Perpisahan Perlahan atau Perpisahan yang Direncanakan?

Pagi ini, matahari batal terbit. Gerimis dan mendung kelabu mendera waktu sejak saat fajar harusnya ada. Saya merenung memandangi jendela yang berembun, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mendadak teringat bahwa akhir-akhir ini saya jadi terlalu serius menjalani hidup. Entah apa korelasinya antara matahari, hujan pagi hari, mendung, awan kelabu, dan hidup yang terlalu serius dijalani. Tapi yang pasti, semua itu berakumulasi pagi ini menjadi satu rangkaian kata, sebuah kesadaran: pada satu hari saya harus pergi

Mungkin juga karena kemarin, seseorang mengajak saya bicara, perempuan, pembicaraan yang cukup intens tentang literasi, sampai pada akhirnya kita bicara tentang kepergian; dan saat itulah saya mengutip sedikit isi novel Haruki Murakami: Kaze No Uta O Kike (1979), pada bab sebelum akhir, saya membaca ini: Nezumi masih terus menulis novel. Setiap tahun di kala Natal dia mengirimkan beberapa salinan novelnya kepadaku…

Seingat saya (mungkin saja salah) Pada kalimat itulah kali terakhir tokoh Aku menyebut nama Nezumi, kawan yang mendampinginya nyaris di tiap scene. Bahkan Nezumi tidak disebutkan sampai akhir, justru cerita tentang Derek Hartfield lah yang dibahas sampai akhir oleh si Aku.

Baiklah, kembali pada urusan Nezumi, saya merasa itulah cara menghilang yang paling keren dari hidup seseorang. Malah tanpa berlebihan, saya mengatakan bahwa cara itulah yang ingin saya pilih: menghilang dari kehidupan seseorang, tapi tetap meninggalkan jejak perjalanan lewat sebuah catatan (novel), dan mengirimkannya pada orang-orang tertentu. Semacam pengingat bahwa saya masih ada, tapi tak mungkin diraih lagi.

Mendengar hal ini, perempuan itu—yang dengannya saya menemukan banyak kesamaan, film, makanan. Kita selalu bercita-cita mabuk sampai setengah mampus, tapi semuanya selalu berhenti dalam tahap candaan, dia punya asam lambung akut, saya juga sama—segera menukas, “Itu rencanamu? Tapi kamu tahu? aku akan menghilang tanpa meninggalkan jejak apa-apa!”

Saya hanya memandang wajahnya, tak bisa bicara apa-apa, karena saya kenal beberapa orang yang memang merindukan dirinya hilang tanpa jejak. Tapi di tengah sikap depresinya, kadang saya gemas pada perilakunya yang selalu bersikap seolah tak bisa apa-apa, tak punya apa-apa. Detik itu saya merasa ingin membelai rambutnya dan mengatakan, “Kamu juga bisa membuat jejak, bahkan lebih dalam dariku.”, tapi detik kemudian saya membatalkan niat itu. Bukan pada tempatnya saya melakukan itu, semata-mata karena mulai saat ini saya harus membiasakan diri dengan sebuah jarak tak kasat mata di antara kita. Jarak yang tercipta karena keharusan, sebab tak pernah ada rambu yang mengatur harus sedekat apa seseorang sebelum akhirnya terpisah?

Sialan, hujan ini membuat saya jadi terlalu melankolis. Atau mungkin karena kemarin saya baru menamatkan film Jepang bangsat yang membuat kelenjar air mata saya aktif setelah sekian lama tidak? Judulnya, Tomorrow I Will Date With Yesterday’s You. Saya sudah menuliskannya di sini. Film itu membuat saya bertanya-tanya sendiri:

Mana yang lebih buruk: perpisahan pelan-pelan atau perpisahan yang direncanakan?

Perpisahan pelan-pelan artinya secara lambat laun tercipta jarak antara dua orang, hingga akhirnya mereka berpisah dengan sendirinya. Mereka berpisah karena sesuatu hal, padahal keduanya tak ingin berpisah. Atau sebaliknya, perpisahan yang direncanakan… saat kedua orang itu sudah tahu bahwa dirinya akan berpisah, bahkan sudah tahu kapan detik perpisahan itu akan terjadi, dan sekali lagi: padahal keduanya tak ingin berpisah.

Entahlah, perpisahan adalah bagian dari hidup, itu yang diajari semua pengkhotbah di televisi, tapi sejauh apakah kita harus percaya pada mereka ketimbang perasaan sendiri? Sementara televisi memaksa kita menikmati tatapan berlapis. Tatapan pengkhotbah ke layar kaca tidak semata-mata menatap kita. Dia tidak menatap kita, tapi televisi secara bangsatnya membuat kita percaya dia sedang ditatap olehnya. Ia tidak menatap kita ketika mengucapkan semua kata-kata, jadi bagaimana mungkin kita bisa percaya bahwa dia mengerti perasaan kita?[]

aaa

=======================================

Saya menulis paragraf terakhir ini sambil mendengarkan lagu Tulus, ada kalimat menyayat yang dia nyanyikan: Jangan paksakan genggamanmu / Izinkan aku pergi dulu / Yang berubah hanya / Tak lagi kumilikmu / Kau masih bisa melihatku / Kau harus percaya / Kutetap teman baikmu

Saya tahu, kita menyukai lagu yang sama, meski saya tidak pernah mengakuinya.

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Kala Subuh: Teringat Sahabat Lama.
Masih sama, seperti beratus-ratus subuh sebelumnya, membuka laptop, menekuni lagi tulisan yang tidak kumengerti... Teringat: "It's a big thing for me!" kalimat itu meluncur berulang-ulang ...
Paket Video Wedding: No Way!
Dari dulu, PH tempat saya kerja mengerjakan hampir semua jenis film: video klip, iklan, animasi, film panjang, film pendek, liputan acara, dan banyak lagi. Tapi ada satu job yang sering banget kita ...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Apakah GNB Masih Diperlukan?
Gerakan Non Blok (GNB) atau yang dalam bahasa politik internasional disebut sebagai NAM (The Non-Aligned Movement) adalah sebuah gerakan yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap b...
Jangan Tarik Saya Dulu
Ada saatnya kita ingin membuka lembaran baru, dan terkadang itu mengharuskan kita melepaskan tumpukan sampah masa lalu. Saya mulai paham soal itu sejak sebulan yang lalu. Tepatnya sejak saya menginjak...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.