H-98: Benarkah FLP Membuat Kita Bisa Menulis?

Pada form penerimaan anggota baru di berbagai cabang, atau salah satu syarat masuk ke open-group Forum Lingkar Pena di Facebook, biasanya para calon anggota akan mendapat pertanyaan: Apa alasan masuk FLP? (redaksi kalimatnya bisa beda-beda, tapi intinya tetap sama).

Pertanyaan wajar, karena seperti halnya para pencari kerja, perusahaan yang menerima berkas-berkas lamaran pun merasa perlu bertanya, apa alasan orang itu melamar kerja di sini? Butuh duit sehingga mau mengerjakan apa saja? Dijadikan wadah aktualisasi diri? Pekerjaan di sini sesuai dengan passion? Cari jodoh? (bisa aja kan? ngelamar jadi cleaning service di base camp model Victoria Secret bisa saja motivasinya mau cari jodoh), pekerjaan turun-temurun (bapaknya dan kakeknya juga bekerja di situ), atau hanya untuk sekadar batu loncatan?

Begitu juga di FLP, pertanyaan begitu seolah sudah jadi pertanyaan wajib, dan ketika saya perhatikan sebagian besar jawaban yang masuk adalah: saya ingin bisa menulis (redaksi kalimatnya bisa beda-beda, tapi intinya tetap sama). Masalahnya, setelah lebih dari sepuluh tahun ada di FLP, saya sendiri mulai bertanya-tanya: benarkah FLP membuat saya bisa menulis?

Artinya, bisakah FLP mengakomodir keinginan anggota baru itu untuk terampil menulis?

Jujur saja, dalam sudut pandang saya jawabannya tidak; dan saya sering bilang ini pada setiap calon anggota baru yang berkesempatan ngobrol dengan saya. Saya tegaskan bahwa:

FLP sama sekali tidak bisa membuat kita jadi penulis. Kalau mau jadi penulis ya kita harus banyak membaca, banyak menulis, banyak mengirimkan karya ke media atau penerbit, banyak berlatih; dan itu semua bisa kita lakukan tanpa harus masuk Forum Lingkar Pena. Bisa masuk komunitas lain, bisa juga tidak masuk mana-mana.

Lalu dimana fungsi FLP?

Fungsi FLP adalah membuat kita bisa bertemu orang-orang yang satu perjuangan, satu tujuan, satu “jalan”. Fungsi FLP adalah menghadirkan motivasi kepada kita untuk belajar jadi penulis dengan cara mengumpulkan kita dengan teman-teman yang memiliki mimpi yang sama. Karena se-introvert apapun seseorang, dia tetap perlu bertemu teman seperjuangan, dia tetap perlu diskusi dengan senior, dia tetap perlu membahas sesuatu dengan kawan yang se-idealisme; dan FLP setidaknya bisa mengakomodir itu semua.

Sisanya? Ya kembali pada diri masing-masing…

Kalau dia malas membaca, malas berlatih, malas membaca, malas menulis, dan sekali lagi: malas membaca. Lupakan saja mimpi jadi penulis, sehebat apapun FLP, organisasi ini tetap tidak akan bisa menolong seseorang jadi penulis, tapi FLP adalah sebuah wadah perkumpulan dimana ia bisa menggali motivasi untuk belajar menulis dari sesama kawan, atau dari para senior.

Kecuali… kalau dia masuk FLP memang untuk jadi pengurus… #EH.[]

aaa

_________________________________________________

Tulisan-tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena periode kepengurusan 2013-2017. Dalam waktu 100 hari menuju tanggal Munas (3 November 2017), saya akan membuat 100 tulisan tentang Forum Lingkar Pena dari sudut pandang saya sendiri. Mungkin pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak terlalu bagus, mungkin beberapa ada yang terlalu tendensius, subjektif, atau menyinggung. Tapi saya tidak sedang ingin menyanjung, saya hanya ingin bercerita apa adanya. Tentang saya, dan sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Mustahil Ngerem Omongan Orang
Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yan...
Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar
(1) Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari p...
H-100: Kutukan Pengurus?
Hari ini saya berdialog dengan senior saya di Forum Lingkar Pena. Ia juga pengurus pusat, ia penulis hebat, dan ia sekaligus “atasan” saya di kepengurusan pusat. (Well, sebenarnya saya tidak terlalu s...
H-97: Berkiblat Pada Senior
Dalam sebuah organisasi tentu ada yang namanya senior dan junior, dan seorang junior besar kemungkinan akan memandang seniornya terlebih dulu untuk mencari contoh. Begitu juga di Forum Lingkar Pena, b...
H-87: Masih Tentang Saya dan Wildan (dan Pertemanan)
[sambungan dari]… “Nabimu tadi sudah menetapkan sesuatu itu, untuk kalian lakukan ribuan tahun kemudian, tapi kalian lupa. Jangankan mengucapkannya, kebanyakan dari kalian bahkan lupa artinya!” Wilda...
H-76: Tentang Ide Registrasi Online FLP
Saya tidak percaya pada “keterjebakan”, tapi tetap saja perlu alasan yang logis tentang segala hal. Karena sebenarnya, bergabungnya saya ke pengurus pusat Forum Lingkar Pena merupakan hal yang sedikit...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.