Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah

Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) merambah film, kini giliran Achi TM, teman saya yang juga “nyaris” bersamaan meniti karir menulis.

Saya baru tahu pagi ini ketika sedang nontonin video acak di YouTube. Mendadak di sela-sela playlist muncul teaser filmnya. Saya… kaget, tapi langsung saya kirim pesan singkat ke inboks nya, mengucapkan selamat dan semoga sukses. Dengan sedikit seloroh, “Kalau udah sukses, aku masih boleh menyapamu kan?”

Yang menarik, entah kenapa dua hari ini saya seperti yang disenggolkan dengan urusan adaptasi novel ke film. Apa maksud semesta melakukan ini?

Dimulai dari kemarin, saat saya memposting sebuah quote picture dari Ryan Reudell yang isinya: Maybe it wont’t be famous, maybe it won’t be a movie, but that’s not why I started it, and that’s not why I’ll finish

Untitled

Di bawah foto itu ada tambahan caption

We’re not in it for the fame and fortune, we’re in it for Story – the idea that we can connect with anyone on the entire planet through tales of emotional human struggle and make the world a better place. We write to send a message. To ignite change. To inspire. To feel fulfilled. This is the soul of a writer and we all have it burning inside us.

Mendadak Wildan Nugraha, teman dan salah satu guru menulis saya menyentil dengan komentar di bawah foto: Bener embung difilmkan…? (benar, nggak mau difilmkan?)

Sentilannya itu membuat saya berpikir keras, tapi akhirnya saya menjawab begini: Mau, tapi itu bukan tujuan utama sayah nulis nopel, kalau tujuan utama nulis utk difilmkan… udah we nulis skenario :-)

Jawaban kepada pak guru Wildan itu muncul dari keyakinan yang saya pegang kemarin. Selama ini memang saya yakin bahwa menjadikan novel itu menembus film bukanlah tujuan utama saya menulis. Pada akhirnya yang saya kejar adalah berbagi cerita, menceritakan apa yang saya rasakan dan saya pandang. Menulis bagi saya adalah adalah cara berkirim pesan dan menginspirasi. Saya bahkan sudah bahagia andai novel saya “cukup” ada yang membaca, ini bukan perkara jumlah. Novel pertama saya menginspirasi seorang anak Aceh bernama Nuril Annisa untuk menulis di FLP, novel keempat saya menginspirasi seorang anak Bekasi bernama Indira Isvandiari untuk menulis novel juga. Hanya dua orang dari lima novel yang sudah saya keluarkan, dan saya tetap bahagia.

Itulah keyakinan saya.

index1

Namun pagi ini, demi melihat novel Achi TM bisa menembus film, keyakinan saya tadi sedikit goyah.

Achi TM (dan juga Desi Puspitasari) adalah dua orang yang saya kenal sejak masih “biasa-biasa saja”, tapi kini pencapaian mereka sudah lebih gila dari saya. Ada rasa iri menyelisip, sedikit saja tapi cukup terasa. Pertanyaannya standar: bagaimana caranya untuk bisa seperti mereka?

Saya jadi ingat, dalam sebuah chatting, Desi pernah “menasehati” saya, katanya: intinya sabar dan jangan putus di tengah jalan. Perjalanan aku dari 2007 juga nggak mudah.

Ya, mungkin itu memang cara terbaik. Apalagi setelah menjalani rasa frustasi berkepanjangan dan memutuskan berhenti menulis (untuk sementara) dan lompat ke film (2012-2016), pergumulan saya di sana membuat saya menemukan sesuatu, yang pada akhirnya membuat saya kembali menulis, dan menyelesaikan novel kelima (kini sedang ditawarkan ke sebuah penerbit). Artinya, saya sudah menemukan sesuatu… tinggal beri saya waktu untuk membuktikannya.

Tapi rasa tidak sabar itu yang membuat “keimanan” kadang goyah, seperti pagi ini. Akibatnya saya harus berulang-ulang membenturkan kepala ke tembok (kiasan, tentu saja) dan meyakinkan diri bahwa saya harus terus berjuang membuktikan diri, barulah saya boleh mencapai level seperti mereka.

