Menguak Korelasi Triangle Composition dan Majas Pars Pro Toto dalam A Letter For Mommy

Setiap akan mengulas sebuah film, saya selalu berpegang pada kata-kata Ekky Imanjaya. Dalam sebuah wawancara yang termuat di cinemapoetica (16/02/2016) ia berkata bahwa setiap film memiliki yang namanya director statement atau pernyataan yang ingin disampaikan sutradara melalui filmnya. Saat seorang kritikus film menuliskannya, ia tidak mesti mencari tahu apa pernyataan si pembuat film. Ia boleh punya pembacaan tersendiri, dan itu tidak masalah, sekalipun berbeda dengan niatan pembuatnya.

Pernyataan ini terus terang melegakan saya, karena dengan sangat bebas saya bisa menginterpretasikan sebuah film dari kacamata penonton. Saya menonton, lalu saya memiliki pandangan tertentu pada film tersebut, dan saya menuliskannya. Nah, dengan semangat seperti itu, saya pun berniat menuliskan hasil pandangan saya setelah menonton film A Letter For Mommy.

A Letter For Mommy, adalah film pendek kelima karya sutradara asal Lampung, Aji Aditya. Secara singkat film ini bercerita tentang kerinduan seorang anak terhadap ibunya yang sudah meninggal, kerinduan itu menggumpal hingga mencapai satu titik dimana anak itu ingin menyusul ibunya. Fragmen seorang anak yang merindukan kematian (dalam bentuk ibu) ini disusun dengan satu benar merah: HIV/AIDS.

Film ini mengambil seting cerita di pulau Pahawang, Lampung. Sebuah tempat wisata yang oleh situs nativeindonesia.com (28/03/2017) disebut sebagai surga wisata tersembunyi di Lampung. Karena itulah, tidak heran jika dalam bercerita, Aji banyak memanfaatkan landscape-landscape pulau Pahawang dan aspek-aspek kehidupan seorang nelayan, seperti: pasir pantai, perahu wisata, perahu nelayan, atau laut lepas. Selain karena karakter ceritanya menuntut penggambaran tempat seperti itu, akan sangat rugi sekali jika seorang filmmaker melakukan syuting di tempat seindah pulau Pahawang, namun tidak memindahkan keindahan tempat itu ke lewat lensa kamera.

Ketika saya memiliki kesempatan bicara langsung dengan sutradara A Letter For Mommy, ia banyak bercerita tentang hal-hal “tersembunyi” dalam film tersebut. Termasuk beberapa tribute atau simbol-simbol khusus yang ia sisipkan di beberapa scene. Namun, dalam ulasan ini saya tidak akan menceritakan itu semua, karena menurut hemat saya sebagai penonton, haruslah sang sutradaranya sendiri yang mengatakan itu kepada publik. Sementara tugas saya—seperti kata Ekky—adalah menginterpretasikan sebuah film dari kacamata penonton

Karena itulah, pada kesempatan ini saya ingin membahas hal yang berkaitan dengan cara A Letter For Mommy berperan sebagai sebuah media (komunikasi) yang dinikmati oleh penonton. Sebagai sebuah bahasa yang digunakan untuk mengantarkan pesan.

Hal ini saya anggap krusial karena sejak pertama mengenal film, saya selalu percaya bahwa film sebenarnya adalah sebentuk bahasa untuk berkomunikasi, itu karena film juga bisa digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan, seperti layaknya seorang komunikator kepada komunikan; yang mana pada ruang lingkup film, sutradara adalah komunikator dan penonton berperan sebagai komunikan.

Jika pada komunikasi sehari-hari, bahasa yang disepakati antara kedua pihak adalah media penyampai pesan, maka dalam ruang lingkup film, bahasa film lah yang harus menyiratkan pesan-pesan yang diusung oleh seorang komunikator. Dalam perspektif itu, maka jelas film yang tidak mampu mengantarkan pesan komunikator adalah film yang bisa dikategorikan sebagai film cacat. Film yang tidak ada faedahnya bagi penonton.

