Latte, Adalah Kopi Saya Hari Ini

Seorang senior saya di Forum Lingkar Pena—saya pernah menyebut namanya di tulisan ini—pernah berkata: Kalau kamu ingin menulis tapi merasa lelah, ya istirahat dulu. Tapi kalau kamu ingin menulis tapi merasa malas, itu yang harus dilawan.

Well, Saya teringat wejangannya itu di hari ini, karena hari ini adalah puncak dari segala kelelahan saya. Klasik, urusan pekerjaan kantor yang menggila dalam dua hari, bukan hanya membuat saya tidak punya waktu untuk diri sendiri, tapi membuat saya merasa terlalu lelah untuk menulis. Tugas seorang jurnalis internal adalah meliput semua kegiatan perusahaan, tapi ada saat-saat dimana kegiatan itu demikian banyak sehingga yang saya harus lakukan adalah berpindah dari satu “pesta” ke “pesta” lainnya. Mengikuti acara manajemen, mengikuti acara Presiden Direktur. Memang saya belum sesibuk protokoler, tapi posisi jurnalis tetap punya level kesibukan sendiri

Belum lagi lambung yang mendadak berontak, mungkinkah saya meminum terlalu banyak kopi (hitam)? Entahlah, tapi kondisi lambung ini membuat saya sadar diri. Sehingga di hari kedua, tengah malam, sepulang kerja liputan yang terakhir, saya memilih mampir di kedai kopi langganan dan “hanya” memesan latte.

Pelayan yang biasa ada di sana memandang saya heran, mungkin dia curiga saya sedang kerasukan alien atau ditunggangi makhluk halus, karena seumur-umur berkunjung ke sana saya tidak pernah memesan latte. Biasanya saya pesan seduhan kopi hitam biasa—Sidikalang, Flores, atau Bali Kintamani—kadang double shot espresso. (Untuk yang bingung bedanya, espresso dan kopi hitam itu adalah murni kopi, sementara latte akan terasa lebih ringan di perut karena kopinya dicampur lebih banyak susu dengan takaran sekitar 70:30. Mungkin takarannya akan beda-beda, untuk jelasnya silahkan googling sendiri, saya bukan barista)

Yah, saya memang penggemar kopi yang bandel. Tidak mau tahu bahkan saat kondisi lambung dan kopi tidak sejalan. Tapi bahkan sebandel apapun saya, saat ini mesti tahu diri, saya harus mengganti jenis kopi. Setidaknya sampai lambung ini normal.

Jadi malam itu, ketika pulang liputan terakhir, dengan badan lelah saya mampir ke kedai kopi langganan, lalu memesan latte. Berharap minuman itu sedikit meredakan lelah saya—you know, mencoba bertahan kerja dengan minum kafein mungkin adalah potret perjuangan terindah yang pernah dilakukan oleh para freelance di seluruh dunia—karena saya ingin menulis tapi sekaligus menunda dulu istirahat, ada deadline yang harus dipenuhi, ada target yang sudah tertinggal berhari-hari.

Dalam perjalanan saya jadi penulis, bukan sekali dua kali saya mengalami momen seperti ini—lelah tapi deadline melanda—dan selalu saya mencoba bertahan, karena mengingat kata-kata senior saya tadi: Kalau kamu ingin menulis tapi merasa lelah, ya istirahat dulu. Tapi kalau kamu ingin menulis tapi merasa malas, itu yang harus dilawan.[]

aaa

 

aaa

aaaa

Share This:

Related posts:

Sebuah Surat untuk Lee
Lee, kusertakan sebuah gambar buram yang pasti membuatmu terpingkal-pingkal. Pada suatu titik di kejauhan ada seseorang memegang gitar, sendirian. Baiklah, itu aku, dan kau tahu aku tidak bisa bermai...
Bintang Porno Di Cover Buku
Tadi sempat baca berita ringan di vivanews, katanya di Thailand ada sebuah buku paket matematika terbitan MuangThaiBook yang laku banget, usut punya usut ternyata diduga buku itu laku bukan karena isi...
Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
Mustahil Ngerem Omongan Orang
Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yan...
Kematian dan Postmodern Jukebox
Dalam proses menulis novel ini, saya terus memikirkan dua hal: yang pertama tentang kematian, dan yang kedua tentang Postmodern Jukebox. Saya kesampingkan dulu yang pertama, saya ingin membahas soal k...
Mengapa Menulis Tentang Kematian?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Di novel ini saya membahas tentang kematian, atau lebih tepatnya tentang tiga orang yang berusaha men...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.