H-96: Kesalahan Dalam Menjiplak Senior

Saya masih bicara tentang urusan senior. Tapi kali ini saya ingin bicara tentang sebuah masalah standar yang terjadi pada seorang penulis baru, dan ini—tentu saja—juga terjadi di anggota-anggota Forum Lingkar Pena. Masalah tersebut saya sebut dengan “menjiplak senior”.

Semua dimulai dari ledakan novel Ayat-Ayat Cinta yang sekitar tahun 2004-2005. Kenapa saya mulai dari sana? Karena di tahun-tahun tersebut saya juga baru belajar nulis, dan di tahun 2005 saya baru punya novel pertama. Jadi saya mengalami sekali perasaan seorang penulis baru—yang masih culun dan polos, masih merasa kerdil sekaligus bangga akan dunia baru—kala melihat seseorang bernama Habiburrahman El Shirazy. Bagaimana agung dan hebatnya dia di mata anak-anak baru seperti saya (kami), bagaimana ia rasanya mustahil untuk saya (kami) sentuh, bagaimana ia di mata saya (kami) adalah seseorang yang karyanya paling Islami, paling dahsyat, dan layak jadi panutan. Intinya, saya jadi mengerti gimana emosi yang mendesak-desak saat seseorang minta foto bareng idola, antara malu sekaligus nafsu #EH (nafsu ingin foto bareng, maksudnya!)

Semua perasaan kagum tadi terangkum jadi satu, yang pada akhirnya bermuara pada satu hal: kami ingin jadi seperti dia. Maka di sinilah fase menjiplak senior dimulai; dan ini terjadi bukan kepada kang Abik saja, makin ke sini makin banyak penulis yang “berlabel” Forum Lingkar Pena meraih kesuksesan, sekaligus memancing perasaan ingin menjiplak yang sama. Misalnya saja: Anwar Fuadi, atau Asma Nadia (Helvy Tiana Rosa tidak saya masukkan, karena ia ada di level yang berbeda lagi). Nanti saya akan bahas di artikel berikutnya tentang fatamorgana “penulis sukses” di mata anak-anak baru. Tapi sementara kita ambil contoh dengan tiga nama ini dulu.

Seperti yang saya bilang di tulisan sebelumnya, berkiblat pada senior itu tidak salah, itu bagus. Kalau ada contoh yang bagus masa sih tidak ditiru. Bermimpi untuk jadi seperti senior juga tidak salah, ya setiap orang perlu role model kan? Perlu sosok yang nyata ada ada di depan mukanya untuk dijadikan semacam “tujuan hidup” (karena biasanya, role model yang abstrak itu agak sulit untuk dikuti).

Masalahnya adalah, para penulis baru ini belum paham bahwa untuk menjadi seperti Habiburrahman El Shirazy, kita tidak cukup dengan melahap semua buku Habiburrahman El Shirazy. Untuk menjadi seperti Asma Nadia kita tidak bisa hanya dengan membaca semua karya dan menonton adaptasi film Asma Nadia. Untuk menjadi seperti Anwar Fuadi, kita tidak bisa hanya dengan membaca semua karya Anwar Fuadi.

Jika kita mencukupkan diri hanya sampai di titik ini saja, mau sampai Donald Trump alih profesi jadi pedagang cendol juga kita pasti akan terus ada di belakang mereka.

Ada diskusi yang pernah saya lakukan dengan seorang teman, dia musisi jazz, dan kita saat itu sedang bicara tentang Chick Corea, seorang master pianis. Di sana teman saya mengeluarkan sebuah statement yang menarik, katanya: Kalau kamu ingin menjadi seorang Chick Corea, kamu tidak bisa hanya mendengarkan albumnya atau meniru-niru gaya bermainnya. Tapi kamu juga harus mendengarkan apa yang Chick Corea dengarkan.

Perspektifnya adalah, berkiblat pada Habiburrahman El Shirazy (atau Asma Nadia, atau Anwar Fuadi) itu tidak salah. Namun kita tidak cukup hanya membaca karya-karya Kang Abik saja. Kalau kita melakukan itu, lambat laun kita tidak jauh berbeda dengan seorang impostor. Namun yang harus dilakukan adalah: kita juga harus membaca apa yang Kang Abik baca. Kita harus tahu, untuk membentuk gaya penulisan dan kesuksesan seperti ini, apa saja buku-buku yang dia baca, dan kita juga harus membaca itu semua.

Barulah pada saat itu, proses “berkiblat” pada seorang senior menjadi baik untuk dilakukan. Baik untuk dilakukan karena hasilnya juga berpotensi baik. Seiring waktu, akan ada senior-senior baru yang jadi contoh kita dalam menulis. Itu artinya akan makin banyak buku yang kita baca, dan makin banyak role model yang bisa kita ikuti.

Sayangnya, jika sudah mencapai titik ini (membaca buku yang dibaca senior)—maka setidaknya dalam pandangan saya—organisasi yang saya ikuti, Forum Lingkar Pena memiliki masalah lain. Saya akan bahas masalah ini di tulisan berikutnya.[]

_________________________________________________

Tulisan-tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena periode kepengurusan 2013-2017. Dalam waktu 100 hari menuju tanggal Munas (3 November 2017), saya akan membuat 100 tulisan tentang Forum Lingkar Pena dari sudut pandang saya sendiri. Mungkin pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak terlalu bagus, mungkin beberapa ada yang terlalu tendensius, subjektif, atau menyinggung. Tapi saya tidak sedang ingin menyanjung, saya hanya ingin bercerita apa adanya. Tentang saya, dan sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
H-93: Apakah Bacaan Anak FLP?
Oh iya sebelumnya, ada yang sudah baca tulisan saya tentang citra FLP di mata orang luar? Silahkan dibaca kalau sempat… intinya, di tulisan itu saya menyinggung sedikit tentang Current Image (Citra ya...
H-90: Saya Menjadi Anomali
Short Cuts (Robert Altman, 1993), durasi 3 jam, 10 alur cerita, dan 22 karakter utama. Sebuah potret muram dari kehidupan sehari-sehari kelas menengah dan pekerja di Los Angeles. Orang-orang biasa den...
H-76: Tentang Ide Registrasi Online FLP
Saya tidak percaya pada “keterjebakan”, tapi tetap saja perlu alasan yang logis tentang segala hal. Karena sebenarnya, bergabungnya saya ke pengurus pusat Forum Lingkar Pena merupakan hal yang sedikit...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.