H-81: Mencermati Kelahiran Para Penyair

Pada bulan Agustus 2007, sepuluh tahun yang lalu, saya pernah menulis ini, dan saya agak terkejut melihat dalam persentese tertentu tulisan ini ternyata masih cukup relevan dengan Forum Lingkar Pena. Selamat membaca.

Sesuatu yang tak biasa terjadi di Gedung Landmark Bandung saat berlangsungnya Pameran Buku. Sore itu (1/8/2007) terbit tiga antologi puisi secara bersamaan, yaitu Kapak Ibrahim,Catatan Dari Yang Ketakutan (5 penyair), Jurnal Seorang Pecinta (Nurfahmi taufik Al-Shab) dan Festival Surat Cinta (Aurasinai). Ketiganya ditebitkan oleh Pustaka Latifah

Jadi bisa dibilang, dalam waktu kurang dari dua jam saja 83 puisi resmi “ditahbiskan”. Yang membuat hal ini tak biasa adalah, puisi-puisi itu lahir dari komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang justru selama ini lebih identik dengan karya cerpen dan novel (meski tanpa bermaksud ”memarginalkan” puisi). Ketiga antologi ini seolah melanjutkan antologi puisi Perjalanan Yang Bulan (M. Irfan Hidayatullah) yang terbit bulan Februari 2007, sebuah antologi milik Ketua Umum FLP yang berisi sekitar 150 puisi.

Bicara soal puisi—dibanding komunitas sastra lain, jelas FLP jauh tertinggal. Namun sebenarnya bila diperhatikan, dalam setahun belakangan ini mulailah bermunculanlah komunitas puisi dari FLP, masih ditambah kelompok-kelompok musikalisasi puisi, misalnya saja Kapak Ibrahim dan Duo Cadar Hitam.

Melihat kenyataan ini, bolehlah kalau kita memiliki sedikit harapan akan bangkitnya dunia puisi religius (baca : Islami) seperti pada dekade 1980-an, mengingat FLP adalah satu dari sekian sedikit komunitas sastra yang berlandaskan ideologi Islam. Apalagi setelah saya memiliki kesempatan membaca sebagian karya mereka, saya menangkap komitmen mereka untuk terlibat dengan “Perjalanan jiwa menuju Sang Pencipta”, ini senada dengan kalimat M. Fudoli Zaini yang mengatakan bahwa menulis baginya adalah sebuah ibadah, penyingkapan yang terus menerus atas tabir yang membatasi kita dengan Allah, dan perjalanan yang tak henti-hentinya dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Memang harus diakui, keberhasilan sebuah puisi religius memang bukan karena berdimensi religius semata, tapi didalamnya juga ada dimensi kebenaran dan keindahan yang seimbang. Mengenai hal ini, Emha Ainun Nadjib berpendapat, puncak keberhasilan puisi ialah bertemunya kebenaran dan keindahan. Dimana kebenaran ditawarkan oleh agama, sedangkan agama selalu bermuara padaTuhan.

Pertanyaannya, di tengah tuntutan keseimbangan antara kebenaran dan keindahan itu, berapa banyak anggota FLP mampu “melahirkan” puisi yang seimbang? Sebab sekarang puisi tampak lahir dan berkembang layaknya cendawan. Tampaknya siapapun bisa menulis, lalu berkelompok menerbitkan karyanya untuk mendapat pengakuan sebagai penyair.

Hal ini berbeda dengan apa yang—misalnya—dilakukan Chairil Anwar, dia menyerang hingga terbuang dari kelompoknya, Chairil menulis karena merasa dia harus menulis, tak pernah terpikir bahwa dirinya adalah penyair sehingga dia mampu menemukan dirinya dalam sajak. Sementara—yang saya takutkan—ada kemungkinan para penulis puisi yang baru bangkit ini, menulis puisi hanya karena emosi yang meronta minta dikeluarkan, sehingga puisi “hanya” menjadi semacam catatan luka, lalu terakumulasi dalam kelompok yang didirikan sendiri dengan berbagai corak dan penanganan.

Akibatnya apa? Dikhawatirkan akan muncullah puisi yang miskin intelektualitas, penuh dengan kegagapan menggunakan bahasa, dan menjadi bisu ditengah masyarakat, atau seperti yang dikatakan Nirwan Dewanto sebagai “puisi yang terjebak dalam keseragaman.”

Jelas, puisi-puisi sepeti ini tidak akan berfungsi dalam kehidupan. Sebab dunia puisi adalah adalah dunia yang memerlukan keberanian untuk membahasakan realitas, membaca tanda-tanda baik kitabiah maupun kauniah, dan keberanian untuk selalu berucap jujur.

Ramadhan KH pernah berujar bahwa penyair adalah dia yang harus berani menjadi kayu dalam pembakaran. Karena itulah bisa kita lihat pada dekade 1960-an, saat para penyair yang mengusung puisi Islami seperti Taufiq Ismail, Goenawan Muhammad, Ali Audah dan nama-nama lain, harus berani berhadapan dengan karya-karya realisme sosial dari para sastrawan Lekra. Lalu pada era 80-an kita tahu bagaimana nama-nama seperti Emha Ainun Nadjib dan WS Rendra memperjuangkan puisinya. Sampai pada tahun 90-an dimana seorang Widji Tukul pun bersuara melawan pemerintah, sampai diculik dan tak kembali lagi.

Itulah yang seharusnya didapat dari puisi. Puisi khususnya, dan sastra umumnya harus berani bertentangan dengan carut marut jaman. Apalagi bagi penyair yang mengusung ideologi (baca : Islam) dimana tidak ada yang dicari kecuali beribadah dengan senjata kata, dan bukankah mengubah kekacauan jaman juga adalah sebuah ibadah?

Memang puisi bukanlah sebuah kesucian, para penyair juga bukan nabi yang bisa bebas dari keramaian dunia dan kegaduhan sosial, uang, juga dunia politik. Tapi bila para penyair itu telah bersekutu dengan keramaian dunia sekaligus hanya “berlagak” ingin membersihkannya tanpa tahu pintu mana yang harus dimasuki, maka dijamin para penyair baru ini akan disegap oleh kerutinan dan keseragaman puisi. Dan bila sudah jadi begitu, tak ada yang bisa kita lakukan kecuali mengamini kata-kata Goenawan Mohammad

“… kematian kesusastraan ialah bila ia membuat kita semua tak bisa lagi menari dengan makna.” (Goenawan Muhammad, Kesusastraan dan Kekuasaan, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1993).

Akankah puisi-puisi yang lahir dari para anggota FLP akan mencapai “derajat” yang mampu mengubah dan menggerakkan? atau sebaliknya justru tenggelam dalam semacam curhat yang hanya dimengerti diri sendiri? Mungkin kita harus mengunggu jawabannya dengan bersabar, sebab puisi dan penyairnya baru saja lahir. Sejauh apa kemampuan mereka untuk membaca, belajar dan menerima kritik justru akan memperjelas eksistensi mereka.

Akhirnya sebagai penutup, ijinkan saya mengutip kalimat dari Acep Iwan Saidi yang mengatakan bahwa bila puisi dibuat hanya untuk mencatat luka, jika hanya untuk minta dilegitimasi sebagai penyair, jika puisi hanya mau digiring hingga jadi ”metafora pasar” dan jika penyair sudah takut menulis sendiri, maka kita harus “kembali” mengamini pesan Hans Magnum Enzesberger, seorang penyair Jerman, sebab dalam sebuah puisinya yang berjudul “Bacaan Untuk Tingkat Atas” dia menulis :

 “Janganlah tulis puisi, anakku! Bacalah jadwal-jadwal keberangkatan…!”

aaa

_________________________________________________

Tulisan-tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena periode kepengurusan 2013-2017. Dalam waktu 100 hari menuju tanggal Munas (3 November 2017), saya akan membuat 100 tulisan tentang Forum Lingkar Pena dari sudut pandang saya sendiri. Mungkin pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak terlalu bagus, mungkin beberapa ada yang terlalu tendensius, subjektif, atau menyinggung. Tapi saya tidak sedang ingin menyanjung, saya hanya ingin bercerita apa adanya. Tentang saya, dan sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
Novel Ini Tak Pernah Salah
Terjadi sebuah drama dalam pertandingan basket antara wakil perfektur Ishikawa melawan wakil perfektur Tokyo, awalnya pada quarter pertama wakil Ishikawa sudah unggul jauh 25-6, selisihnya 19 poin. Pe...
H-96: Kesalahan Dalam Menjiplak Senior
Saya masih bicara tentang urusan senior. Tapi kali ini saya ingin bicara tentang sebuah masalah standar yang terjadi pada seorang penulis baru, dan ini—tentu saja—juga terjadi di anggota-anggota Forum...
H-79: Semua Terasa Ajaib Sejak Tahun 2005
Lupakan dulu soal keuntungan jadi anggota FLP. Saya ingin memulai tulisan kali ini dari sebuah kisah tentang Michael Jordan, saat dia masih bermain untuk University of North Carolina. Jordan masih kul...
H-75: Mengapa Menulis Tentang Kematian?
Selama menjadi anggota FLP, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Di novel ini saya membahas tentang kematian, atau lebih tepatnya tentang tiga orang yang berusaha...
H-74: Mengapa Memilih Durasi 18 Jam?
Selama menjadi anggota FLP, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Dan seperti layaknya sebuah proses, dalam setiap novel yang keluar, saya berusaha mencapai satu l...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.