Maka jika sebuah film berfungsi sama seperti sebuah bahasa, logis jika dikatakan bahwa dalam perspektif kebahasaan, sebuah film terkena hukum-hukum bahasa. Masalahnya—sebenarnya bukan masalah juga di era jaman sekarang ini—film bicara dengan bahasa gambar. Bahasa visual. Bukan berarti sebuah film tidak memerlukan literasi dan numeracy sebagai sebuah bahasa yang sudah secara sempurna digunakan oleh manusia, namun penempatan aspek-aspek visual (graphicacy) dalam film biasanya didahulukan oleh para filmmaker ketimbang jenis bahasa yang lain.

Karena itulah, dalam A Letter For Mommy, saya melihat Aji banyak menggunakan elemen visual yang sederhana namun efektif. Kebetulan saya memang sudah memperhatikan sutradara asal Lampung ini sejak ia merilis film ketiganya, Host (2013), lalu saya juga terlibat dalam film keempatnya, Agus dan Agus (2015), dan kini menonton A Letter For Mommy (2017). Dari ketiga film itu,  saya melihat ada peningkatan konsistensi Aji dalam menggunakan teknik bahsa gambar; yang mana salah satunya adalah Triangle Composition. Mungkin ini adalah teknik yang merupakan basic theory dari seorang pembuat film, tapi kekonsistenan Aji dalam teknik ini membuat kita semua diingatkan bahwa tak masalah jika kita membuat karya dengan menggunakan teknik-teknik dasar, asal digunakan dengan sempurna.

Bicara Tentang Triangle Composition

Lepas dari film Agus dan Agus (2015) yang memang bersetting di satu ruangan dengan tiga aktor—sebuah kondisi yang membuat triangle composition mutlak terjadi—dalam A Letter For Mommy jalinan cerita dirangkai dari tempat-tempat yang berbeda dan melibatkan banyak aktor, namun Aji tetap konsisten dengan teknik tersebut.

Saya menyadarinya saat melihat scene minum kopi di sekitar menit 16.30. Pada permulaan adegan, saat tokoh Ranu (Chicco Jerikho) masuk ke dalam frame, sudah ada dua orang Bapak yang duduk minum kopi. Keberadaan Ranu di sana membuat terciptanya pola segitiga. Tapi tanpa sebab yang jelas, Bapak berbaju merah pergi keluar dari frame.

 

triangle 01
Segitiga yang terbentuk pada permulaan scene, saat tokoh Ranu baru datang. Masih tampak Bapak berbaju merah. Sebelum ia keluar beberapa detik kemudian

Saya bertanya-tanya kenapa Bapak itu dikeluarkan? Ternyata jawabannya adalah karena kamera akan berpindah ke depan Ranu, maka secara visual Aji merasa perlu mengeluarkan satu orang agar kembali tercipta titik-titik bangun ruang segitiga dalam gambar

triangle 02
Segitiga yang terbentuk setelah kamera berpindah, dan tokoh Mak harus melakukan dialog dengan Ranu. Tampak efek dari kepergian Bapak berbaju merah pada keseimbangan gambar

Setelah menyadari hal itu, maka saya mulai melihat bahwa komposisi inilah yang konsisten digunakan Aji dalam bangunan A Letter For Mommy.

Jake Garn, nominator ajang Iconique Societás Awards 2009 dan peraih Honorable Mention pada ajang International Color Awards 2011 mengatakan dalam tulisannya yang berjudul Power of the Triangle bahwa, sebenarnya dalam triangle composition itu tidak ada rahasia apa-apa, bahkan sebenarnya itu bukan sebuah trik sama sekali. ”This simple compositional principle is deep rooted in our sub consciousness desire for simplicity and completeness.” Tegasnya.

Sudah sejak lama para fotografer dan pekarya visual memperhatikan betul bentuk segitiga ini, bahkan lukisan Monalisa juga dibuat oleh Leonardo da Vinci dengan menggunakan komposisi segitiga. Satu hal yang dimiliki komposisi ini adalah keseimbangan yang dirasakan oleh penonton, karena secara visual frame akan terisi secara seimbang. Itu seperti kita mendengarkan dialog atau pembicaraan seseorang dengan tepat, tidak terlalu cerewet hingga menumpuk informasi, tidak juga terlalu sepi makna.

Komposisi segitiga akan menimbulkan visual interest tersendiri pada gambar, meski mungkin kita tidak menyadarinya, tapi—seperti yang dikatakan Garn—alam bawah sadar kita mengerti akan keseimbangan itu.

Dikutip dari sebuah artikel pendek di theschoolofphotography.com yang berjudul “Composition in Photography – Using Triangles, dikatakan bahwa: One way to make your compositions more interesting is to try to create triangles within your composition – they help divide the frame, guide the eye, and just add visual interest. In construction triangles are the strongest shape because any force is evenly spread through all three sides.

Saya menggarisbawahi kata triangles are the strongest shape, ini bukan hanya berkaitan dengan kekuatan konstruksi, tapi juga perasaan. Bentuk segitiga bukan saja membuat gambar menjadi tampak seimbang, tapi juga  membuat penonton/ penikmat gambar akan merasakan sesuatu yang kuat. Objek yang tampak kuat. Atau sering disebut: To enhance a feeling of strength.

Pancaran kekuatan yang dirasakan oleh penonton ini penting agar perhatian mereka tidak teralih dari gambar. Malah lebih jauh lagi, agar mereka terhanyut pada gambar yang tersaji di depan mata mereka. Saat mereka bisa menikmati gambar yang tersaji, maka pesan dari film tersebut akan bisa sampai dengan baik. Ketika itulah proses komunikasi baru sah terjadi. Yaitu saat pesan dari komunikator (sutradara) sampai kepada komunikan (penonton) lewat sebuah media bahasa yang disepakati bersama (film/ bahasa gambar)

Memang dalam ruang lingkup sebuah bahasa gambar (graphicacy) yang digunakan untuk menyampaikan pesan, ada banyak “komposisi” yang bisa diterapkan—biasanya tersaji dalam bentuk framing, komposisi, atau movement—contohnya: Golden Ratio, Rule of Thirds, Quadrant System, The Poetry of Details, Geometry of Scene, dan Composing Movement. Semua punya maksud dan fungsi masing-masing yang jika dibedah akan membuat tulisan ini menjadi panjang sekali. Namun intinya tetap saja, komposisi segitiga bukan satu-satunya komposisi yang bisa dipakai.

Namun, dalam A Letter For Mommy, Aji Aditya menahan mata penonton lewat konsistensi komposisi segitiga yang disajikan dari scene ke scene. Konsistensi ini yang membuat sebuah komposisi memiliki efek yang membekas. Sebab daripada membuat banyak komposisi dalam satu film tapi tidak ada yang memberi efek pada penonton, akan lebih baik jika seorang sutradara bertahan pada satu jenis komposisi, dan memunculkannya sesering yang ia bisa. Karena semakin sering komposisi tersebut muncul, maka alam bawah sadar penonton akan terpengaruh. Apalagi jika kita bicara tentang film pendek.

List gambar dengan komposisi segitiga dalam A Letter For Mommy
triangle 03
Scene opening sudah menampilkan komposisi segitiga: gunung, perahu, dan seorang lelaki berdiri di pantai. Secara visual ini memberikan keterangan tempat cerita, sekaligus menampakkan kekukuhan lelaki itu
triangle 04
Scene ini menampakkan segitiga: ayah, anak, dan bendera kuning yang merepresentasikan sosok yang sudah tak ada: Ibu Memberikan pesan kuat bahwa keluarga ini sudah tak lengkap
triangle 05
Scene ini adalah scene dengan unsur komedi paling kuat dalam film. Komposisi segitiga diperlukan bukan hanya untuk memperkuat strength komedinya, namun juga memperkuat pesan kepanikan antara dua aktor yang tengah dihadapi Aryo
triangle 06
Tas adalah aspek yang mengakhiri scene ini, sekaligus membuktikan kebohongan lelaki gendut serta menerbitkan kemarahan Ranu. Untuk memperkuat ketiga hal itu (kebohongan, kemarahan, dan barang bukti) maka digunakan komposisi segitiga
triangle 07
Ini adalah scene pertarungan final, masuk atau tidaknya bola itu ke gawang yang dijaga Ranu akan menentukan hidup matinya Aryo. Untuk memperkuat ketiga aspek tersebut (Ayah yang ingin bertahan, Anak yang ingin mati, dan bola sebagai penentu) maka digunakan komposisi segitiga
triangle 10
Pada scene dengan emosi yang paling tinggi di film ini, yaitu saat Ranu berhasil “memiliki kembali” Aryo, diperlukan dua komposisi segitiga. Komposisi dengan gunung menampakkan strength (kekukuhan) mereka, dan komposisi bentuk tubuh Ranu –Aryo menunjukkan emosi mereka
triangle 09
Pada scene perpisahan saat tokoh Ibu “menitipkan” Aryo pada Ranu, digunakan lagi komposisi segitiga untuk memperlihatkan emosi yang terjadi antara keluarga ini

