H-97: Berkiblat Pada Senior

Dalam sebuah organisasi tentu ada yang namanya senior dan junior, dan seorang junior besar kemungkinan akan memandang seniornya terlebih dulu untuk mencari contoh. Begitu juga di Forum Lingkar Pena, banyak penulis junior (dalam dunia menulis, junior bukan perkara umur) yang mencari contoh dari para seniornya dalam memantapkan diri di dunia menulis.

Saya juga begitu, beberapa senior yang pernah menjadi kiblat menulis saya di awal-awal masuk FLP adalah mas Sakti Wibowo, kang Irfan Hidayatullah, mas Zaenal Radar, dan mbak Izzatul Jannah. Sebelum akhirnya seiring waktu saya menemukan “kiblat-kiblat” lain, tapi para senior FLP inilah yang jadi kiblat pertama saya; dari mereka—dan dari tulisan mereka—saya belajar tentang bentuk tulisan, diksi, editing, dan bagaimana menguatkan karakter.

Bahkan tokoh Parmin dari salah satu cerpen mas Zaenal Radar (lupa lagi judulnya) itu jadi basic bangunan karakter tokoh Indra di novel pertama saya; juga diksi-diksi dari tulisan mas Sakti Wibowo itu jadi gaya bercerita saya di awal-awal menulis.

Dalam menulis, mencontoh diksi atau gaya bahasa senior itu tidak salah. Bahkan sampai ada teorinya segala. Ada yang pernah dengar teknik copy the master?

Copy the master salah satu cara berlatih menulis sastra kreatif. Metode ini sama dengan membuat imitasi tulisan ahli. Teknik ini sebenarnya merupkaan salah satu metode pengajaran retorika yang fundamental pada jaman Romawai Kuno dan Renaissance. Orang-orang pada saat itu menyalin murni pidato dari seorang penulis yang disediakan. Ketika menyalin, mereka diajari untuk menguraikan dan menemukan sarana-sarana dari berbicara dan menulis, yang membawa kepada bermacam jenis analisis retorika dari model-model mereka. Dari model itu bisa diambil dan dikembangkan sarana berbicara, strategi-strategi argumentatif, dan pola susunan.

Maka, bukan hanya harus mengikuti “cara senior”, teknik copy the master bahkan sampai menuntut dilakukannya latihan-latihan sesuai dengan “naskah master” yang diberikan. Ini bukan plagiat ya, yang dijiplak bukan isinya, tapi teknik penulisannya, seperti: kerangka plot, pengkarakteran, cara membuat dialog, teknik mempertahankan dramatisasi, dll

Di tahun 2004-2005 saya menggunakan teknik ini, (karena itu tidak heran kalau beberapa orang melihat bahwa novel pertama saya punya kemiripan pola dengan sebuah novel terkenal saat itu. Ya gimana nggak mirip, plotnya saya jiplak dari sana kok). Dari sini saya menemukan bahwa untuk menggunakan teknik copy the master, kita memerlukan seseorang yang disebut senior, dan—lebih spesifik lagi—senior yang memiliki karya yang baik.

Yah, dalam hal ini saya beruntung punya contoh-contoh yang baik dari senior. Saya tidak tahu komunitas sastra lain, tapi—dengan prasangka positif, saya berpikir mana ada sih senior yang ngasih contoh buruk?—saya kira contoh baik tetap bisa didapat dimana-mana, dari berbagai jenis orang, dari berbagai level pergaulan; dan para senior (yang tepat) bisa jadi pondasi awal-awal dalam membangun kekaryaan kita.

Setelah itu, seiring waktu, senior-senior yang kita ikuti akan berubah. Saya juga jadi “berganti kiblat”, saya memperluas lingkaran, tapi tetap berujung pada senor-senior baru. Dari mereka saya belajar, mengambil hal-hal baiknya, menggabungkan, dan akhirnya saya menemukan gaya sendiri. Saya mulai belajar menulis tahun 2004, dan baru merasa layak mengklaim sudah menemukan gaya menulis sendiri di tahun 2010. (Bahkan sampai sekarang gaya yang saya temukan di tahun 2010 itu masih terus berkembang).

Prosesnya cukup panjang, tapi bukan berarti membosankan; dan hal itu tidak mungkin bisa saya lakukan tanpa bertemu senior-senior yang tepat.

Ya sudah nanti lanjut lagi deh, saya ngantuk…[] aaa

_________________________________________________

Tulisan-tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena periode kepengurusan 2013-2017. Dalam waktu 100 hari menuju tanggal Munas (3 November 2017), saya akan membuat 100 tulisan tentang Forum Lingkar Pena dari sudut pandang saya sendiri. Mungkin pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak terlalu bagus, mungkin beberapa ada yang terlalu tendensius, subjektif, atau menyinggung. Tapi saya tidak sedang ingin menyanjung, saya hanya ingin bercerita apa adanya. Tentang saya, dan sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena

 

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
H-100: Kutukan Pengurus?
Hari ini saya berdialog dengan senior saya di Forum Lingkar Pena. Ia juga pengurus pusat, ia penulis hebat, dan ia sekaligus “atasan” saya di kepengurusan pusat. (Well, sebenarnya saya tidak terlalu s...
H-93: Apakah Bacaan Anak FLP?
Oh iya sebelumnya, ada yang sudah baca tulisan saya tentang citra FLP di mata orang luar? Silahkan dibaca kalau sempat… intinya, di tulisan itu saya menyinggung sedikit tentang Current Image (Citra ya...
H-89: Saya dan Wildan
Di Forum Lingkar Pena, saya bertemu seseorang bernama Wildan Nugraha. Mukanya jelek (karena itu saya pilihan foto dia yang paling buram di feature image), namun dia sudah seperti guru pertama saya dal...
H-82: Masuk FLP Karena Seorang Perempuan
Menyambung tulisan sebelumnya, masih tentang perempuan. Saya ingin berbagi cerita tentang alasan saya masuk FLP, bukan cerita yang bisa dibanggakan sih, tapi juga tidak terlalu bikin malu; faktanya: s...
H-77: Di FLP Bermain dengan Kapak Ibrahim
Di awal tahun 1992, muncul grup musik The Rock Bottom Remainders yang semua personilnya adalah para penulis. Di sana ada Dave Barry, Ridley Pearson, Barbara Kingslover, Robert Fulghum, Stephen King, T...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.