Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati

Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1]

Ah, semoga ada yang benar-benar melihat berita ini. Bukan pesimis, namun membaca pola pemuatan berita-berita di media nasional—dan jumlah hits pembaca dari berita-berita di media online—kabar seperti ini biasanya hanya akan terselip-selip di tengah panasnya perebutan kursi jabatan atau saling serang memperebutkan kekuasaan.

Anggaplah ini pendapat minoritas, namun semestinya, jika kita menaruh cukup perhatian, informasi seperti ini bisa setidaknya memantik rasa ingin tahu. Yah, minimal cukup untuk jadi bahan diskusi saat siskamling atau saat istirahat makan siang di kantor.

Kenapa?

Karena dilihat dari sudut manapun juga, angka sebesar ini adalah sebuah jumlah yang banyak. Menurut Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Agus Muharram, total ada 212 ribu Koperasi di Indonesia. Artinya jumlah Koperasi yang dibubarkan sudah mencapai kisaran angka 30%. Dari pemikiran kita-kita yang awam saja, jika dalam sebuah sistem ada pembubaran dengan kuantitas sebanyak itu—dan dilakukan hanya dalam waktu setahun—maka pastilah ada masalah serius yang sedang terjadi.

Nah, ketika beritanya ditelusuri lebih dalam lagi, kabarnya pembubaran ini sebagian besar dikarenakan: Koperasi-Koperasi itu sudah tidak beroperasi dan terindikasi tindak kriminalitas.

Duh, ini yang agak rumit. Kalau sudah menyentuh soal kriminalitas, lebih aman kita serahkan saja pada polisi dan pihak-pihak berwenang, tidak usahlah kita jadi main hakim sendiri atau menuding yang bukan-bukan. Tapi untuk sekadar bahan obrolan ringan, bisa juga untuk kelihatan pintar di depan calon mertua, bolehlah kita iseng-iseng menganalisisnya. Apalagi sebenarnya subjek dari cerita ini—yaitu Koperasi—adalah sesuatu yang bisa saja beririsan dengan kehidupan kita, baik secara sadar atau tidak.

Karena sebagai suatu sistem ekonomi yang diperkenalkan di Indonesia oleh Raden Arta Wiriaatmadja pada tahun 1896, Koperasi nyata-nyata sudah menjadi salah satu aspek penting dalam pergerakan roda ekonomi masyarakat kita. Sejarah mencatat, Koperasi sudah banyak berjasa dalam pengembangan ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Nah, dengan sistem yang sudah teruji dengan waktu, ternyata masih saja pemerintah merasa perlu membubarkan 61 ribu Koperasi. Artinya bisa saja di sini ada kelemahan mendasar dari sistem kerja Koperasi, karena sebuah sistem yang sehat tentu idealnya mampu berjalan dengan baik setiap saat.

Berkaitan dengan hal ini, ada keterangan penting dari Sutarmo, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah di daerah Sukoharjo, menurutnya sumber daya manusia yang lemah dalam urusan pengelolaan membuat Koperasi rawan bubar. ”Pengelola Koperasi harus profesional. Apabila tidak maka rawan kecurangan!”[2] begitu menurutnya.

Sutarmo punya alasan bicara seperti itu. Karena menurut data, di Sukoharjo ada 840 Koperasi. Dari jumlah tersebut sebanyak 380 Koperasi telah dibubarkan. Selain itu ada 400 Koperasi lainnya yang ikut terancam dibubarkan. Nah, bubar lagi kan!

Dari sini, jelas sebagian besar ujung pangkal dari pembubaran Koperasi  adalah ketidakberesan unsur manusia. Sebuah ketidakberesan yang acapkali menjadi sumber masalah di sebuah sistem, baik masalah jangka pendek atau jangka panjang. Termasuk pula sistem ekonomi Koperasi.

Karena sebuah Koperasi didirikan atas dasar adanya kesamaan dan kebutuhan antara para anggotanya. Kebutuhan yang sama ini lalu diusahakan pemenuhannya melalui pembentukan usaha bersama.

Dengan adanya perusahaan yang dimiliki secara bersama-sama, maka diharapkan kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan cara yang lebih baik dibanding dengan dilakukan oleh masing-masing anggota secara perorangan.

Atau singkatnya: Koperasi adalah sejenis usaha bersama, dibangun dari modal bersama, tumbuh dan berkembang dalam pengawasan bersama, dan keuntungan pun dinikmati bersama.

Jadi jelas, bagaimana mungkin bentuk usaha seperti ini diharapkan bisa berjalan jika dipegang oleh individu yang belum satu rasa? Atau istilahnya, belum memiliki frame pemikiran yang sama.