[collapse]

Nah, seperti yang sudah disebutkan di atas, bentuk segitiga bukan saja membuat gambar menjadi tampak seimbang, tapi juga  membuat penonton/ penikmat gambar akan merasakan sesuatu yang kuat. Objek yang tampak kuat. Atau sering disebut: To enhance a feeling of strength.

Kekuatan ini penting untuk membuat penonton terpaku pada layar dan nyaman menikmati gambar demi gambar. Jika penonton sudah “terhisap” oleh gambar di layar, maka pesan film pun akan merasuk ke benak mereka. Untuk A Letter For Mommy, Aji juga menahan mata penonton untuk memasukan pesan tertentu di filmnya.

Jadi apa yang ingin dikatakan oleh Aji dalam film ini?

Pars Pro Toto Untuk Mengkonkritkan Sesuatu yang Abstrak

Pada opening film ini, muncul dua baris tulisan yang berbunyi “Most of people with HIV in Indonesia are housewives. They get the virus from their husband”. Kalimat itu membuat relasi yang tepat dengan narasi pembuka yang disajikan lewat suara tokoh Ranu. Sejak awal ia langsung bicara tentang kerinduan pada istrinya, dia berkata sejak istrinya tak ada maka semuanya berbeda. Lalu muncul gambar bendera kuning dan informasi selanjutnya bahwa karakter sang anak bernama Aryo (diperankan oleh Aryo Imaddudin) berubah sejak istrinya tak ada, penonton bisa menangkap bahwa istri Ranu sudah meninggal, dan peristiwa kematiannya pasti ada sangkut paut dengan virus HIV.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang film, kita melihat dulu urgensi tema A Letter For Mommy dibandingkan dengan realita di luar sana.

Dilansir dari liputan6.com (21/7/2016) Penelitian baru yang dirilis International AIDS Conference di Durban, Afrika Selatan menemukan, laju infeksi HIV baru di Indonesia meningkat lebih cepat daripada negara-negara lain di Asia Tenggara. Healthdata juga mencatat, antara tahun 2005-2015, kasus HIV baru tumbuh rata-rata 3,2% per tahun di Indonesia. Padahal, pada rentang waktu yang sama, cakupan Antiretroviral Therapy (ART) di Indonesia hanya sebanyak 11,7%, yang berarti Indonesia adalah salah satu negara yang paling sedikit mendapat ART.

Kombinasi jumlah infeksi baru yang tinggi dan cakupan ART rendah ini terbukti bersifat mematikan di Indonesia. Lepas dari pertambahan jumlah penderita, faktanya pada tahun 2015 HIV/AIDS sudah membunuh 18.560 penduduk Indonesia, yang mana itu artinya meningkat sebanyak hampir enam kali lipat sejak tahun 2005. Dengan data seperti ini, maka jelas HIV/AIDS merupakan sesuatu yang memang harus diperhatikan.

Masalahnya, seberapa akrab kita semua dengan situasi ini? Seberapa sering kita mengingat bahwa HIV/AIDS ada di sekitar kita? Seberapa sering kita mencari tahu apa yang harus kita lakukan pada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di sekitar kita?

Selama ini, dengan statusnya sebagai sebuah virus yang berukuran mikro, keberadaan HIV seolah menjadi sesuatu yang mikro juga di mata kita, padahal sesungguhnya ia begitu dekat. Dia akan hadir tanpa kita semua sempat menyadarinya. Kita menolak untuk peduli. Sehingga lambat laun HIV lantas menjadi sesuatu yang abstrak, sulit dipahami, dan jauh dari kehidupan kita. Tanpa sadar bahwa ia sesungguhnya begitu dekat.  Lebih dekat dari yang kita kira selama ini.

