Kematian dan Postmodern Jukebox

Dalam proses menulis novel ini, saya terus memikirkan dua hal: yang pertama tentang kematian, dan yang kedua tentang Postmodern Jukebox. Saya kesampingkan dulu yang pertama, saya ingin membahas soal kedua.

Postmodern Jukebox atau PMJ adalah sebuah kelompok musik yang dibuat pada tahun 2011 oleh Scott Bradlee, seorang arranger dan pianis. PMJ dikenal sebagai kelompok musik yang me-remake musik-musik modern menjadi genre vintage dari awal abad ke 20 seperti swing atau jazz.

Lewat karya PMJ dan Scott Bradlee saya bisa menikmati lagu-lagu Justin Bieber, The Cardigans, Outkast, Guns n’Roses, Beyonce, Rihanna, Maroon 5, atau Bruno Mars dengan rasa yang berbeda. PMJ membuat saya mengerti bahwa sebuah lagu bisa dibawakan dan dinikmati dengan cara-cara yang berbeda. Seperti Piccaso yang melukis sekor sapi dengan enam cara yang berbeda, dari realis ke kubis. Di sini pun lagu Britney Spears ternyata juga bisa dibawakan dengan gaya Marilyn Monroe. Beberapa lagu bahkan terbukti bisa dimainkan sambil diiringi tap dancing-nya Sarah Reich.

Kesadaran itu menarik saya kembali pada pondasi penyusunan novel ini. Sebuah novel dibangun dari tanda tanya yang melingkupi penulisnya, dan perjuangan si penulis adalah menjawab pertanyaan itu lewat lembar-lembar yang dia tuliskan. Lewat kata demi kata yang dia susun, seorang penulis sebenarnya mencari jawaban akan pertanyaannya sendiri. Dan pada tahun 2011, ketika itu saya masih aktif di dunia film, entah kenapa selama beberapa bulan saya berpikir tentang aspek-aspek kematian.

Salah satu pertanyaan yang menghantui saya adalah:

Jika kematian bukan lagi takdir yang diterima dengan pasrah, tapi adalah sebuah solusi dari masalah yang sedang kita hadapi, maka beranikah kita menempuhnya?

Terus terang saya lupa kenapa sebabnya saya bisa berpikir-pikir begitu. Karena dilihat dari sudut pandang manapun, itu bukan pertanyaan wajar yang biasa muncul sehari-hari. Tapi bisa saya yakinkan bahwa saat itu saya tidak sedang depresi, tidak sedang ingin bunuh diri, saya hanya penasaran tentang kematian. Mungkin pertanyaan itu muncul di satu malam setelah saya selesai menonton Heaven Can Wait (Warren Beatty, 1978), atau mungkin film yang lebih lama lagi: The Seventh Seal (Ingmar Bergman, 1957). Kalau diingat-ingat, bisa jadi ini gara-gara filmnya Ingmar, karena buat saya adegan ksatria abad pertengahan bermain catur melawan malaikat kematian yang akan mengambil nyawanya di film itu sungguh-sungguh epic.

Apapun, tapi intinya pertanyaan itu cukup membuat saya berkutat selama lima tahun menulis naskah ini. Bahkan dalam prosesnya, saya sampai harus “curi-curi” mengikuti kuliah di salah satu fakultas filsafat yang kebetulan sedang membahas materi “Filsafat Kematian.”

Ternyata bayak mempelajari kematian membuat saya sadar bahwa sebenarnya sangat sedikit yang kita ketahui tentang hal tersebut. Tidak ada orang yang benar-benar mati lalu bisa kembali untuk menceritakan pengalaman atau membagi data risetnya. Mati suri bagi saya tidak dihitung karena pengalaman setiap orang berbeda-beda, malah dalam beberapa kasus, mati suri rasanya lebih seperti cerita fiksi.

