H-95: Apakah Kita Menulis Untuk Difilmkan?

Di tulisan sebelumnya saya membahas tentang para penulis baru yang berkiblat pada senior. Mungkin tulisan yang sekarang ini ada hubungannya, mungkin juga tidak, tapi kan tujuan saya menulis 100 hari ini untuk curhat. Jadi tidak nyambung pun tak apa-apa toh?

Jadi tulisan saya kali ini berdasar pada tiga hal: (1) saya anggota FLP yang menemukan fenomena baru di kalangan para anggota baru, (2) kerjaan saya menulis novel, dan (3) seorang teman pernah berkata pada saya, “Bener nih novelmu nggak mau difilmkan?”

Jadi begini, sejak tahun pertama saya menulis novel, tidak ada niat apapun dari diri saya kecuali untuk berbagi cerita, mungkin memang benar sampai saat ini saya “hanya” menulis tentang diri sendiri, menulis kegelisahan pribadi, belum ada ruang untuk saya menulis hal-hal besar seperti konflik Palestina, konflik perburuhan, atau impor garam, saya hanya hobi menuliskan hal-hal kecil yang menjadi pertanyaan pribadi saja. Tapi meskipun begitu, tetap saja setiap kali menulis saya memilik niat yang selalu sama: berbagi cerita.

Sampai akhirnya, muncullah trend memfilmkan novel. Maksudnya, bukan trend-trend banget. Sejak jaman urdu yang namanya film hasil adaptasi novel itu sudah bermunculan. Hanya saja saya perhatikan di Indonesia, hal ini cenderung jadi trend dalam sepuluh tahun terakhir. Terbukti pada setiap tahunnya, selalu saja ada film-film adaptasi novel yang masuk lima besar film terlaris.

Saya hanya tulis yang ingat saja ya: Di tahun 2008 ada Laskar Pelangi (Riri Riza, #1) dan Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, #2), tahun 2009 punya Ketika Cinta Bertasbih (Chaerul Umam, #1), Sang Pemimpi (Riri Riza, #2), dan Ketika Cinta Bertasbih 2 (Chaerul Umam, #3). Tahun 2010 punya film Dalam Mihrab Cinta (Habiburrahman El Shirazy, #2). Lalu tahun 2011 punya Surat Kecil Untuk Tuhan (Fajar Bustomi, #1), Hafalan Shalat Delisa (Sony Gaokasak, #3), dan Poconggg Juga Pocong (Chiska Doppert, #4).

Tahun 2012 menyumbang film 5 cm (Rizal Mantovani, #2), Negeri 5 Menara (Affandi Abdul Rachman, #4), dan Perahu Kertas (Hanung Bramantyo, #5). Tahun 2013 punya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Sunil Soraya, #1), 99 Cahaya di Langit Eropa (Guntur Soehardjanto, #2), dan Cinta Brontosaurus (Fajar Nugros, #4). Tahun 2014 ada film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (Hestu Saputra, #3), dan Marmut Merah Jambu (Raditya Dika, #5).

Tahun 2015 ada Surga yang Tak Dirindukan (Kuntz Agus, #1), Bulan Terbelah di Langit Amerika (Rizal Mantovani, #4) dan Magic Hour (Asep Kusdinar, #5). Lalu kemarin tahun 2016 ada film My Stupid Boss (Upi Avianto, #3) yang bertengger di lima besar. List ini bisa lebih panjang lagi kalau saya cari-cari serius di Google, dan list nya saya naikkan jadi sepuluh besar per tahun.

Karena fakta-fakta “menggiurkan” itu, akhirnya adaptasi novel menjadi ketertarikan sendiri, terutama bagi para penulis baru. Nah, di sini saya melihat potensi masalah mulai terjadi. Saya tidak akan bicara tentang penulis baru di seluruh Indonesia. Terlalu luas, nanti malah tidak akurat. Fokus saya mungkin penulis-penulis baru di Forum Lingkar Pena saja. Karena mereka pun terkena  potensi masalah yang sama.

Contoh nama saja, dengan naiknya nama Habiburrahman El Shirazy lewat adaptasi Ayat-Ayat Cinta (2008), Ketika Cinta Bertasbih (2009), dan Dalam Mihrab Cinta (2009), lalu adaptasi karya Asma Nadia dalam Emak ingin Naik Haji (2009), Assalamualaikum Beijing (2014), atau Surga Yang Tak Dirindukan (2015), maka para penulis baru yang berkiblat pada mereka rentan terpengaruh sebuah ide bahwa sebuah novel haruslah difilmkan.

Buat saya… itu adalah pemikiran yang berbahaya, karena dalam persepsi saya pribadi (artinya bisa saja salah) saat kita menulis novel ya niatkan untuk membuat novel. Kalau ingin menulis cerita fiksi panjang tapi sedari awal sudah terobsesi ingin difilmkan sih ya tulis saja skenario film, jangan novel.

Kembali pada masalah awal, anggaplah kita sebagai anggota FLP ingin meniru langkah Habiburrahman El Shirazy atau Asma Nadia. Kalaupun iya novel mereka diangkat ke layar lebar, saya berani taruhan… niat awal mereka menulis pasti bukan itu. Untuk mereka, naskah diangkat jadi film itu “hanya bonus” dari segala kerja keras mereka. Saya yakin tujuan mereka sejak awal adalah menulis novel dengan baik. Mereka berjuang keras, begitu kerasnya perjuangan itu sampai Tuhan akhirnya memberikan “bonus prestasi” pada mereka dengan membuka jalur menuju dunia layar lebar.

Nah, ini yang belum penulis baru pahami, termasuk—yang saya khawatirkan—adalah para penulis baru di Forum Lingkar Pena. Sebabnya sederhana: contohnya ada langsung di depan mata. []

aaa

_________________________________________________

Tulisan-tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena periode kepengurusan 2013-2017. Dalam waktu 100 hari menuju tanggal Munas (3 November 2017), saya akan membuat 100 tulisan tentang Forum Lingkar Pena dari sudut pandang saya sendiri. Mungkin pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak terlalu bagus, mungkin beberapa ada yang terlalu tendensius, subjektif, atau menyinggung. Tapi saya tidak sedang ingin menyanjung, saya hanya ingin bercerita apa adanya. Tentang saya, dan sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
School of Rock vs Garasi (Aspek-Aspek Film Beginian!)
Mungkin kata "beginian" di judul rasanya malah abstrak ya? tapi maksud saya adalah film yang, "beginian"... hehe, ummm... Duh gimana ngejelasinnya ya? Pokoknya kata "beginian&...
[Rumah Putih #2] Singkong di Paha Lasmini
Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, ...
Mbak Laura, Kapan Main Ke Rumah?
Beneran, beberapa waktu lalu di Kaskus sempat muncul beberapa thread ketika orang ini nikah. Tapi gue nggak buka thread-thread tersebut, males aja ngelitin gosip artis. Tapi efeknya ternyata, gue jadi...
H-87: Masih Tentang Saya dan Wildan (dan Pertemanan)
[sambungan dari]… “Nabimu tadi sudah menetapkan sesuatu itu, untuk kalian lakukan ribuan tahun kemudian, tapi kalian lupa. Jangankan mengucapkannya, kebanyakan dari kalian bahkan lupa artinya!” Wilda...
H-79: Semua Terasa Ajaib Sejak Tahun 2005
Lupakan dulu soal keuntungan jadi anggota FLP. Saya ingin memulai tulisan kali ini dari sebuah kisah tentang Michael Jordan, saat dia masih bermain untuk University of North Carolina. Jordan masih kul...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.