Dalam A Letter For Mommy, Ranu digambarkan sebagai seorang lelaki dengan sosok yang teguh, kukuh, bijaksana, dan penuh tanggungjawab. Sulit rasanya orang seperti dia terjangkit AIDS, apalagi sampai menyebabkan istrinya meninggal. Namun faktanya, hal seperti itu mungkin sekali terjadi.

Misalnya seperti sebuah kasus yang menimpa Angelina di Sorong, Papua Barat, dilansir dari unicef.org (8/10/2012) dalam artikel itu disebutkan bahwa: Angelina hanya salah satu korban yang polos dan  tidak tahu menahu tentang HIV di Indonesia. Ia hanya orang biasa yang bahkan tidak pernah melakukan tindakan beresiko, tetapi tetap tertular. Kasihan Anjelina, dia tidak mengerti apa-apa, tapi karena virus tersebut pada bulan Juni 2002, suaminya meninggal. Enam bulan kemudian bayi perempuannya juga meninggal. Barulah ia tahu penyebabnya, sekaligus diberi tahu bahwa ia juga terinfeksi HIV.

Dari sini jelas terlihat bahwa  seseorang menjadi ODHA bukan melulu akibat urusan seksual, tapi juga banyak sebab lain. Namun apapun penyebab terjangkitnya, setiap ODHA tetaplah menghadapi konflik yang sama, kemelut yang sama, dan rasa sakit yang sama, dan tentu perlu kepedulian yang sama.

Nah, dalam ruang inilah A Letter For Mommy bermain, dengan mengajukan visual dari sebuah keluarga yang sudah tidak lengkap lagi. Hanya ada anak (Aryo) dan ayah (Ranu)—keduanya juga ODHA—mereka mencoba menyelesaikan konflik yang timbul akibat rasa kesepian dan kerinduan mereka pada sosok seorang ibu. Sebuah konflik yang—seperti sudah dikatakan di atas—ada, namun terasa begitu abstrak.

Untuk menyingkap keabstrakan ini—dan dalam pengertian film (bahasa visual) sebagai sebuah bahasa (serta terkena hukum-hukum kebahasaan)—tepat kiranya jika secara konsep, A Letter For Mommy diumpamakan tampil seperti sebuah majas perbandingan.

Seperti yang kita tahu, majas perbandingan—seperti majas metafora misalnya—haruslah mendeskripsikan sebuah ide (gagasan, tema, pesan, atau topik) dalam ranah perbandingan. Oleh sebab itu syarat untuk membuat majas perbandingan yang tepat adalah adanya kemiripan antara topik (ide) dengan “wahana majas”, atau bentuk dari majas yang hendak diungkapkan. Kemiripan itu merupakan keharusan. Karena itu dikatakan bahwa fungsi majas perbandingan justru untuk membuat sebuah gagasan yang tampak abstrak menjadi konkrit.

Saya sendiri mengategorikan majas perbandingan yang tepat untuk A Letter For Mommy adalah Sinekdoke Pars Pro Toto. Sebuah majas perbandingan yang mengungkapkan sebagian untuk menyatakan keseluruhan.

Karena apa yang ada di dalam film tersebut adalah mungkin sebagian kecil saja dari kasus-kasus HIV/AIDS di Indonesia, namun seperti sifat majas tersebut, film ini mengungkapkan sebagian aspek, untuk menyatakan keseluruhan.  Kita semua yakin bahwa realita kehidupan ODHA atau kasus-kasus HIV/AIDS sebenarnya lebih luas daripada yang tampil di layar A Letter For Mommy. Namun sebagai sebuah film, A Letter For Mommy sanggup menyentil penontonnya, menarik mereka ke realita yang selama ini cenderung abstrak: bahwa HIV/AIDS ada di sekitar kita.

Dalam titik ini, saya juga melihat kemampuan A Letter For Mommy sebagai sebuah majas perbandingan, yaitu membuat sebuah gagasan yang tampak abstrak menjadi konkrit. Setelah menonton dan mencermati kegelisahan di benak Ranu serta Aryo, kita semua mendadak seperti disodori sesuatu yang kongkrit tentang kehidupan keluarga ODHA. Seperti sesuatu yang dilempar tepat ke muka kita, memaksa kita membuka mata lebar-lebar dan melihat kenyataan di sebuah sudut kecil kehidupan.

