H-99: Pengurus atau Penulis?

Hari ini saya masih ingin bicara tentang pengurus, terutama hubungannya dengan menjadi penulis. Jadi dulu… dulu banget awal-awal di Forum Lingkar Pena, saya mendapat doktrin begini: kalau kamu mau serius menulis di FLP, maka jangan jadi pengurus!

Yang mendoktrin tentu seorang senior lah, saya sih percaya saja. Karena kan dia senior (pastinya lebih pengalaman), dan dia juga menunjukkan bukti-bukti FLP cabang tertentu (yang saya belum pernah juga berkunjung ke sana) yang para pengurusnya pasti tidak punya karya yang menonjol, sebaliknya para penulis yang bagus dari sana pasti bukan pengurus.

Seiring waktu berjalan, saya mulai mempertanyakan konsep itu. Karena setelah 13 tahun saya ada di organisasi ini, saya sama sekali tidak melihat hubungan antara dua hal tadi: pengurus dan penulis. Maksudnya, saya malah melihat kedua hal ini lebih baik tidak disangkutpautkan. Karena tidak ada korelasinya.

Pengurus dan penulis, apakah keduanya saling menjegal? Saya belum punya buktinya, karena saya kenal selusin lebih pengurus baik di tingkat cabang sampai pusat yang ternyata produktif juga menulisnya. Tapi ya saya juga kenal selusin lebih pengurus baik di tingkat cabang sampai pusat yang tidak produktif menulis (kecuali menulis status Facebook). Jadi dalam kapasitas kita jadi pengurus, bisa saja kita produktif, dan bisa saja kita tidak produktif. Keduanya bisa terjadi.

Lalu apakah keduanya saling mendukung? Ya dan tidak. Karena menurut saya pribadi, kita jadi anggota FLP pun bukan berarti karya kita akan lancar jaya kalau dikirim ke Gramedia, kita jadi pengurus pun tidak lantas novel kita akan best seller. Paling menjadi anggota FLP berarti boleh menempelkan logo FLP di cover belakang karya kita, tapi logo itu juga bukan jaminan buku akan sukses. Terlalu banyak logaritma dan algoritma yang harus dikalkulasi untuk membuat buku jadi best seller, dan menjadi atau tidak menjadi pengurus ada di luar segala perhitungan itu.

Tapi memang, kalau diurai agak dalam sedikit, maka yang harus dibahas adalah soal menyisihkan waktu. Menjadi pengurus organisasi berarti harus mau menyisihkan waktu (sedikit atau banyak, terserah) untuk menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan jabatan kita. Dalam perspektif tertentu, kita tentu dapat mengatakan bahwa: waktu yang disisihkan tersebut sebenarnya bisa dipakai untuk menulis (ketimbang bikin proposal atau laporan bulanan; eh apakah kedua hal ini bukan menulis juga namanya?)

Iya sih, tapi—kembali menurut saya—kedua hal ini ada di ranah yang berbeda. Untuk jadi penulis kita haus rajin baca buku, rajin merenung, rajin berlatih menulis. Sementara untuk jadi pengurus kita harus rajin mencermati jobdesc dan melaksanakannya sebelum deadline melanda. Tidak ada yang beririsan antara keduanya. Kadang kitasaja yang terlau drama dalam menghadapinya.

Sementara waktu sebenarnya terus maju dalam posisi apapun yang kita pilih. Pengurus atau Penulis? Terserah saja. []

aaa

_________________________________________________

Tulisan-tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena periode kepengurusan 2013-2017. Dalam waktu 100 hari menuju tanggal Munas (3 November 2017), saya akan membuat 100 tulisan tentang Forum Lingkar Pena dari sudut pandang saya sendiri. Mungkin pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak terlalu bagus, mungkin beberapa ada yang terlalu tendensius, subjektif, atau menyinggung. Tapi saya tidak sedang ingin menyanjung, saya hanya ingin bercerita apa adanya. Tentang saya, dan sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Penerbit Perlu Naskah: Media Cendekia Muslim
Kemarin sore saya ketemu dengan teman lama, saya panggil dia kang Sandi. Kita pernah kerja bareng di sebuah penerbit yang sudah bubar jalan (nggak enak lah nge-mention nama penerbitnya, pokokn...
Penerbit Perlu Naskah: Bitread
Ceritanya, di dekat rumah cafe baru… Warung Upnormal, eh nggak terlalu baru juga sih, pertama kali saya lihat tempat itu ada sebelum puasa. Mau mampir tapi belum sempat, terus pas bulan puasa malah ...
H-86: Bidadari Kota C (1)
Kamu terbaring malas di kamar, sendirian menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba telepon genggammu berbunyi, suara pesan singkat. Kamu membukanya. Ada sebaris pesan dari seorang perempuan di kota sebel...
H-80: Di FLP Kita Dapat Apa?
Beberapa hari yang lalu, ada sebuah pertanyaan menarik yang mampir di grup Forum Lingkar Pena. Begini isinya: Maaf sebelumnya... saya mau tanya. apa yang dilakukan dan fasilitas apa yang kita dap...
H-79: Semua Terasa Ajaib Sejak Tahun 2005
Lupakan dulu soal keuntungan jadi anggota FLP. Saya ingin memulai tulisan kali ini dari sebuah kisah tentang Michael Jordan, saat dia masih bermain untuk University of North Carolina. Jordan masih kul...
H-77: Di FLP Bermain dengan Kapak Ibrahim
Di awal tahun 1992, muncul grup musik The Rock Bottom Remainders yang semua personilnya adalah para penulis. Di sana ada Dave Barry, Ridley Pearson, Barbara Kingslover, Robert Fulghum, Stephen King, T...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.