H-100: Kutukan Pengurus?

Hari ini saya berdialog dengan senior saya di Forum Lingkar Pena. Ia juga pengurus pusat, ia penulis hebat, dan ia sekaligus “atasan” saya di kepengurusan pusat. (Well, sebenarnya saya tidak terlalu suka kata atasan, kesannya ada yang berkuasa, dan ada yang ditindas, saya lebih suka kata “rekan kerja”). Tidak ada yang benar-benar penting dari dialog kami, hanya bicara tentang apa yang mesti dipersiapkan di acara Musyawarah Nasional bulan November nanti.

Pembicaraan mulai jadi menarik ketika saya meminta ijin untuk istirahat selepas dari kepengurusan periode ini. Serius, sudah cukup lama saya merencanakan ini. Selesai masa jabatan 2013-2017 di Forum Lingkar Pena, saya ingin berhenti jadi pengurus, dan-menjalani-sisa-hidup-hanya-untuk-duduk-dan- menulis-kitab.

Ternyata setelah saya meminta ijin, senior tadi hanya menjawab begini, “Kalau sudah dikutuk jadi pengurus FLP, selamanya akan jadi pengurus FLP.”

What!? Saya ingin mendebat, tapi ketika dipikir-pikir, dia ada benarnya juga. Faktanya memang sejak pertama kali saya masuk ke Forum Lingkar Pena di tahun 2004, belum pernah sekalipun saya terbebas dari tugas kepengurusan. Entah di level manapun (cabang, wilayah, pusat) atau di periode kepengurusan ketua manapun saya selalu kena.

Misalnya, di FLP cabang Bandung (2004-2007) saya mengalami kepengurusan tiga periode ketua. Jabatan pertama saya adalah Kabid Humas, hingga setelah beberapa lama diangkat jadi sekretaris umum. Ketika ditarik ke wilayah Jawa Barat (2007-2013) saya mengalami dua periode ketua, jabatan saya pun dimulai dari menangani media (humas division again, right?) hingga (lagi-lagi) naik ke sekretaris umum. Tahun 2013 saya ditarik ke FLP pusat dengan jabatan Kabid Humas (again!), itu artinya sekarang saya sedang ada di titik akhir kepengurusan FLP Pusat (2013-2017), dan sedang berpikir-pikir untuk pensiun!

Mungkin lantas ada yang bertanya: lah kenapa tidak kabur saja? Oh saya sudah pernah mencobanya. Tahun 2007 saya pernah mencoba vakum dari FLP Bandung dan ingin konsentrasi menulis, tapi entah bagaimana ceritanya saya malah ada di FLP wilayah. Rencana kabur saya tidak berhasil. Seolah ada sesuatu yang menarik saya. Suka atau tidak suka, saya harus kembali.

Saya jadi ingat, dalam ilmu komunikasi ada yang namanya Model Pertukaran Sosial. Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang, artinya orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, pernah menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut: “Setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya“.

Mungkin teori ini benar, setidaknya berlaku untuk saya. Meski saya belum berani merumuskan ganjaran jenis apa yang saya terima. Tapi sepertinya memang ada tali yang mengingat saya pada organisasi ini. Tapi keterikatan itu bisa saja berbentuk anggota biasa kan? Tidak harus jadi pengurus. Saya juga ingin dong tahu rasanya duduk diam dan menulis sepanjang tahun. Tapi sampai sekarang belum bisa. Ini sih antara saya yang memerlukan FLP, atau FLP yang memerlukan saya (geer banget yak?)

Mendengar penjelasan saya itu, sang senior tertawa dan berkata dengan tenang, “Ya senasiblah sama saya, malah saya sudah mulai sejak tahun 1999, nggak bisa lepas dari kutukan.”

Oke kutukan… let’s say this is true, someone curse us, fate curse us… yang jadi pikiran saya, tidak adakah cara memusnahkan kutukan ini? Seharusnya sih ada, cuma saya belum tahu caranya…[]

aaa

___________________________________________________________
Tulisan-tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena periode kepengurusan 2013-2017. Dalam waktu 100 hari menuju tanggal Munas (3 November 2017), saya akan membuat 100 tulisan tentang Forum Lingkar Pena dari sudut pandang saya sendiri. Mungkin pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak terlalu bagus, mungkin beberapa ada yang terlalu tendensius, subjektif, atau menyinggung. Tapi saya tidak sedang ingin menyanjung, saya hanya ingin bercerita apa adanya. Tentang saya, dan sebuah organisasi bernama Forum Lingkar Pena

aaa

aa

Share This:

Related posts:

H-93: Apakah Bacaan Anak FLP?
Oh iya sebelumnya, ada yang sudah baca tulisan saya tentang citra FLP di mata orang luar? Silahkan dibaca kalau sempat… intinya, di tulisan itu saya menyinggung sedikit tentang Current Image (Citra ya...
H-90: Saya Menjadi Anomali
Short Cuts (Robert Altman, 1993), durasi 3 jam, 10 alur cerita, dan 22 karakter utama. Sebuah potret muram dari kehidupan sehari-sehari kelas menengah dan pekerja di Los Angeles. Orang-orang biasa den...
H-89: Saya dan Wildan
Di Forum Lingkar Pena, saya bertemu seseorang bernama Wildan Nugraha. Mukanya jelek (karena itu saya pilihan foto dia yang paling buram di feature image), namun dia sudah seperti guru pertama saya dal...
H-86: Bidadari Kota C (1)
Kamu terbaring malas di kamar, sendirian menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba telepon genggammu berbunyi, suara pesan singkat. Kamu membukanya. Ada sebaris pesan dari seorang perempuan di kota sebel...
H-83: Masuk FLP, Mencari (Jodoh) Penulis
Kalau dalam postingan Bidadari Kota C 1, 2, dan 3 (kalau mau baca klik saja angkanya) saya bercerita tentang perempuan, itu bisa dianggap sebuah tulisan yang seperti kata Seno Gumira Ajidarma: Mau dis...
H-78: FLP, Komunitas Antologi Bersama
Menurut KBBI Online, Antologi (an.to.lo.gi) adalah kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. Artinya, karya antologi itu bisa dilakukan sendirian dan bisa dilakukan bers...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “H-100: Kutukan Pengurus?

Leave a Reply

Your email address will not be published.