Modal Penting Mencari Kerja

Pada suatu hari di grup alumni STM, ada satu orang teman yang mempost seperti ini: Temans… barangkali punya info lowker di bdg atau lg membutuhkan tenaga kerja di bdg lulusan SMA, pria, jujur, ulet…  Begitu isinya, dan ketika kita tanya ternyata dia sedang cari lowongan kerja untuk dirinya sendiri.

Inilah yang membuat saya tercenung. Saya kenal orang ini, dulu dia satu kelas dengan saya, orangnya tidak menonjol kepintarannya, tapi juga tidak bisa dibilang bodoh. Saya nilai dia bisa cukup survive di sekolah kami yang terkenal ketat itu. Artinya dia bisa mengikuti pelajaran, bisa bergaul juga, main bola juga, tertawa-tawa juga. Aman lah pokoknya.

Melenceng sebentar. Di angkatan STM saya, sebenarnya sayalah yang paling bodoh. Terbukti dari nilai rata-rata saya yang paling rendah dibanding semua orang. Maka dari sejak lulus, saya sadar diri untuk tidak mengikuti jejak teman-teman. Setelah lulus mereka ada yang ikut SPMB, ada yang melamar kerja di Garuda Indonesia, PT DI (dulu masih IPTN), sehingga sekarang saya tidak heran jika teman-teman saya ada yang pegang jabatan penting di Lion Air, Garuda, bahkan ada juga yang “nyasar” sampai Qatar Airways. Sementara saya sendiri malah ambil Diploma 1 Informatika, pekerjaan pertama saya adalah jadi pramuniaga alat tulis di Gramedia. Setelah itu saya jadi sales panci door to door, dan sekarang malah “tersesat” jadi jurnalis dan novelis. Sama sekali bukan jenis-jenis pekerjaan yang sesuai dengan jurusan saya di STM.

Lalu tiba-tiba saya mendengar teman saya menjadi pengangguran dan sedang cari pekerjaan. It’s oke pal… saya juga pernah jadi pengangguran di usia 30,  Januari  – April 2015 saya tidak punya kerjaan, hidup murni dari tabungan. Saya juga mencari pekerjaan, tanpa ijazah S1 apalagi S2 seperti orang-orang, saat itu hanya satu skill yang saya jual: kemampuan menulis.

Alhamdulillah, saya dapat pekerjaan dengan modal menawar-nawarkan skill tersebut, bahkan pekerjaan itu sudah membawa saya sampai ke Bontang ini, sudah lebih dari setahun saya kerja di perusahaan itu, dan tidak ada gugatan soal ijazah formal, misalnya.

Kembali ke teman saya, membaca chat dia di grup membuat saya tercenung. Di satu sisi saya iba padanya (usia 30-an menganggur, itu mimpi buruk, apalagi kalau kita sudah punya tanggung jawab istri-anak), tapi di sisi lain mendadak sekali saya merasa beruntung. Ini bukan soal saya punya pekerjaan dan dia tidak belum, ini bukan soal dia mencari pekerjaan dengan ijazah STM (karena saya juga sama, kemana-mana nenteng ijazah STM), namun ini soal fakta bahwa di usia 34 tahun saya tidak seperti yang dia masih harus mencari pekerjaan dengan modal: (1) pria, (2) jujur, (3) ulet.

Flashback sebentar ke fakta bahwa “nilai rata-rata saya yang paling rendah dibanding semua orang”, hal itu yang membuat saya merasa bahwa teman-teman saya memiliki peluang lebih baik dari saya di dunia pekerjaan, saya merasa bahwa mereka akan dengan mudah bekerja dengan tarif dollar atau dinar, saya merasa bahwa mereka akan dengan sangat mudah bekerja dengan kolega-kolega dari USA, Perancis, Arab Saudi, atau berbagai negara yang menggiurkan untuk dikunjungi.

Singkatnya: saya merasa bahwa teman-teman saya akan sangat mudah membuat portofolio yang mentereng meski hanya memiliki ijazah STM. Ya, bagaimana tidak, nilai mereka kan dulu tinggi-tinggi, mereka tentu lebih pintar dari saya. Kalau saya saja yang cuma dapat nilai rendah di STM, tidak kuliah, dan “hanya” berbekal skill menulis sudah bisa sampai Bontang. Masa yang nilainya tinggi-tinggi macam mereka… emperan London atau New York aja nggak dapet?

Maka saya tercenung membaca bahwa teman sekelas mencari pekerjaan hanya dengan ijazah STM dan tiga modal tadi, (1) pria, (2) jujur, (3) ulet. Terus terang itu kadang membuat saya ingin mengemplang kepalanya, berusaha menyadarkan dia bahwa itu bukan sesuatu yang bisa dijual di usia 30! Saya ingin menyadarkan dia bahwa dia usia-usia seperti ini, harus ada sesuatu di luar itu yang bisa ditawarkan, sebuah skill yang layak jual. Karena kalau cuma modal pria, jujur, ulet sih anak fresh graduate juga punya.

Saya ingin bilang, “Bro… dulu nilaimu tuh lebih tinggi dari aku, level kerjaanmu juga harusnya lebih berduit dari kerjaanku, masa sampe umur segini masih aja ngandelin jujur dan ulet? Pasti kamu punya skill lain yang bisa dijual dong?  Kalo jual diri tuh yang bener!

Saya tulis postingan ini bukan mau menghina dia, malah bagus kalau ada pembaca yang punya kerjaan untuk teman saya itu, ya jangan ragu bilang ke saya, nanti saya sambungkan. Tapi saya tulis ini sebagai self reminder bahwa ada kalanya saya (kita) mesti punya sesuatu yang layak jual, sebuah skill, sebuah kemampuan, sebuah ilmu yang orang lain jarang bisa lakukan… apapun, in case di satu momen ijazah kita tidak bisa bicara, mungkin skill kita yang akan bicara.

Begitu sih kira-kira.[] aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Paket Video Wedding: No Way!
Dari dulu, PH tempat saya kerja mengerjakan hampir semua jenis film: video klip, iklan, animasi, film panjang, film pendek, liputan acara, dan banyak lagi. Tapi ada satu job yang sering banget kita ...
Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Mari Merayakan, Mari Menjeda
Kali ini saya ingin menulis tentang perayaan. Karena tadi malam, sekitar satu jam lewat dari tengah malam, di sebuah warung tenda, saya mendapati diri sedang menghadapi segelas besar jeruk panas, roti...
Impaksi 01: Apa Sih Impaksi?
Kemarin, untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gusi gara-gara impaksi. Operasi yang pertama sudah agak lama, sekitar Juni 2015. Waktu itu setelah rontgen baru ketahuan kalau gigi saya yang impaksi ...
Pelajaran Dari Kaki Seribu
Di rumah kontrakan saya sering sekali muncul kaki seribu—masih diperdebatkan, karena ada teman saya yang bersikeras bilang kalau itu namanya ulat gonggo, apapun… I’m a simple man: hewan itu melata dan...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.