Jangan Percaya “Kata Para Ahli”

Beberapa hari yang lalu, saya mengalami sebuah “insiden” kecil di grup whatsapp yang saya ikuti. Penyebabnya sederhana, ada rekan yang men-share sebuah berita tentang pentingnya shalat tepat waktu. Infonya cukup sering tersebar di grup-grup, dan kebanyakan membiarkan informasi itu karena isinya mengenai hal positif—terutama bagi umat Islam—yaitu tentang shalat tepat waktu. Beginilah isi artikelnya:

Shalat Tepat Waktu

Inilah Rahasia Mengapa Shalat Harus di Awal Waktu – Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan shalat fadhu di awal Seperti yang beliau sabdakan,”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah Shalat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orang tua, dan Jihad di jalan Allah Swt.” (HR Bukhari & Muslim)

Ternyata anjuran tersebut ada hikmahnya. Menurut para ahli, setiap perpindahan waktu sholat, bersamaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam dan dirasakan melalui perubahan warna alam. Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan, psikologis dan lainnya. Berikut ini kaitan antara shalat di awal waktu dengan warna alam.

Waktu Subuh

Pada waktu subuh, alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam ilmu Fisiologi (Ilmu biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan) tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisma tubuh manusia. Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rejeki dan cara berkomunikasi. Mereka yang masih tertidur nyenyak pada waktu Subuh akan menghadapi masalah rejeki dan komunikasi. Mengapa? Karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika roh dan jasad masih tertidur. Pada saat azan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkatan optimal. Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu ruku dan sujud.

Waktu Zuhur

Alam berubah menguning dan ini berpengaruh kepada perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga punya pengaruh terhadap hati. Warna kuning ini mempunyai rahasia berkaitan dengan keceriaan seseorang. Mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan sholat Zuhur berulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaan serta berkurang keceriaannya.

Waktu Ashar

Alam berubah lagi warnanya menjadi oranye. Hal ini berpengaruh cukup signifikan terhadap organ tubuh yaitu prostat, rahim, ovarium/ indung telur dan testis yang merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan. Warna oranye di alam juga mempengaruhi kreativitas seseorang. Orang yang sering ketinggalan waktu Ashar akan menurun daya kreativitasnya. Di samping itu organ-organ reproduksi ini juga akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.

Waktu Maghrib

Warna alam kembali berubah menjadi merah. Sering pada waktu ini kita mendengar banyak nasehat orang tua agar tidak berada di luar rumah. Nasehat tersebut ada benarnya karena pada saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga karena mereka ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu. Hal ini lebih baik dan lebih selamat karena pada waktu ini banyak gangguan atau terjadi tumpang-tindih dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yang bisa mengganggu penglihatan kita.

Waktu Isya

Pada waktu ini, warna alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak. Mereka yang sering ketinggalan waktu Isya akan sering merasa gelisah. Untuk itulah ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan tubuh ini. Dengan tidur pada waktu Isya, keadaan jiwa kita berada pada gelombang Delta dengan frekuensi dibawah 4 Hertz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat. Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna-warna putih, merah jambu dan ungu. Perubahan warna ini selaras dengan kelenjar pineal (badan pineal atau “mata ketiga”, sebuah kelenjar endokrin pada otak) kelenjar pituitary, thalamus (struktur simetris garis tengah dalam otak yang fungsinya mencakup sensasi menyampaikan, rasa khusus dan sinyal motor ke korteks serebral, bersama dengan pengaturan kesadaran, tidur dan kewaspadaan) dan hypothalamus (bagian otak yang terdiri dari sejumlah nucleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu). Maka sebaiknya kita bangun lagi pada waktu ini untuk mengerjakan sholat malam (tahajud).

Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur karena telah di’karuniakan’ syariat shalat oleh Allah Swt sehingga jika dilaksanakan sesuai aturan maka secara tak sadar kita telah menyerap tenaga alam ini. Inilah hakikat mengapa Allah Swt mewajibkan shalat kepada kita sebagai hambaNya. Sebagai Pencipta Allah swt mengetahui bahwa hambaNya amat sangat memerlukan-Nya. Shalat di awal waktu akan membuat badan semakin sehat. Silahkan share artikel ini kepada teman-teman yang lain

[collapse]

Artikel yang bagus bukan? Tentu saja, saya juga meyakini bahwa shalat harus tepat waktu. Saya sama sekali tidak kontra pada isi artikel tersebut. Nah, lalu kenapa sampai jadi masalah?

Yah, sebenarnya “insiden” kemarin dipicu oleh pertanyaan sederhana saya kepada si teman, yaitu: “Kata-kata ‘Menurut para ahli’ itu maksudnya menurut siapa? Apakah ada namanya? Atau lokasi penelitiannya? Atau kapan penelitiannya?”

Pertanyaan singkat, tapi ternyata jawabannya (baca: masalahnya) jadi panjang. Sampai-sampai ada pernyataan dari teman saya yang berbelit-belit dan tidak penting, bahkan sampai membawa-bawa guru ngajinya di Bandung dan Malaysia, ia mengatakan bahwa tema artikel itu sudah selesai dibahas di pengajian yang dia ikuti, dengan kredibilitas si guru ngajinya (yang ia juga tidak menyebutkan namanya) itu berarti tema tersebut bisa dipercaya. Lalu ada lagi beberapa pernyataan lain yang (tidak usah didetailkan di sini) namun tetap saja itu semua tidak menjawab pertanyaan awal: siapa yang dimaksud dengan “para ahli” di dalam artikel tersebut?

