H-74: Mengapa Memilih Durasi 18 Jam?

Selama menjadi anggota FLP, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Dan seperti layaknya sebuah proses, dalam setiap novel yang keluar, saya berusaha mencapai satu level tertentu. Ada satu hal baru yang saya coba, saya perjuangkan sampai selesai.

Karena untuk saya, menulis bukan hanya tempat bercerita, tapi juga tempat berkesenian, dan sebuah seni harusnya terus digubah untuk mencari hal-hal baru, mencari bentuk dan terobosan baru—meski terobosan itu hanya berlaku bagi si pekarya, tak apa-apa.

Karena bagi saya, seni yang terus dibuat stagnan atau jadi terbentuk oleh sebuah template yang tidak berkembang dalam waktu lama, lambat laun akan seperti genangan air yang tak mengalir. Kotor, busuk, dan jadi sarang nyamuk.

Karena itulah dalam novel Hantu Jeruk Nipis (2009) saya membuktikan diri mampu menulis novel komedi, dalam Fortunali (2012) saya membuktikan diri mampu mengadaptasi film menjadi novel, dalam Senyum Sunyi Airin (2016) saya membuktikan diri mampu mengejar bentuk karakter tokoh yang konsisten ada di area abu-abu.

Sementara dalam Meja Bundar (2016) saya membuktikan diri mampu membuat novel dengan durasi waktu yang pendek dan seting tempat yang minimalis. Tidak heran jika novel sepanjang 312 halaman ini hanya memiliki tiga lokasi konflik (ruang makan, pinggir kolam renang, dan kamar) dan total durasi cerita ±18 jam (cerita dimulai sekitar jam 07.00 pagi dan selesai jam 01.00 dinihari)

Mengenai seting waktu dan tempat yang pendek serta minimalis, ini dimulai saat saya aktif di dunia film. Saat itu, saya seringkali terpesona dengan film—harus film panjang—yang mampu mewujudkan aspek-aspek tersebut, baik hanya salah satu atau keduanya. Maka tidak heran jika di list film favorit saya ada judul-judul semacam Phone Booth (Joel Schumacher, 2002), Tape (Richard Linklater, 2001), Buried (Rodrigo Cortés, 2010), dan Jermal (Rayya Makarim, 2008).

Menonton film-film di atas membuat saya penasaran, apakah mungkin saya membuat novel yang memiliki seting waktu singkat serta tempat yang minimal? Karena—anggap saja saya masih kurang baca buku—novel-novel yang pernah saya baca selalu saya memiliki rentang waktu cerita yang panjang dan banyak tempat yang harus dikunjungi oleh tokoh-tokohnya. Mungkin tempat yang minimal dan waktu yang singkat memang sulit diterapkan pada karya berbentuk teks, tapi kan itu semua masih kemungkinan, sejak awal saya menolak untuk percaya bahwa pola seperti itu hanya miliki eksklusif seni film.

Saya ingin percaya bahwa novel juga memiliki ruang untuk plot seperti itu. Tapi untuk percaya saya harus membuktikannya, karena ada hal-hal di dunia ini yang harus dibuktikan, tidak cukup hanya lewat diskusi ilmiah atau perdebatan.

Maka proses penulisan pun dimulai. Tidak mudah, terutama karena referensi yang kurang—sekali lagi mungkin karena saya masih kurang baca buku—dan masalah baru juga muncul karena di tengah penulisan saya berpikir untuk membangun novel ini dalam dialog. Maksudnya, saya berusaha mengabaikan bahwa novel adalah sebuah karya seni yang memiliki ruang untuk bernarasi sepanjang apapun yang kita mau. Karena di tengah pengerjaan itu saya berpikir: Mungkinkah sebuah novel disusun dari dialog?

Untuk menjawab pertanyaan itu, referensi saya kembali pada film, selain judul yang sudah saya sebutkan di atas tadi, referensi saya tambah dengan menonton karya tiga Richard Linklater,  The Before Trilogy (Before Sunrise (1995), Before Sunset (2004), Before Midnight (2013)) serta film Tiga Hari Untuk Selamanya (Riri Riza, 2007). Saya mempelajari pola dialog, mengapa sebuah dialog terjadi dan mengapa dialog itu penting untuk dilakukan. Untunglah saya sudah pernah mendapat pendidikan menulis skenario, sebuah karya tulis yang dominan dialog. Jadi sedikit banyak hal itu membantu dalam proses penulisan.

Kini setelah Meja Bundar selesai, saya sudah buktikan bahwa ada novel yang bercerita dalam durasi singkat, seting minimal, dan dibangun dari dialog. Saya puas, tapi bukan berarti ini adalah karya penutup. Saya masih ingin menulis novel dengan aspek sejenis, hanya saja mungkin waktunya tidak 18 jam lagi, sedikit lebih panjang lah… rasanya lumayan lelah memadatkan cerita kurang dari satu hari. Dalam menulis saya masih perlu bernafas sedikit lega.[]

aaa

Model Cover: Nita Hidayati Inayah

aaa

MEJA BUNDAR

Informasi Buku: http://bit.ly/mejabundar

Pesan via Website: http://bit.ly/pesan-mejabundar

Pesan via Whatsapp: 0823-2006-3397, 0838-9079-0002

Pesan via LINE: bitread_id

aaa

_________________________________________________

Tulisan-tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena periode kepengurusan 2013-2017. Dalam waktu 100 hari menuju tanggal Munas (3 November 2017), saya akan membuat 100 tulisan tentang Forum Lingkar Pena dari sudut pandang saya sendiri. Mungkin pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak terlalu bagus, mungkin beberapa ada yang terlalu tendensius, subjektif, atau menyinggung. Tapi saya tidak sedang ingin menyanjung, saya hanya ingin bercerita apa adanya. Tentang saya, dan sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Menulis Dengan Pintu Tertutup
Malam ini saya gembira, sebab novel yang sudah saya kerjakan (kami kerjakan, karena saya dapat banyak bantuan dari mbak Latree Manohara) sekitar lima tahun akhirnya selesai ditulis. Saya mulai pada bu...
Mau Bagi-Bagi Buku (Lagi)
Untuk kedua kalinya dalam waktu setahun ini saya kembali harus menguras rak buku. Yang pertama bulan Februari 2016, saya melepas sekitar 75 buah buku ke sebuah acara pemutaran film yang menyediakan ju...
Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar
(1) Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari p...
H-90: Saya Menjadi Anomali
Short Cuts (Robert Altman, 1993), durasi 3 jam, 10 alur cerita, dan 22 karakter utama. Sebuah potret muram dari kehidupan sehari-sehari kelas menengah dan pekerja di Los Angeles. Orang-orang biasa den...
H-83: Masuk FLP, Mencari (Jodoh) Penulis
Kalau dalam postingan Bidadari Kota C 1, 2, dan 3 (kalau mau baca klik saja angkanya) saya bercerita tentang perempuan, itu bisa dianggap sebuah tulisan yang seperti kata Seno Gumira Ajidarma: Mau dis...
H-76: Tentang Ide Registrasi Online FLP
Saya tidak percaya pada “keterjebakan”, tapi tetap saja perlu alasan yang logis tentang segala hal. Karena sebenarnya, bergabungnya saya ke pengurus pusat Forum Lingkar Pena merupakan hal yang sedikit...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.