Sakit Kepala Diberi Obat Tetes Mata: Colok Saja!

Beberapa waktu yang lalu saya memasang status Facebook. Inti dari status itu adalah saya ingin bertanya mana jenis investasi yang lebih menguntungkan, apakah Emas? Dinar? Atau Bitcoin?

Hmm, mungkin memang saya masih rancu soal investasi, mungkin juga penggunaan kata itu tidak tepat. Saat itu yang saya maksudkan adalah semacam mengubah jenis simpanan, apakah lebih baik menyimpan uang-uang kita dalam bentuk logam mulia (lempengan 1 gram, mungkin?), seperti yang sudah sering saya lakukan. Atau dinar? Mengingat saya punya teman yang cukup gencar mencontohkan soal membeli dinar, atau menukarkan rupiah ke dinar, tentu dengan segala promo-promo positifnya. Atau justru akan lebih menguntungkan Bitcoin? Karena di bernada saya sudah mulai ada 3-4 orang rekan yang mempromosikan soal Bitcoin, yang konon kabarnya punya nilai tukar yang cukup tinggi.

Apapun itu, saat menulis status tersebut niat saya adalah mengumpulkan masukan-masukan dari “para aktifis investasi”, saya mention beberapa orang yang saya nilai cukup kompeten menjawabnya.

.

tes 1

.

Kalau dilihat, Saya kira siapapun sepakat bahwa pertanyaan yang ada di status tersebut cukup bisa dimengerti oleh siapapun, itu adalah sebuah kalimat sederhana, dan menuntut jawaban yang—tidak harus sederhana, namun—lugas dan tepat sasaran. Syukur-syukur kalau ada jawaban yang memotivasi saya, atau mendorong saya untuk langsung action.

Sayangnya, ada beberapa jawaban yang mengesalkan saya. Untuk mereka yang memilih satu dari antara tiga jawaban: emas, dinar, Bitcoin, saya ucapkan terimakasih karena sudah urun saran. Semua masukan itu jadi bahan pertimbangan. Untuk jawaban yang melenceng sedikit dengan menyebut kata “investasi properti” saya maklumi dan saya simpan untuk kapan-kapan. Investasi properti cukup relevan dengan status saya, meski bukan itu jawaban yang saya cari.

Namun ternyata, ada satu orang yang menjawab melenceng, sangat-sangat jauh melenceng. Saya cantumkan saja di sini, lengkap dengan reply dari saya.

.

satu

.

Di sinilah poin yang ingin saya garis bawahi. Saya tidak mengerti jalan pikiran orang-orang seperti itu, membaca jawaban seperti itu, kemungkinannya hanya dua: (1) dia gagal mencerna pertanyaan di status saya, (2) dia terlalu gatal ingin ceramah agama.

Untuk kemungkinan pertama, saya pikir aneh. Status saya adalah sebuah kalimat yang sangat sederhana, siapapun bisa mencernanya, dan menjawabnya. (Saya sudah tes kepada anak saya yang berusia sepuluh tahun, dia paham kok). Karena itulah saya lebih condong pada kemungkinan kedua; yaitu ada orang-orang yang merasa bahwa hidupnya memang harus diisi dengan ceramah agama, tanpa melakukan itu mungkin hari-harinya akan jadi hambar.

Kenapa saya katakan “ada orang-orang”?, karena sebenarnya ini adalah hal yang bisa kita temukan di manapun dalam kegiatan bersosial media. Akan selalu ada orang-orang yang jawabannya mengarah ke persoalan agama. Seolah dia yang paling ingat dan orang lain adalah makhluk yang pelupa. Ini jelas menyebalkan, dan saya sebagai orang yang juga beragama, tentu mengerti tentang urgensi keterlibatan agama serta keimanan dalam setiap jejak langkah hidup kita. Tapi masalahnya, terkadang dalam hidup sehari-hari muncul pertanyaan yang harus dijawab dengan jawaban duniawi, bukan jawaban ukhrawi. Ketidakmampuan seseorang memisahkan dua hal itu, rentan membuat sebuah jawaban bagus malah jadi tidak berguna; dan sekali lagi: itu menyebalkan

Misalnya, kita ambil contoh pada jawaban di atas, investasi yang terbaik adalah investasi di pendidikan anak. Damn right, saya setuju 170% dengan jawaban itu! Mana mungkin ada orang tua yang tak paham soal investasi pendidikan anak? Itu jawaban yang benar, itu jawaban yang sah, itu jawaban yang dahsyat. Sayangnya, itu adalah jawaban di lembar soal yang salah!

Dengan begitu, jawaban mereka yang benar malah jadi mubazir karena tidak bisa digunakan untuk menjawab permasalahan yang saya ajukan. Jawaban mereka yang dilandasi keyakinan serta—mungkin—teori tertentu malah jadi tidak terpakai karena jawaban yang saya cari bukan itu!

Sama seperti kita sakit kepala, tapi dikasih obat tetes mata. Itu adalah obat yang bagus, itu adalah obat yang berkhasiat, itu adalah obat yang dibuat dengan penelitian seksama di laboratorium, itu adalah obat yang sudah memiliki ijin dari pemerintah. Lalu apakah obat tetes mata itu salah? Dalam kasus ini iya, karena sayangnya obat itu tidak berguna, saya tidak membutuhkannya. Saya perlu obat sakit kepala.

Maka, mungkin kita semua (termasuk saya) memang harus menata ulang lagi cara membaca pertanyaan, cara menyingkapi status-status yang berseliweran di sosial media, mesti tahu mana pernyataan yang harus ditanggapi, dibaca saja, diserang, didukung, atau dihapus.

Atau… kita semua (termasuk saya) harus agak mengerem diri dengan kebiasaan ceramah di status orang. Menunjukkan diri begitu beragama sehingga malah gagal menjawab persoalan yang terlalu duniawi. Karena meski “semua” orang beragama, tidak selalu tiap orang memerlukan ceramah agama.

Lagipula, jelas orang yang sakit kepala jangan diberi obat tetes mata, nanti ujung botol obatnya salah-salah akan dicolokkan ke mata orang yang kasih itu obat![]

Share This:

Related posts:

Dosen Gadungan di UNPAD!
Akhirnya saya bisa merasakan juga jadi dosen. Tepatnya dosen tamu di Fakultas Seni Budaya Universitas Padjajaran. padahal nggak pernah nyangka, mimpi aja nggak berani... soalnya saya kemana-mana cum...
Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Biar Mereka Bangun Gerejanya
Dulu saya sempat sekolah di sebuah yayasan Katolik selama kurang lebih delapan tahun, namanya yayasan Mardi Yuana, di daerah Cibinong. Saya juga sampai saat ini punya banyak teman Katolik, dan nggak p...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *