Merajut Mimpi Lewat Singkong dan Pisang

Singkong dan pisang, sebuah bahan makanan yang cenderung dianggap tradisional dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga dalam artian tertentu kedua makanan ini seolah telah habis varian-variannya karena sudah “berada” terlalu lama dalam kehidupan kita, ternyata di luar dugaan masih bisa tampil beda dalam ruang-ruang kreatifitas milik Rakhmawati.

Ketika siang itu ia ditemui di rumahnya yang berdinding bata merah, pandangan kami langsung tertumbuk pada sebuah kotak kemasan yang sering digunakan untuk mengirimkan produk-produknya makanannya ke luar kota. Disana kami membaca beberapa nama makanan yang tidak terlalu lazim seperti Abon Jantung Pisang dan Singkong Beku. Kami menanyakan kedua jenis makanan yang belum terlalu familiar itu.

Rakhmawati menjawab, “Singkong beku itu setelah dibumbui, modelnya seperti empek-empek, ada sambal coleknya. Ketika baru tester, saya bawa ke Tojasera, digoreng disana, langsung ditelepon disuruh titip produk karena katanya enak.” Selorohnya.

Selain itu, ada juga produk yang tidak tercantum di daftar itu,  misalnya produk pisang sale cappuccino. Lalu ada satu lagi yang baru ada sebatas ide, “Inspirasi ini belum kucoba tapi nanti akan ada produk yang namanya tape pisang! Kalau ada makanan yang bernama tape singkong, kenapa tidak ada tape pisang?” Ujarnya.

Rakhmawati pun berkisah bahwa ide-ide segarnya itu datang setiap saat, kadang dari membaca buku, kadang dari televisi, tapi setiap kali muncul ide baru ia akan mencobanya hingga berubah menjadi makanan yang siap disajikan kepada konsumen; dan menurutnya itu semua tidak melewati proses yang mudah, kadang perlu mencoba berkali-kali hingga muncul produk yang layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Beberapa list produk makanan Kube Mekar Mandiri
Beberapa list produk makanan Kube Mekar Mandiri

Lewat kobaran ide kreatifnya itu, Rakhmawati berusaha menghidupkan Kelompok Usaha Bersama Mekar Mandiri yang didirikannya pada tahun 2013 silam bersama enam orang anggota. Kelompok binaan yang beralamat di Jl Nias No. 6 BTN KCY Bontang ini, awalnya merupakan usaha panganan produk olahan pisang yang hanya melibatkan Rakhmawati bersama anaknya. “Saya berasal dari daerah Lumajang, Jawa Timur. Daerah saya memang terkenal sebagai pengrajin produk pisang. Padahal saya ketika masih tinggal di Lumajang itu tidak ada ide, ketika akhirnya merantau ke Bontang saya malah punya keberanian memunculkan dan mewujudkan ide-ide produk olahan.” Ujarnya.

Sejak awal menjadi pengrajin olahan pisang, Rakhmawati sudah sering ikut berbagai kegiatan pameran UKM, antara lain yang diselenggarakan oleh Disperindag Kota Bontang. Saat itulah ia mendapat informasi dari rekannya untuk mencoba memasukkan proposal untuk menjadi mitra binaan Badak LNG. Rakhmawati menyetujui saran itu dan mulai mengikuti prosedur untuk menjadi mitra binaan Badak LNG. Salah satunya adalah dengan aturan membentuk kelompok, sehingga bersamaan dengan proposal yang disetujui, berdiri pula Kelompok Usaha Bersama Mekar Mandiri dengan anggota direkrut dari saudara-saudara atau teman yang belum kerja.

Para anggota kelompok ini juga melakukan produksi di rumah masing-masing, namun untuk beberapa panganan tetap dikerjakan di rumah Rakhmawati karena alat yang paling lengkap ada di sana, “Misalnya untuk pembuatan abon jantung pisang atau singkong crispy ini memerlukan spinner, alatnya hanya ada di sini.” Ujarnya sambil menunjukkan alat yang dimaksud. Spinner yang ditunjukkannya merupakan salah satu dari beberapa alat produksi milik kelompoknya.

Keberadaan alat-alat produksi ini diyakini oleh Rakhmawati sebagai salah satu pemicu timbulnya ide-ide kreatif tentang jenis olahan. Karena alat-alat ini jelas memudahkan proses produksi, dan dirinya juga bisa “mengakali” beberapa masalah yang selama ini mengganggunya, seperti masalah cuaca atau ketahanan produk—karena ia mengaku tidak menggunakan bahan pengawet sama sekali. Menurutnya, setelah memiliki oven ia langsung terpikir untuk mewujudkan produk sale pisang, dan setelah memiliki spinner ia melihat bahwa produk keripiknya lebih tahan lama. “Untuk singkong crispy bahkan bisa sampai empat bulan tanpa bahan pengawet.” Ujarnya.

