Mengapa Menulis Tentang Kematian?

Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Di novel ini saya membahas tentang kematian, atau lebih tepatnya tentang tiga orang yang berusaha menyingkap misteri kematian. Setelah novel itu terbit, ada beberapa pertanyaan mampir ke inbox, salah satunya cukup sederhana: kenapa bercerita tentang kematian?

Setelah ditelaah, saya seperti bisa membayangkan maksudnya, ini bukan pertanyaan behind the scene yang berada di kulit, pertanyaan ini saya yakin menuntut penggalian lebih dalam. Dia tidak bertanya latar belakang cerita, tapi dia bertanya apa yang sebenarnya saya alami, sebagai penulis, secara pribadi, hingga menuliskan tema ini.

Ini menarik karena sebenarnya saya cukup sering membahas tema kematian, saya cukup menggemari pembahasan tentang kematian. Saya pernah mengumpulkan dua belas cerpen terbaik yang saya punya—ingin menerbitkannya jadi sebuah buku tentu saja, tapi tidak jadi karena terlalu jelek. Tapi kita tidak sedang bicara tentang kualitas, kita bicara tema—dan mengejutkan karena tiga peringkat teratas cerpen itu bicara tentang kematian.

Sebenarnya ada apa antara saya dengan kematian?

Untuk menjawabnya, saya perlu membuka rahasia kecil: pada tahun 2004 saya pernah hampir bunuh diri. Penyebabnya tidak usah diceritakan, tapi begitulah realitanya. Pergulatan saya dengan scene bunuh diri itu mengubah sudut pandang saya kepada hidup dan mati. Sejak saat itu saya tidak lagi melihat kematian sebagai sesuatu yang spesial, kenapa jadi spesial jika semua orang mengalami hal yang sama? Sejak saat itu saya juga tidak lagi melihat kematian sebagai sesuatu yang misterius, kenapa jadi misterius jika “barang” itu sudah dipastikan datang?

Oh, mungkin maksudnya di “waktu kedatangan”, aspek itu yang membuat kematian jadi misterius, karena kita tidak akan pernah tahu kapan ia akan datang. Baiklah, kalau begitu… kedatangan bus DAMRI Cicaheum – Leuwipanjang juga masuk sesuatu yang misterius dong?

Realitas setelah kematian, dan momen menjelang kematian pada akhirnya selalu mengganggu pikiran saya. Saya ingin sekali menuliskan dan menyingkap rahasia-rahasia di balik itu, saya ingin menuliskan pengalaman saya bertempur dengan peluang hidup dan mati sama besarnya. Saya ingin berbagi cerita betapa saya pernah begitu dekat dengan sebuah keindahan—ya, saya tidak salah tulis—sebuah keindahan, momen ketika masalah saya sebentar lagi akan selesai.

Sedikit menyebalkan saat tahu bahwa pada akhirnya saya memilih untuk tetap hidup, tapi juga sebenarnya melegakan karena saya akhirnya bisa menentukan pilihan, dengan segala risikonya. Maksudnya, akhirnya saya tetap hidup sampai saat ini, hidup dengan segala tanggung jawab yang harusnya dipegang oleh orang hidup.

Pada akhirnya saya ingin menuliskan itu semua, menuliskan semua yang saya alami, saya ingin mewakilkan perasaan-perasaan itu kepada tokoh-tokoh yang saya hidupkan. Karena itulah saya ingin jadi penulis. Saya ingin menulis.

Seingat saya, momen bunuh diri itu terjadi beberapa minggu setelah saya ada di FLP, saat itu saya baru masuk, belum benar-benar ingin jadi penulis. Mungkin tidak dominan, tapi sedikit banyak itu yang membuat saya bertahan disana, untuk tetap belajar menulis. Saya tahu untuk mencapai momen seperti yang saya bayangkan, sangat banyak hal yang harus dipelajari, karena itu saya memulai pelan-pelan.

Saya mengawali dari menulis puisi, cerpen, lalu beranjak menuju novel. Sedikit-demi sedikit saya belajar memasukkan unsur kematian. Misalnya lewat cerpen-cerpen yang saya buat di dua tahun awal, seperti: Hari Kematian Nenek (2005), Melukis Tuhan (2005), S.U.W.U.N.G (2005), Lelaki Berdasi Kupu-Kupu (2005), atau Menanti Akhir Hari (2006). Sampai saya mulai mencoba-coba menyelipkannya di dalam novel. Dimulai dari belajar membuat karakter “kontradiktif” yang berorientasi pada kematian (seperti tokoh Irwan Rahardian di novel Senyum Sunyi Airin), sampai tokoh-tokoh semacam Kirani, Elias, Azzuhri yang benar-benar bertujuan menyingkap rahasia kematian di novel Meja Bundar.

Jika sebuah novel dibangun dari tanda tanya besar, maka apakah Meja Bundar—yang memang fokus pada soal kematian—bisa menjawab pertanyaan saya? bisa memuaskan saya? Bisa dibilang mengakomodir keinginan saya mewartakan aspek –aspek kematian? Jawabannya hanay bisa didapat di akhir karir menulis saya, di satu titik saat saya memutuskan untuk pensiun. Di sana mungkin saya baru bisa tahu apakah novel Meja Bundar sudah memuaskan saya, apakah saya tidak tergoda membuat novel-novel berikutnya yang mengupas aspek sejenis.

Nah, masalahnya: apakah seorang penulis bisa benar-benar pensiun saat dia masih hidup? Atau kematian, adalah titik akhir yang menghentikan seseorang dari menuliskan semua pertanyaan dan kisah-kisahnya?

Percayalah, ini tidak akan pernah selesai, Bahkan sampai baris terakhir, saya sudah bertanya lagi kan?[]

aaa

MEJA BUNDAR

Informasi Buku: http://bit.ly/mejabundar

Pesan via Website: http://bit.ly/pesan-mejabundar

Pesan via Whatsapp: 0823-2006-3397, 0838-9079-0002

Pesan via LINE: bitread_id

aaa

 

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Gagal Deskriptif Karena Sombong
Maaf ya, ini bukan ri'ya atau pamer, tapi saya cuma ingin berbagi cerita soal masalah menulis yang saya temui hari ini... siapa tahu bisa jadi bahan masukan buat teman-teman yang lagi belajar menulis ...
Akhir Dari Sebuah Perjalanan
Ketika sedang menuliskan kata pengantar untuk novel ini, pada saat yang bersamaan saya juga sedang meladeni seorang reporter yang ingin melakukan wawancara. Memang wawancara itu berlangsung menyenangk...
Dikutuk Untuk Selalu Optimis
Kemarin saya baru me-lock draft lima novel "Meja Bundar", naskah ini kami (saya dan mbak Latree) kerjakan selama lima tahun, dan draft lima adalah keputusan akhir yang harus diambil karena k...
Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar
(1) Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari p...
Mengapa Memilih Durasi 18 Jam?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Dan seperti layaknya sebuah proses, dalam setiap novel yang keluar, saya berusaha mencapai satu level...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.