Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar

(1)

Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari pribadi yang meninggal; namun anehnya… membaca berita-berita itu jiwa saya lantas merasa sesak tanpa alasan yang bisa didefinisikan.

Pertama adalah berita meninggalnya seorang bernama Koko Ferdie. Nama itu muncul begitu saja di timeline tanpa saya ingat kapan pernah saling meng-add. Yah, saya tahu beberapa kali status Ferdie lewat tanpa benar-benar saya cermati. Mungkin kalaupun saya ingat akan dirinya, saya hanya bisa mengingatnya sebagai orang yang berkecimpung di dunia menulis. Mungkin beberapa kali saya menemui sosoknya di grup KOBIMO, tempat belajar menulis novel. (Grup yang akhirnya saya tinggalkan karena sebuah alasan yang tidak usah saya tulis). Hanya itu, memori saya tentang Koko Ferdie sungguh terbatas. Tidak bisa saya tambah meski gudang  ingatan saya kuras. Bahkan wajahnya pun saya tidak tahu, saya tak pernah bertemu atau mencari foto-fotonya.

Namun mendadak saja, kemarin, sekian belas teman serempak meratapi Koko Ferdie. Saya tercenung, lalu bertanya-tanya: sebegitu dalamnya kah jejak yang ia tinggalkan sehingga sekian belas orang secara serentak membuat status tentang dirinya?
aaa
aaa

(2)

Berita kedua yang mampir ke timeline saya adalah meninggalnya Chester Bennington. Sama saja, saya juga tidak tahu menahu tentang orang ini. Bahkan mungkin saya baru tahu dia vokalis Linkin Park  setelah membaca berita kematiannya.

Padahal saya punya (artinya beli barang asli di Disc Tarra) album Linking Park yang Hybrid Theory dan Meteora. Dulu saya menikmati lagu-lagu di dua album itu dengan rutin. Artinya masa lalu saya pernah disambangi oleh tarikan suara Chester Bennington (Bergantian dengan suara Serj Tankian dari System of a Down). Tapi memang hanya suara, saya tidak tahu siapa pemilik suara itu.

Memang itulah penyakit saya. sering menikmati sebuah lagu dan mengetahui nama band, tapi tidak pernah benar-benar ingin tahu nama-nama personilnya. Silahkan tanya pada saya nama-nama band di era 90 sampai awal 2000, Insya Allah saya bisa menjawabnya, tapi jangan pernah tanya nama personil-personilnya. Buang waktu, lebih baik kita minum kopi saja!

Silahkan mengamuklah para penggemar (dan pengenal) Chester Bennington. Kalian mesti terima fakta bahwa ada orang yang mengagumi karya orang ini tanpa mengenal namanya. Salah satunya adalah saya.

Maka begitulah, hingga beberapa teman mendadak meratapi meninggalnya Chester dalam status-status mereka, saya tercenung, lalu bertanya-tanya: sebegitu dalamnya kah jejak yang ia tinggalkan sehingga sekian belas orang secara serentak membuat status tentang dirinya?
aaa
aaa
(3)

Membicarakan hal ini, saya jadi teringat salah satu penggalan novel Fight Club, karya Chuck Palaniuk yang pernah saya baca. Halaman 243:

Satu menit, Robert Paulson adalah pusat kehangatan dunia yang berkerumun di sekelilingnya, dan saat berikutnya, Robert Paulson adalah  sebuah objek. Setelah polisi menembak, hadirlah keajaiban mengagumkan dari kematian.

Malam ini, di setiap fight club, pemimpin cabang berkeliling dalam kegelapan di luar kerumunan lelaki yang saling memandang menyeberangi pusat kosong ruang bawah tanah semua fight club, dan suara ini berseru, “Namanya Robert Paulson”, dan kerumunan orang berseru, “Namanya Robert Paulson.”

Ia empat puluh delapan tahun, dan ia bagian dari fight club. Ia empat puluh delapan tahun, dan ia bagian dari Project Mayhem. Hanya dalam kematian kita punya nama sendiri, karena hanya dalam kematian kita bukan lagi bagian dari pekerjaan. Dalam kematian kita menjadi pahlawan

Hanya dalam kematian kita punya nama sendiri. Kalimat itu terus menggema; dan mungkin itu sebabnya nama Chester baru “berbunyi” di dalam ruang otak saya setelah ia meninggal. Bunyi itu lantas mendorong saya menghabiskan waktu beberapa jam dengan mendengarkan secara acak lagu-lagu Linkin Park. Tentu itu termasuk Talking To Myself yang kabarnya dirilis beberapa jam sebelum Chester menghembuskan nafas terakhirnya. Di lagu tersebut, saya mencermati curhatan hati Chester. Saya pun sedikit merinding saat mendengar ia menjeritkan keputusasaannya dengan tegas: You say I can’t understand / But you’re not giving me a chance / When you leave me, where do you go?
aaa
aaa

(4)

Lalu dalam kematian kita menjadi pahlawan. Memang mungkin saja seperti itu, karena mendadak sekali nama Koko Ferdie jadi memiliki arti yang berbeda di benak saya. Mendadak nama itu terasa memiliki karisma sendiri. Mendadak sekali saya merasa malu menyebutkannya, karena sekarang nama itu sudah berada di level tertentu, yang saya pikir tidak mungkin bisa menjangkaunya.

Mendengar reaksi atas meninggalnya seorang Koko Ferdie membuat saya tidak yakin saya akan mengalami momen yang sama saat meninggal kelak. Jangankan sampai ada belasan status yang menyebutkan nama saya dan berbelasungkawa, hal paling hebat yang saya bayangkan adalah istri atau anak saya kelak akan menuliskan berita kematian di status Facebook mereka, lalu beberapa orang akan memberi komentar belasungkawa, beberapa me-like, beberapa mengirim emoticon sedih. Hanya itu, tidak ada yang sengaja-sengaja membuang energinya menulis status tentang saya. Bahkan yang paling buruk adalah saya akan meninggal tanpa ditangisi oleh siapa-siapa (kecuali keluarga, itu pun jika mereka masih ada, bagaimana jika mereka yang harus meninggal lebih dulu?)

Begitulah kenapa seorang Koko Ferdie sekarang memiliki arti yang berbeda di mata saya. Padahal dalam sudut pandang tertentu, dia bukan siapa-siapa, bukan ulama, bukan penulis terkenal (saya membayangkan level Andrea Hirata atau Raditya Dika), dan bukan pula selebriti… tapi kenapa saat dia meninggal, belasan orang menuliskan status belasungkawa?

Tidak ada jawaban logis lain kecuali satu hal: Koko Ferdie adalah orang baik; dan saat berhadapan dengan orang baik, di situlah saya seringkali merasa malu.
aaa
aaa
(5)

Minggu lalu, saya baru saja merilis sebuah novel berjudul Meja Bundar. Novel itu mempertanyakan soal kematian, dan entah kenapa tadi malam saya membayankan Koko Ferdie, Chester Bennington, dan saya duduk di tepi kolam renang, pada sebuah meja bundar berpayung, mungkin minum kopi (saya penasaran setengah mati kopi macam apa yang akan kami pesan), kami laki-laki, bertiga, memandang langit senja, sambil membicarakan momen-momen kematian.

Sungguh sebuah cara yang layak untuk membuang-buang waktu.[]

a()aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
That's Right, Mr Formichetti!
Hal yang paling saya pelajari dari sosial media adalah: Saya diajari menipu diri. Ini seriusan, sejak awal tahun 2015 intensitas saya menulis status di sosial media menurun drastis, bisa seminggu sek...
Nenek Bebek Berkata...
Only boring people get bored! Itu yang nenek bebek pernah katakan, menyebalkan sekali. Perasaan bosan membuat berat semuanya, padahal pekerjaan yang menumpuk (apalagi mengerjakan hobi) harusnya bisa m...
Modal Penting Mencari Kerja
Pada suatu hari di grup alumni STM, ada satu orang teman yang mempost seperti ini: Temans… barangkali punya info lowker di bdg atau lg membutuhkan tenaga kerja di bdg lulusan SMA, pria, jujur, ulet…  ...
Kematian dan Postmodern Jukebox
Dalam proses menulis novel ini, saya terus memikirkan dua hal: yang pertama tentang kematian, dan yang kedua tentang Postmodern Jukebox. Saya kesampingkan dulu yang pertama, saya ingin membahas soal k...
H-79: Semua Terasa Ajaib Sejak Tahun 2005
Lupakan dulu soal keuntungan jadi anggota FLP. Saya ingin memulai tulisan kali ini dari sebuah kisah tentang Michael Jordan, saat dia masih bermain untuk University of North Carolina. Jordan masih kul...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.