Maka untuk membentuk Koperasi yang kuat, yang pada akhirnya mampu bersaing dengan entitas bisnis lain, salah satu yang perlu diperbaiki adalah dengan memperkuat sumber daya manusia. Tapi bagaimana caranya? Apakah selama ini pelatihan-pelatihan teknis mengurus Koperasi yang diadakan oleh Bapak-bapak dari Disperindagkop—atau juga pihak swasta yang peduli—terhitung masih kurang? Padahal kita yakin seyakin-yakinnya kalau usaha Bapak-bapak ini sudah nyaris maksimal, tapi pembubaran 61 ribu Koperasi tahun lalu jelas menunjukkan masih ada masalah yang belum selesai. Atau malah belum tersentuh.

Kembali pada logika dasar menyelesaikan masalah. Kadang sebuah masalah timbul bukan karena tidak ada tindakan, tapi karena dari awal memang orangnya sudah punya bibit masalah yang belum disembuhkan. Itu macam Bapak yang sudah punya empat orang istri seksi, tapi masih saja sering ke lokalisasi karena memang sudah kebiasaan dari muda. Hehe…

Jadi mungkin saja Koperasi yang tidak bisa berdiri ini, akar masalahnya bukan karena kurangnya pengetahuan para pengurus dalam pengelolaan, tapi mungkin karena sejak awal orang-orang itu tidak memiliki sikap mental yang layak untuk menangani sebuah Koperasi.

Dalam hal ini, bukan berarti manusianya harus langsung paham betul tentang seluk beluk Koperasi. Ya itu juga penting, namun bukan yang utama. Persoalannya adalah mengumpulkan manusia yang sudah memiliki satu frame pemikiran, yaitu: memajukan Koperasi. Sebab pengetahuan tentang cara mengelola Koperasi dengan baik dan benar sebenarnya adalah hal yang sangat-sangat bisa dipelajari. Masalahnya adalah: manusia seperti apa yang akan menerima pelajaran itu?

Membentuk manusia yang memiliki satu frame pemikiran jelas perlu waktu, dan perlu semacam pendidikan khusus yang dilaksanakan dalam jangka waktu yang panjang. Sesuatu yang tampaknya akan sangat rumit jika dijalankan sendiri oleh Bapak-Bapak di Disperindagkop. Karena itulah perlu bantuan baik secara langsung atau tidak langsung dari pihak lain, agar bisa terbentuk manusia-manusia yang mencapai sikap mental yang diinginkan.

Dalam hal ini, ada satu hal yang menarik dan layak dipertimbangkan: yaitu melatih manusia lewat Program Asimilasi.

Apa itu?

Program Asimilasi adalah sebentuk program yang banyak diterapkan di Lembaga-Lembaga Pemasyarakatan. Sebenarnya frase ini tidak terlalu asing juga di lembaran berita nasional, namun memang rentan lewat begitu saja di kuping tanpa sempat diperhatikan artinya.

Zwita Almaida, Comdev Fasilitator PT Badak NGL yang sudah banyak membuat program CSR untuk berbagai lapisan masyarakat di Kota Bontang—termasuk diantaranya untuk warga binaan Lapas klas III Bontang—mengatakan bahwa, Program Asimilasi yang dilaksanakan dengan benar menjanjikan sebuah ikatan emosional yang kuat antar anggotanya. Karena asimilasi dapat terbentuk apabila ada tiga hal: terdapat sejumlah kelompok yang memiliki kebudayaan berbeda, terjadi pergaulan antar individu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang relatif lama, serta kebudayaan masing-masing kelompok tersebut saling berubah dan menyesuaikan diri.

“Hasil yang diharapkan dari sebuah proses asimilasi yaitu semakin tipisnya batas perbedaan antar individu dalam suatu kelompok, atau bisa juga batas-batas antar kelompok. Selanjutnya, individu melakukan identifikasi diri dengan kepentingan bersama. Artinya, menyesuaikan kemauannya dengan kemauan kelompok. Demikian pula antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.” Demikian ujar Zwita.

Singkatnya, program Asimilasi sesungguhnya merupakan salah satu jalan yang cukup mumpuni untuk membentuk manusia-manusia yang memiliki satu tujuan, satu rasa, dan keinginan untuk sama-sama berjuang demi kesejahteraan bersama. Yang menarik, selain di Lembaga Pemasyarakatan, pola Program Asimilasi juga bisa diterapkan di pesantren. Karena sistem pendidikan pesantren juga memiliki tiga syarat yang memenuhi standar Program Asimilasi, seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi.

Bukankah para santri itu juga memiliki latar belakang yang berbeda, disediakan ruang untuk bergaul intensif dalam jangka waktu lama, dan final conditioning nya adalah mereka bisa berubah untuk menyesuaikan diri. Terdengar sama kan?

Hal ini bukan tidak mungkin, Malah sangat mungkin sekali. Terutama untuk Lembaga Pemasyarakatan, sesungguhnya para warga binaan di sebuah Lapas adalah orang-orang yang siap bekerja dan berkembang seperti manusia kebanyakan. Mereka tidak jauh berbeda dengan kita semua.

Evy Harjono, penulis buku Voicing The Voiceless pernah berkata bahwa setiap orang memiliki nasibnya sendiri-sendiri. Ada yang beruntung menjalani hidup, ada juga yang kurang beruntung, sehingga tercebur dalam lembah hitam kejahatan dan menjalani sebagian hidup sebagai warga binaan Lembaga Pemasyarakatan. Saat mereka sedang menjalani pembinaan, tentu ruang gerak mereka menjadi sangat terbatas. “Namun mereka yang ada dalam kondisi tersebut bukan berarti tidak bisa berkarya. Karena sebenarnya, setiap manusia memiliki talentanya masing-masing. Hanya sarana mengeluarkannya yang harus diperjuangkan.” Demikian menurut Evy

Nah, mungkin untuk mendapatkan sumber daya manusia yang kuat, Koperasi mesti mempertimbangkan untuk mulai dari sini, dari Lembaga Pemasyarakatan atau Pesantren. Karena secara tidak langsung, Koperasi akan “terima orang-orang jadi”, sudah langsung ada orang-orang yang siap menjaga Koperasi dan memperjuangkannya sampai tetes keringat terakhir. Semata-mata karena pendidikan di sana membuat mereka merasa satu rasa dan satu tujuan. Tinggal soal pembekalan teknis pengelolaan, itu bisa didapat dengan materi yang intensif. Bapa-bapak di Disperindagkop jelas lebih tahu soal itu.

Sebab yang penting bukanlah perkara teknis, namun rasa memiliki dan cinta dari dalam diri. Karena jika sudah terkumpul manusia-manusia yang seperti itu, sesungguhnya teknis-teknis penyelenggaraan kegiatan Koperasi, atau racik-meracik strategi hingga terbentuk formula sakti untuk membuat Koperasi bisa bangkit lagi, itu adalah hal yang sangat bisa dipelajari. Sebaliknya: formula dan strategi sesakti apapun akan percuma jika digenggamkan ke dalam tangan-tangan yang hanya mencari keuntungan pribadi.

Tentu syarat berikutnya adalah jangan sampai ada tangan-tangan jahil yang ikut bermain untuk kepentingan sendiri. Karena akibat korupsi, jangankan untuk menata Koperasi, untuk berdagang cilok pun pasti rugi.[]

aaa
aaa

[1]ahttps://m.tempo.co/read/news/2016/08/10/090794783/sebanyak-61-ribu-koperasi-dibubarkan-ini-alasannya

[2]ahttp://radarsolo.jawapos.com/read/2017/05/29/7717/sdm-lemah-koperasi-rawan-bubar

Gambar Ilustrasi: goodnewsfromindonesia

Share This:

Related posts:

Kesan Canon IXUS 160
Menurut saya—selain Powerbank—salah satu senjata pembunuh bayaran blogger yang cukup penting adalah kamera digital. Soalnya, akan lebih bagus kalau postingan kita dilengkapi foto, dan kalau bisa sih f...
Biar Mereka Bangun Gerejanya
Dulu saya sempat sekolah di sebuah yayasan Katolik selama kurang lebih delapan tahun, namanya yayasan Mardi Yuana, di daerah Cibinong. Saya juga sampai saat ini punya banyak teman Katolik, dan nggak p...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Dimas Kanjeng dan Kepo Maksimal
Entah bagaimana ceritanya, kemarin malam saya “kepeleset” menonton rekaman ILC di Youtube yang episode membahas Padepokan Dimas Kanjeng. Kepelset artinya, saya tidak sengaja mengakses rekaman itu, soa...
Berkarya di Balik Jeruji
Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ...
Merajut Mimpi Lewat Singkong dan Pisang
Singkong dan pisang, sebuah bahan makanan yang cenderung dianggap tradisional dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga dalam artian tertentu kedua makanan ini seolah telah habis varian-variannya karena...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.