Lalu beginilah saya bicara pada diri sendiri, pagi ini:

“Tenanglah, menulis bukan sebuah lomba lari yang aturannya sampai pertama berarti menang. Dua temanmu itu mungkin memulai di waktu yang sama denganmu, bahkan bisa jadi lebih lambat. Tapi pencapaian mereka ini bukan berarti kamu kalah atau mereka memang. Mereka memang sudah ada di sana, itu posisi mereka, Kamu ada di sini, ya inilah posisimu. Mereka sedang bergerak di jalur mereka, kamu tetap bertahan di jalurmu.“

Dari awal, saya sadar bahwa jalur yang saya tempuh dalam menulis ini berbeda dengan siapapun. Setiap penulis memang harus memiliki jalurnya masing-masing  dan konsisten di sana. Jalur yang mereka percayai. Jalur yang siap mereka perjuangkan.

Jadi kalau ada penulis yang bisa ke luar negeri karena tulisannya, ya itulah arah yang sedang ditempuh oleh jalurnya. Kalau ada penulis yang novelnya difilmkan ya itulah arah yang sedang ditempuh oleh jalurnya. Kalau ada penulis yang dicaci maki karena plagiat, ya itulah arah yang sedang ditempuh oleh jalurnya. Kalau ada penulis yang rutin menang lomba blog, ya itulah arah yang sedang ditempuh oleh jalurnya. Kalau ada penulis yang novelnya sudah mendapat pembaca atau penerbit karena tema-temanya cenderung tidak biasa (namun dia tetap keras kepala mengusung gaya tema seperti itu), , ya itulah arah yang sedang ditempuh oleh jalurnya.

Jalur itu bukan milik orang lain, itu adalah jalur yang eksklusif, yang membawa setiap penulis ke arah yang berbeda.

Jadi kembali pada “keimanan” saya, tepat ketika tulisan ini selesai diketik, saya tidak lagi merasa goyah. Dalam perspektif tertentu mungkin Desi dan Achi tampak lebih sukses dari saya, tapi jika pengukuran itu dilakukan tidak dengan standar publik atau media, bisa jadi saya sebenarnya sudah memiliki standing point yang sejajar dengan mereka.

Semoga ini bukan sekadar pembenaran dari setiap “kegagalan” saya. Lagipula saya ingat satu nasihat dari guru saya yang lain: “Jangan iri pada anugerah orang lain, kamu tidak tahu apa yang sudah Tuhan ambil dari mereka sebagai gantinya.”[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Bintang Porno Di Cover Buku
Tadi sempat baca berita ringan di vivanews, katanya di Thailand ada sebuah buku paket matematika terbitan MuangThaiBook yang laku banget, usut punya usut ternyata diduga buku itu laku bukan karena isi...
Room Mate dan Budaya Kita
Setelah menonton film Room Mate karya sutradara Iran, Mehrdad Farid, saya membuka-buka internet dan menemukan beberapa tulisan yang membahas film ini juga. Tapi mungkin karena film ini tergolong baru ...
Catatan The Raid: Sebaris Bersama Alay
Sebenarnya bukan pilihan saya untuk nonton sendirian ke bioskop, memang rasanya lebih nyaman kalau bareng-bareng biar rame. Tapi kemarin saya terpaksa nonton The Raid sendirian di Ciwalk XXI, soalny...
Mencari Hilal: Film (yang) Indonesia
Saya menonton film Mencari Hilal di Bandung, ketika itu saya dapat undangan premiere nya di XXI Empire. Dan seperti biasa, ketika akan menonton film Indonesia dimanapun juga maka saya akan mengosongka...
Perjalanan Waktu di Artistik Grand Budapest
Pagi ini, menonton film The Grand Budapest Hotel (Wes Anderson, 2014) salah satu dari tiga film pemenang Oscar 2015 yang ingin saya tonton selain Birdman (Alejandro G Iñárritu, 2014) dan Whiplash (Dam...
Menulis Dengan Pintu Tertutup
Malam ini saya gembira, sebab novel yang sudah saya kerjakan (kami kerjakan, karena saya dapat banyak bantuan dari mbak Latree Manohara) sekitar lima tahun akhirnya selesai ditulis. Saya mulai pada bu...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.