Dalam memilih bahan baku, Rakhmawati mengaku tidak sembarangan. Jenis pisang yang dicarinya khusus yaitu jenis pisang tanduk, sementara untuk singkong ia mencari singkong yang sudah berusia lebih dari sepuluh bulan. Ia meyakini bahwa jika bahan bakunya tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, biasanya timbul masalah. Seperti penggunaan pisang jenis lain biasanya mengakibatkan produk-produknya banyak diretur, atau kadang keripiknya menjadi lebih keras dari biasanya. Itulah yang membuat dirinya selalu bersikap ketat dalam mencari bahan baku.

Tidak heran ia menetapkan standar yang ketat seperti itu, karena dalam satu hari Kelompok Mekar Mandiri ini bisa memproduksi panganan singkong dan pisang total hingga mencapai 50 kg. Dengan jumlah sebanyak itu, akan sangat rugi sekali jika produk jadinya ada di bawah standar.

Produk-produk itu dititipkan di sekitar 50 buah toko, mulai dari sekitar Bontang hingga simpang Sangatta. Namun di luar itu banyak sekali orang yang datang untuk membeli langsung, bukan hanya orang Bontang dan sekitarnya, bahkan beberapa pembeli ada yang berasal dari Makassar atau pulau Jawa.  Bahkan Rakhmawati mengisahkan bahwa pada momen Lebaran kemarin, ia sampai ditelepon oleh toko-toko karena banyak permintaan yang tidak bisa dipenuhi. Hal itu disebabkan stok produksi di rumah sudah terlebih dahulu habis oleh pembeli yang datang langsung ke sana.

Dengan sistem penjualan seperti itu, Rakhmawati mengakui bahwa kelompok Mekar Mandiri bisa mendapatkan penghasilan kotor sekitar 10-11 juta rupiah per bulan. Bahkan karena keuletannya, kelompok ini sudah bisa memenuhi keperluan alat-alat produksi tanpa harus meminta dari pihak ketiga lagi.

Ibu Rakhmawati beserta kedua putranya, hasil karya mereka memperkaya jumlah panganan yang ada di Kota Bontang
Ibu Rakhmawati beserta kedua putranya, hasil karya mereka (Kube Mekar Mandiri) memperkaya jumlah cemilan dan oleh-oleh yang berasal dari Kota Bontang.

Namun jumlah pendapatan yang disebutkan di atas tadi ternyata bukan tolok ukur keberhasilan yang dipegang oleh kelompok Mekar Mandiri, masih banyak hal yang mereka rencanakan, antara lain keinginan untuk memiliki kebun pisang dan singkong sendiri untuk menanggulangi kekosongan bahan baku di pasaran. Karena jika terjadi kekosongan tentu akan menghambat proses produksi, terkadang ini bisa memakan waktu beberapa bulan, dan kadang sampai memaksa kelompok ini berganti bahan baku.

“Selain itu, ingin juga berkembang ke luar daerah, memperbanyak langganan, dan menyelesaikan masalah kemasan produk yang masih kurang menarik jika disandingkan dengan produk lain.” Terang Rakhmawati

Selain itu, dalam aktivitasnya kelompok Mekar Mandiri tidak hanya berfokus pada jual-beli produk olahan singkong serta pisang saja. Namun mereka juga memikirkan cara untuk berkontribusi pada pengembangan masyarakat sesuai dalam kapasitas mereka sebagai kelompok usaha bersama.

Karena itulah, salah satu yang direncanakan oleh Kelompok ini adalah melibatkan siswa-siswa SLB—terutama tunarungu dan tunawicara—yang telah lulus namun belum mendapatkan pekerjaan. Menurut Rakhmawati, ini adalah sesuatu yang sangat mungkin dilakukan, selain karena ia telah sering mengisi pelatihan membuat keripik atau stik di sana, ternyata pihak sekolah juga mengijinkan ide ini dengan antusias.

“Biasanya, anak-anaknya rajin-rajin. Ketika itu pihak sekolah juga bilang silahkan saja jika ibu membutuhkan, lagipula akan lebih baik jika anak-anak diberikan kesempatan.” Demikian jelasnya

Dengan memberdayakan siswa-siswa SLB, kelompok Mekar Mandiri bukan hanya memberdayakan mereka dan memberi peluang semata, namun lebih jauh dari itu mereka juga menyentuh sebuah area yang jarang dijamah oleh kelompok-kelompok usaha bersama yang lain. Sebab seperti halnya sebuah cita-cita yang harus diperjuangkan, kesempatan dan harapan untuk meraih mimpi layak dimiliki oleh semua orang, tidak jadi soal jika itu semua harus ditempuh lewat jalur yang dipenuhi irisan singkong dan pisang.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

[Rumah Putih #1] Berharap Pada yang Bangkit dari Kubur
Cerita tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron “religius”, pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa “pesan” y...
[Rumah Putih #2] Singkong di Paha Lasmini
Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, ...
Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Bersastra dan Bersantai di Rumpun Ariadinatan
Selain dikenal sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga identik dengan kota budaya dan kota pariwisata. Berbagai hal yang berkaitan dengan dua hal tersebut dapat kita temui di kota ini. Mulai dari soal k...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.