Saya sedikit ngotot menanyakan siapa “para ahli” itu karena—setidaknya bagi saya—itu adalah poin penting dalam artikel tersebut. Saya merasa pertanyaan tersebut adalah sebuah pertanyaan yang sah, sebuah pertanyaan yang valid untuk meng-crosscheck satu rangkaian informasi. Sebab untuk urusan science, hasil penelitian seseorang yang sudah jelas namanya seperti Dr. Masaru Emoto saja masih bisa terbantahkan (yang mengatakan molekul air akan jadi bagus saat diberi doa atau kata-kata positif), apalagi hanya sebuah info yang diembel-embeli peneliti anonim.

Perlu diketahui bahwa dalam jurnalisme, keabsahan data (trustworthiness) merupakan konsep penting untuk menjamin kesahihan data (validitas) dan keandalan (reliabilitas). Untuk menetapkan keabsahan  data diperlukan teknik pemeriksaan, dan teknik pemeriksaan data pun didasarkan empat kriteria yaitu: derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability). Jadi tidak sembarang tempel-tempel data pula dalam satu artikel.

Nah kebetulan, saya termasuk orang yang percaya bahwa teori di atas harusnya dapat diterapkan bukan hanya di artikel-artikel serius, tapi pada semua jenis informasi yang biasa kita share di grup-grup ponsel atau beranda Facebook. Kenapa? Karena sekali menyebarkan informasi, maka selalu ada 50% potensi orang akan percaya pada informasi tersebut, pertanyaannya: kalau seandainya informasi itu tidak benar lalu bagaimana? Apakah si penyebar informasi akan lepas tangan? Apakah kita akan terbiasa merasa cukup bersembunyi pada kalimat, “Oh saya cuma share dari grup sebelah.”

Tidak bisa dipungkiri, inilah salah satu penyakit kita dalam bermedia sosial. Kita terlalu sering menyebarkan informasi tanpa memeriksa keabsahan sumber datanya, apalagi jika sesuatu itu dibungkus agama (yang kita anut) maka kita langsung merasa informasi itu yakin benar. Padahal belum tentu, meskipun isi berita itu positif, namun tanpa sumber data yang valid maka berita itu tetap punya kemungkinan masuk dalam kategori hoaks. KBBI sendiri menetapkan hoaks dengan definisi: berita bohong, itu saja, tanpa embel-embel sebuah beritanya harus positif atau negatif.

Bahkan agama Islam mengenal istilah dhaif atau hasan dalam sebuah hadits, itu artinya bahkan dalam hal positif sekalipun (yang bersumber dari jaman Nabi) masih mungkin terselip kebohongan, dan sekali terselip kebohongan maka informasi itu tidak layak dipercaya.

Memang besar kemungkinan ada yang menjawab: artikel tersebut bisa jadi motivasi kok, jadi tidak apa-apa, semoga yang membacanya lantas bisa terpicu untuk shalat tepat waktu. Ya, saya juga tidak mengatakan bahwa artikel itu harus dibuang. Yang dari awal saya pertanyakan hanya satu hal: siapa nama “para ahli” yang melakukan penelitian tersebut? Itu saja. Karena mana mungkin hal sepenting ini tidak tercatat dalam buku manapun? Ini adalah hal penting dan menarik, yang mungkin bisa dipakai sebagai tema sebuah tesis. Dengan sebuah nama yang anonim, sangat sulit diperiksa kebenaran isi beritanya, maka setidaknya sediakan ruang untuk pembaca melakukan pemeriksaan ulang atau minimal pemeriksaan kredibilitas narasumber yang jadi sumber data. Pembaca tidak bisa dihentikan dengan kalimat semacam, “ini sudah selesai dibahas oleh orang yang lebih pandai dari kamu, sudah jangan tanya-tanya!”

Sebab kalau urusan informasi dengan embel-embel “para ahli”, saya juga bisa membuatnya:

Menurut penelitian para ahli, awan-awan di langit mengeluarkan gelombang suara infrasonic yang mengalun seperti nada orang-orang sedang berdzikir. Ternyata awan pun setiap saat memuji Allah! lalu bagaimana dengan kita?

Nah, tak perlu bertanya siapa para ahli yang melakukan penelitian itu. Pokoknya itu menurut para ahli lho, sudah kamu jangan tanya-tanya lagi! sebarkan saja demi kebaikan umat![]

Share This:

Related posts:

Catatan Kala Subuh: Teringat Sahabat Lama.
Masih sama, seperti beratus-ratus subuh sebelumnya, membuka laptop, menekuni lagi tulisan yang tidak kumengerti... Teringat: "It's a big thing for me!" kalimat itu meluncur berulang-ulang ...
Kerudung Kamu Halal? Kalau Kamunya? #EH
Kemarin-kemarin sempat sebuah produk kerudung jadi trending topik yang lumayan rame, nama produknya nggak usah disebut disini lah, soalnya ntar disangka ngiklan—nggak dibayar pula buat promosi—sebab p...
Ikigai: Apa Tujuan Kita Diciptakan?
Beberapa hari ini saya agak serius mengkaji soal IKIGAI, terutama soal yang berkaitan dengan diri sendiri. Mungkin ada yang sudah pernah denger soal ini, tapi mungkin juga belum… Kata “Ikigai” sebenar...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar
(1) Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari p...
Sakit Kepala Diberi Obat Tetes Mata: Colok Saja!
Beberapa waktu yang lalu saya memasang status Facebook. Inti dari status itu adalah saya ingin bertanya mana jenis investasi yang lebih menguntungkan, apakah Emas? Dinar? Atau Bitcoin? Hmm, mungkin m...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *