (*)

.

Resensi: Untung Wahyudi *)

Dimuat Tribun Jateng, Minggu, 22 Oktober 2017

=============

Foto Ilustrasi: Indira Isvandiari

aaa

MEJA BUNDAR

Informasi Buku: http://bit.ly/mejabundar

Pesan via Website: http://bit.ly/pesan-mejabundar

Pesan via Whatsapp: 0823-2006-3397, 0838-9079-0002

Pesan via LINE: bitread_id

aaa

sss

Share This:

Related posts:

Sebuah Surat untuk Lee
Lee, kusertakan sebuah gambar buram yang pasti membuatmu terpingkal-pingkal. Pada suatu titik di kejauhan ada seseorang memegang gitar, sendirian. Baiklah, itu aku, dan kau tahu aku tidak bisa bermai...
Bintang Porno Di Cover Buku
Tadi sempat baca berita ringan di vivanews, katanya di Thailand ada sebuah buku paket matematika terbitan MuangThaiBook yang laku banget, usut punya usut ternyata diduga buku itu laku bukan karena isi...
Novel Ini Tak Pernah Salah
Terjadi sebuah drama dalam pertandingan basket antara wakil perfektur Ishikawa melawan wakil perfektur Tokyo, awalnya pada quarter pertama wakil Ishikawa sudah unggul jauh 25-6, selisihnya 19 poin. Pe...
Mengapa Menulis Tentang Kematian?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Di novel ini saya membahas tentang kematian, atau lebih tepatnya tentang tiga orang yang berusaha men...
Bercengkerama dengan Kematian dalam 'Meja Bundar'
Kita bisa sama-sama setuju kalau kematian adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, jika kamu tidak merasa begitu, mungkin setidaknya lingkungan sekitar kita yang merasa hal itu tabu. "Ih, apaan s...
Istri Dewa Dapur
Seberapa sering kita menemukan buku yang menceritakan dengan cukup tepat tentang perasaan-perasaan kita? Saya pertama kali melihat novel “The Kitchen God’s Wife” di tahun 1994. Waktu itu saya masih k...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Reuni dan Cerita Masa Lalu

Leave a Reply

Your email address will not be published.