Padahal setiap kematian adalah mutlak terjadi, semua yang bernyawa pasti akan mati. Nah, misalnya pada satu saat kita harus berangkat ke Tokyo untuk pertama kalinya, maka pasti berbulan-bulan sebelumnya kita akan menyempatkan diri mencari segala hal tentang Tokyo: apa makanan di sana, apa tempat wisata di sana, bagaimana perjalanan paling mudah dan murah ke sana, dan banyak lagi. Bahkan di pertengahan 2016 ketika saya harus berangkat ke Bontang, selama beberapa minggu saya mencari data-data terkait soal kota Bontang. Makanannya, tempat wisatanya, penduduknya, dan sebagainya. Semua itu penting sebagai bekal, persiapan menuju tempat baru, tempat yang belum pernah kita kunjungi.

Perspektifnya, kalau “hanya” untuk berangkat ke Bontang atau Tokyo saja kita akan mencari-cari data seakurat mungkin, kenapa pada sesuatu sepasti dan semutlak kematian, sebagai sesuatu yang pasti terjalani, kita tidak menelitinya terlebih dahulu? Kita tidak mencari tahu apa, kenapa, siapa, atau bagaimana kematian itu terjadi, bukan soal sebab tapi alasan serta kenapa kematian diciptakan.

Seperti yang saya bilang, di atas, ternyata sangat sedikit yang kita ketahui tentang kematian karena kita jarang sekali meluangkan waktu menelitinya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, atau membaca literatur tentang itu. Buat sebagian besar dari kita, ternyata kematian itu ditempatkan dalam satu dinding kepasrahan, seolah dia tak perlu ditengok dan tinggal menunggu datang.

Ternyata, dalam rentang waktu lima tahun ini, meski baru sedikit saya mempelajari hal-hal di balik kematian, tapi ada cakrawala yang terbuka di benak saya. Saya bisa menarik perspektif-perspektif baru, sama seperti PMJ mengajarkan saya untuk menikmati musik dari perspektif yang berbeda, pada akhirnya saya juga bisa melihat kematian dari berbagai sisi. Ternyata kematian sangat menarik untuk dikaji. Pada akhirnya saya sadar bahwa kematian lebih dari sekadar penanda akhir kehidupan, bahkan sebenarnya kematian dan kehidupan itu tidak bisa dipertentangkan, mereka bukan antonim.

Begitupun tokoh-tokoh di dalam novel ini, mereka semua pada akhirnya bicara tentang kematian, mereka memiliki perspektif sendiri-sendiri tentang kematian, tapi itulah yang justru membawa mereka menyeberang ke sisi lain, membawa mereka pada pemahaman baru bahwa kematian bisa saja menjadi pilihan.

Sebagai penutup, saya kutipkan wawancara Miles Davis—seorang musisi jazz—di majalah Musician edisi Desember 1991. Di sana dia mengatakan bahwa dia tidak terlalu percaya akan kematian, katanya: “I don’t really think about death, I don’t think people die, you know what I mean? I don’t believe their heads stops. I don’t know what happens; they have to comeback and be around somewhere…

Begitulah…

aaa

Kata pengantar dalam novel Meja Bundar

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Menulis Dengan Pintu Tertutup
Malam ini saya gembira, sebab novel yang sudah saya kerjakan (kami kerjakan, karena saya dapat banyak bantuan dari mbak Latree Manohara) sekitar lima tahun akhirnya selesai ditulis. Saya mulai pada bu...
Penerbit Perlu Naskah: Bitread
Ceritanya, di dekat rumah cafe baru… Warung Upnormal, eh nggak terlalu baru juga sih, pertama kali saya lihat tempat itu ada sebelum puasa. Mau mampir tapi belum sempat, terus pas bulan puasa malah ...
Bersastra dan Bersantai di Rumpun Ariadinatan
Selain dikenal sebagai kota pelajar, Yogyakarta juga identik dengan kota budaya dan kota pariwisata. Berbagai hal yang berkaitan dengan dua hal tersebut dapat kita temui di kota ini. Mulai dari soal k...
Mau Bagi-Bagi Buku (Lagi)
Untuk kedua kalinya dalam waktu setahun ini saya kembali harus menguras rak buku. Yang pertama bulan Februari 2016, saya melepas sekitar 75 buah buku ke sebuah acara pemutaran film yang menyediakan ju...
Mustahil Ngerem Omongan Orang
Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yan...
Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar
(1) Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari p...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.