Noriko’s Dinner Table: Dianjurkan Untuk Tidak Menonton

Sudah lama banget saya mau bikin review film ini, tapi nggak tahu kenapa setiap kali dicobain males terus. Ada aja halangannya, sampai akhirnya jadi juga meski harus dipaksain.

Bukan apa-apa, sebuah review film biasanya berpotensi membuat orang ikutan nonton, atau minimal penasaran pengen nonton juga. Nah padahal sebenarnya salah satu faktor yang bikin saya males nge-review film ini adalah: Saya nggak mau ada yang penasaran dan jadinya nonton juga (eh.. malah jadi penasaran ya? Haha…)

Film ini merupakan prequel dari Suicide Club (Sion Sono, 2002), dan dalam film yang  dan rilis tahun 2006 ini, dalam film ini ada satu pertanyaan inti: seberapa kenal kamu dengan dirimu?

Sekadar saran aja… buat yang sudah nonton “Suicide Club” wajib nonton film ini, kalau nggak pastinya stress sendiri. Tapi kalau yang belum sih cukup tongkrongin “Noriko’s Dinner Table”, maka semuanya akan jelas dengan sendirinya. (Intinya sih, kalau sudah dapat kunci jawaban, ngapain juga mesti megangin lembar soal? Langsung aja salin kunci jawaban itu ke lembar jawaban yang sudah disediakan sama panitia.). Cuma… ini peringatan terakhir: kalau bisa sih jangan nonton deh, mending manfaatin waktu kalian semua buat nonton film yang lebih friendly sama kesehatan mental.

Memangnya “separah” apa sih film berdurasi 159 menit ini? Sebelum mulai… untuk lebih memahami film ini, ada baiknya kalau kita baca-baca dulu buku “Nihilism: Philosophy of Nothingness” karya Arthur Morius Francis, di halaman 93 dia membahas film ini secara khusus.

norikos-dinner-table-movie-poster-2005-1020451009Oke, kembali ke cerita… sebenarnya plotnya sih cenderung “biasa”, ada anak perempuan bernama Noriko yang ga terlalu puas sama hidupnya, terus ikutan jadi member di situs www.haikyo.com. (Waktu filmnya rilis, situsnya beneran ada, bentuknya macam forum Kaskus tapi isinya orang-orang stress semua… tapi sekarang entah pindah kemana, yang sekarang ada justru situs www.haikyo.org yang meski isinya sangat menarik tapi ga ada hubungannya lagi sama film Noriko ).

Dalam cerita-cerita awal, Noriko ini dikisahkan melakukan kontak sama sebuah perkumpulan yang digosipkan bernama “Klub bunuh diri” (Suicide Club). Sampai akhirnya dia memutuskan pergi dari rumah buat pergi ke markas perkumpulan itu, terus dia jadi kenalan sama seorang anggota yang ber-nick name: Ueno Station 54, seorang perempuan yang merasa nggak punya orang tua karena berkeyakinan dia dilahirkan “oleh” locker barang nomor 54 di sebuah stasiun.

Terus akhirnya Noriko makin lama makin terjerumus ke perkumpulan ini yang ternyata isinya orang-orang yang “menihilkan” arti sebuah identitas. Mereka percaya identitas seseorang bisa diubah-ubah seperti membalik telapak tangan, artinya kamu bisa jadi Noriko, Mizuki, Yoko, Otzuki, atau Maria Ozawa (halah… kok kesebut?!) sesukamu, bahkan kamu bisa saja mengubah identitasmu jadi anak si anu, jadi adik si anu, jadi istri si anu, semaumu, kapan saja, dimana saja.

Bahkan ke sini-sininya ditunjukkan bahwa anggota perkumpulan ini juga menerima job untuk bersandiwara, misalnya saja ada bapak yang kangen sama anak perempuannya yang bernama Hitomi, Hitomi ini misalnya sudah meninggal, atau lama nggak pulang. Bapak itu tinggal telepon dan bilang mau nyewa orang yang ciri-cirinya mirip sama anak dia selama sekian jam untuk berperan jadi Hitomi. Inilah yang saya pikir gila banget! Kalau lagi main film atau main teater boleh lah karena jelas ada panggung, penonton, sutradara, dll… tapi kalau berperan jadi anggota keluarga seseorang dengan sangat nyata… itu namanya orang sakit jiwa semua! Apalagi dalam beberapa job, anggota klub itu kadang disewa untuk jadi istri, jadi suami, jadi ibu… bahkan ada yang memang disewa untuk dibunuh!

Jadi artinya klub bunuh diri bukan bunuh diri seperti yang kita bayangkan, tapi klub yang anggotanya diajarkan untuk membunuh diri, membunuh karakter, membunuh identitas dengan mudah.

Ups… Saya nggak berniat jadi spoiler dengan bercerita “lengkap” seperti di atas, karena apa yang saya ceritakan itu sebetulnya belum sampai 10% dari isi film. Banyak banget hal-hal yang… euh, mending ditonton sendiri supaya lebih surprise hehe…

Dengan gaya bercerita 75% narasi, nonton film ini jadi serasa baca novel, bukan sekedar itu, film ini akan mengganggu jiwa penontonnya … eh, nggak percaya ya? Nonton dulu deh… delapan orang teman saya  mengaku stress abis setelah nonton ini. Karena kita seperti yang disadarkan bahwa… ah, rugi kalau diceritain sekarang! Pada nonton deh supaya ngerti…

Jadi intinya… seberapa kenal kamu dengan dirimu sendiri? []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Nonton "IL POSTINO": Ide Ceritanya Bagus...
Oke, sebelumnya lebih baik kita tahu dulu, siapa itu Pablo Neruda. Menurut catatan sejarah, Pablo Neruda lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904 nama aslin...
Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Prekuel, Sekuel dan Spin Off
Di sebuah blog film  saya membaca tulisan begini: "...maka hadirlah “Terminator Salvation” yang bisa dibilang sebagai sekuel ke-4 ... menyusul “X-Men Origins: Wolverine,” “Star Trek” dan “Ange...
Room Mate dan Budaya Kita
Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru ...
Starship Troopers dan Kisah Film Pertama
Beberapa malam yang lalu, seperti biasa dengan jadwal tidur yang aneh... (merem jam 19.00 dan bangun jam 23.00, lalu tidur-tidur lagi jam jam 19.00 besok ... kalong juga nggak gini-gini amat sih!) say...
Dua Hal Kenapa Saya Suka Keluarga Cemara
Saya jarang datang ke bioskop untuk nonton film yang sama beberapa kali. Kalaupun ada biasanya film luar, antara lain Crazy Rich Asian (Jon M. Chu, 2018) dan—yang satu ini nontonnya pas SD— The Saint ...

SiHendra

Novelis. Editor Film. Sutradara. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa. Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *