Tomorrow I Will Date With Yesterday’s You

Sudah lama saya merasa tidak ingin menulis tentang film. Sejak memutuskan untuk pensiun dari dunia film dan konsen di dunia menulis, intensitas saya menonton film menurun drastis. Apalagi memang dulu saya menonton film untuk belajar sesuatu, sekarang saya jadi menonton film itu murni untuk cari hiburan. Kalau dulu saya menonton film tergantung sama sutradara dan cerita, sekarang lebih tergantung sama genre (asal bukan horor, slasher, atau thriller) dan rating IMdB.

Akibatnya kalau dulu saya bisa nonton 15 film per minggu (2-3 per hari), sekarang dalam sebulan paling saya nonton film cuma 2 judul lah paling banyak film bokep dan semi tidak dihitung, itu juga kadang ngulang film lama. Maka tidak heran kalau makin sini saya jarang nemu film yang (dalam bahasa saya) mindfuck.

Apa ya?… kalau dijelaskan film-film mindfuck itu bisa dibilang adalah film yang bisa membuat saya tercengang saat menontonnya. Itu semacam perasaan yang timbul waktu saya menonton film seperti Mr Nobody (Jaco Van Dormael, 2009), Lolita (Stanley Kubrick, 1962), The Seventh Seal (Ingmar Bergman, 1957), The Truman Show (Peter Weir, 1998), atau Cast Away on the Moon (Lee Hae-jun, 2009).

Akibat sedikitnya tontonan tersebut, otomatis selama lebih dari setahun ini belum ada film yang bikin saya tergerak untuk menuliskannya, bahkan film dengan twist mengejutkan macam Ruby Sparks (Jonathan Dayton, 2012) saja tidak membuat saya merasa harus mengulasnya. Tapi ternyata semua berubah saat kumpulan zombie berpayudara besar menyerang minggu lalu saya menonton film Tomorrow I Will Date With Yesterday’s You (Takahiro Miki, 2016).

Saya menemukan film berjudul panjang ini tidak berdasarkan apa-apa, kecuali filmnya mendapat nilai lumayan di IMdB. Lagipula, awalnya saya tidak pasang ekspektasi apa-apa kecuali berharap film dengan nilai 7,8 ini benar-benar bagus. Saya tidak mau terlalu percaya juga pada nilai, karena pengalaman terakhir juga nonton Kimi to Boku (Kubota Takashi, 2011) yang punya nilai 7,0 malah ngantuk di tengah.

Kembali pada Tomorrow I Will Date With Yesterday’s You, ternyata… film ini benar-benar bagus. Nilai 7,8 malah saya anggap agak sedikit merendahkan film ini yang mestinya bisa dapat nilai kepala 8.

Kalau dibaca sinopsisnya, sebenarnya kisah film ini tampak sederhana. Ini adalah film tentang cerita cinta antar dua orang: Takatoshi Minamiyama (Sota Fukushi) dan Emi Fukuju (Nana Komatsu) saat usia mereka duapuluh tahun. Takatoshi adalah seorang mahasiswa seni rupa yang bercita-cita jadi mangaka, sementara Emi sampai cerita berakhir tidak jelas apa pekerjaannya. Mereka bertemu di sebuah gerbong kereta api, lalu setelah itu cerita berlanjut dengan sebuah plot cinta yang makin lama makin kompleks, hingga ending. Untuk yang penasaran dengan detailnya, silahkan cari sendirilah sinopsis-nya, di Wikipedia juga ada. Kalau yang begitu-begitu sih kan sudah banyak. Meski—menurut saya—film ini tidak terlalu terkenal karena belum terlalu banyak juga ulasannya di internet, terutama ulasan dalam bahasa Indonesia.

Jadi saya ga akan spoiler apapun, kecuali ingin bercerita bahwa saat menonton film ini, saya merasakan kesedihan yang amat sangat. Mungkin rasa itu muncul akibat akting yang bagus, backsound scene yang cocok, atau mungkin tone film, atau mungkin juga semuanya. Sepanjang menonton saya membongkar-bongkar lemari ingatan,: mirip seperti apakah plot film ini? Apakah mirip 13 Going on 30, The Lake House, Sliding Doors, atau The Time Traveler’s Wife?

Rasanya tidak… mengacu pada list film romance bertema time dimentional yang pernah saya tonton itu, Tomorrow I Will Date With Yesterday’s You adalah film dengan plot yang tampil beda, idenya tentang pergerakan bulan saat berotasi dengan bumi; dan hal itu yang membuat pesan film ini terasa sangat kuat, jika Puthut EA punya novel yang berjudul Cinta Tak Pernah Datang Tepat Waktu, pesan film ini adalah:

Cinta mungkin saja datang di waktu yang tepat, tapi pasti pergi di waktu yang tidak tepat

Well, film yang diadaptasi dari novel berjudul sama hasil karya Takafumi Nanatsuki ini menurut saya tampil dengan struktur yang pas, tone yang pas, backsound yang pas, kisah yang pas. Dalam minggu openingnya di Jepang sana, film ini berhasil meraih posisi empat dengan pendapatan sekitar US$1.7 million. Film yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton, dan terutama… setelah itu segera nikmatilah lagu “Happy End” dari Back Number, soundtrack resmi film ini.

“Happy End” adalah sebuah OST yang menurut saya sangat-sangat-sangat bangsat dan biadab, membuat saya lupa aturan dasar hidup: bahwa laki-laki harus meneteskan darah, bukan air mata.[] aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Nonton Downfall: Merinding Dini Hari
Saya yakin  sudah banyak yang menonton film ini. Ya, soalnya ini film lama, rilis tahun 2004 di Jerman (kalau rilis di USA tahun 2005) dengan disutradarai oleh Oliver Hirschbiegel. Film ini masuk kate...
Death Bell: Ini Film Slasher Pendidikan?
Film Death Bell dari Korea ini adalah karya Kim Sang Man (ditulis di kotak DVD) atau Yoon Hong-seung (ditulis di situs resminya) yang rilis tahun 2008. Film ini sebenarnya termasuk ke genre slasher. S...
Rumah Putih #4: Ketika Rok Prisia Tersingkap
Dapatkah seorang aktris menafikan kehadiran orang lain ketika dia dituntut untuk merasa sendiri? Prisia Nasution akan menjawab, “Tidak.” Bermain dalam Gala Sinema SCTV “Cinta tak Pernah Salah”, Pris...
Chef: Hidup Kita di Tangan Kita
Saya baru selesai nonton film Chef (Jon Favreau, 2014), inti ceritanya soal seorang juru masak profesional di sebuah restoran ternama yang mengalami konflik hebat dengan seorang kritikus makanan—dan t...
Katanya: Korean Kill Bill
Saya mau ngomongin film yang judulnya "The City of Violence". Kenapa? karena setelah nonton, saya berpikir... "aneh juga, film segini bagus kok baru sekarang sampai ke Indonesia? padaha...
H-95: Apakah Kita Menulis Untuk Difilmkan?
Di tulisan sebelumnya saya membahas tentang para penulis baru yang berkiblat pada senior. Mungkin tulisan yang sekarang ini ada hubungannya, mungkin juga tidak, tapi kan tujuan saya menulis 100 hari i...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.