Cukup sudut kecil saja, karena memang bukan tugas film itu untuk menyodorkan semua aspek. Karena dalam konsep Pars Pro Toto, suatu bagian kecil yang ditampilkan kiranya sudah cukup untuk menggambarkan keseluruhan. Atau bila memang penonton masih merasa penasaran, maka biarlah mereka menjadikan film tersebut sebagai pondasi untuk mencari realita-realita lain yang belum terungkap. Memaksa kita semua untuk menggali realitas lain yang belum sempat terungkap, yang mungkin lebih besar ketimbang konflik kecil yang tersaji dalam cerita berdurasi 28 menit.

Ya, memang ini adalah celah kecil dibanding besarnya realita lingkaran konflik ODHA. Saking kecilnya, kita yang tak sempat memperhatikan itu. Sebab apalah arti seorang Angelina yang tinggal di Sorong, atau bahkan Ranu serta Aryo yang bahkan mereka berdua adalah tokoh fiktif, dibanding kesibukan kita memikirkan hal-hal besar setiap hari. Tapi lewat film ini, Aji berhasil membuat kita tidak bisa memungkiri bahwa orang-orang seperti Ranu dan Aryo itu ada, dan menuntut respon dari kita semua.[]

Sumber DataS…S

  • Carroll, Barry O. Petapixel. petapixel.com. [Online] September 14, 2016. [Cited: Oktober 5, 2017.] https://petapixel.com.
  • Garn, Jake. com. jakegarn.com. [Online] September 27, 2010. [Cited: Oktober 4, 2017.] http://jakegarn.com.
  • Kuang, Cliff. evidence: fastcodesign.com. fastcodesign.com. [Online] Juni 16, 2015. [Cited: Oktober 5, 2017.] https://www.fastcodesign.com.
  • Pratiwi, Julita. Persona: cinemapoetica.com. cinemapoetica.com. [Online] Februari 16, 2016. [Cited: Oktober 4, 2017.] http://cinemapoetica.com.
  • The School of Photography. Photography Resources for Teachers: The School of Photograp theschoolofphotography.com. [Online] [Cited: Oktober 4, 2017.] https://www.theschoolofphotography.com.
  • UNICEF Indonesia. Kisah Nyata: UNICEF Indonesia. UNICEF Indonesia. [Online] 2012. [Cited: Oktober 8, 2017.] https://www.unicef.org.

 

 

Share This:

Related posts:

Death Bell: Ini Film Slasher Pendidikan?
Film Death Bell dari Korea ini adalah karya Kim Sang Man (ditulis di kotak DVD) atau Yoon Hong-seung (ditulis di situs resminya) yang rilis tahun 2008. Film ini sebenarnya termasuk ke genre slasher. S...
Meneliti Industri Film Porno (Amerika)
Tidak bisa dipungkiri bahwa film porno itu ada, film ini merupakan varian dari romantic films (yang di dalamnya juga ada kategori semi-porno, sexual films, dan erotic films), dan termasuk ke sebuah ge...
Prisia, yang Eksotik...
Udah lama banget ya saya nggak ngupdate web ini, termasuk melanggar juga jadwal rutin ngupdate cewek of the week :D haduh... ya udah deh saya update sekarang. Pilihan saya minggu ini adalah Prisia Nas...
Buried, Film Panjang dengan Satu Aktor!
Wew, satu kata buat film ini: Briliant! Serius, tadinya saya merasa agak pesimis ketika ada teman yang menyarankan  nonton. Itu karena saya berpikir: apa mungkin ada film yang enak ditonton 90 menit, ...
Film dan Nasionalisme Polisi Tidur
Bicara nasionalisme, sebenarnya nasionalisme Indonesia ini lucu. Panji Pragiwaksono pernah menulis bahwa bangsa Indonesia itu seperti desa Galia yang ada di komik Asterix. Galia adalah sebuah desa yan...
Hasil Jarahan: Swing Girls
Kebiasaan saya menjarah komputer teman demi untuk mengumpulkan film kadang membuat saya beberapa kali nemu film-film bagus (Atau mungkin tepatnya bukan film bagus sih, tapi film yang memang sedang say...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.