Belajar dari Abu Ghaush

Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush.

Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan!

Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do keturunan Palestina yang mewakili Yordania di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Perjalanan karirnya sampai menginjak panggung Olimpiade itu ternyata tidak didapat dengan mudah.

Dia memang sempat menunjukkan kecemerlangan karir ketika di tahun 2010, tepatnya saat masih berusia 14 tahun berhasil merebut medali emas kejuaraan Dunia Tae Kwon Do kelas junior. Namun sayangnya, setelah kejuaraan tersebut pintu kesuksesan seperti tertutup baginya.

Sebab beberapa minggu setelah itu, mendadak ia menderita cedera panggul hingga tidak bisa berjalan selama dua bulan. Baru saja seminggu sembuh, dirinya terkena lagi cedera di ligamen ACL. Cederanya kali ini mengharuskan dia istirahat selama satu tahun!

Ketika akhirnya cedera ACL itu sembuh dan Abu Ghaush kembali berlatih, dua minggu kemudian ia didera cedera lutut kiri. Cederanya kali ini bahkan mengharuskan dirinya absen selama dua tahun!

Lebih dari tiga tahun berkutat dengan cedera membuat Abu Ghaush mempertanyakan sendiri kelanjutan kariernya, begitupun orang-orang di sekitarnya. Dalam sebuah wawancara untuk channel World Taekwondo ia mengatakan, “I was hearing everywhere that my career was over. That I will never be able to come back. So many people doubting me… the doubts of not knowing if one day i will be able to recover my full capacities

Namun Abu Ghaush tidak membiarkan dirinya terpengaruh oleh itu semua. Pada tahun 2013, ketika dinyatakan pulih secara penuh, ia berkata pada dirinya sendiri, “2016, I hope my dream become true and be inside the action, and get the first medal for my country and it will be Gold. Enshalla!!”

Setelah itu, Abu Ghaush kembali berlatih keras, tidak mempedulikan semua pernyataan miring tentangnya. Ia melatih sisi-sisi kelemahan tekniknya dan mempertajam kekuatannya selama tiga tahun.

Akhirnya, pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Abu Ghaush berhasil merebut medali emas pada kelas 68 kg setelah mengalahkan Alexey Denisenko dari Rusia! Hebatnya, medali tersebut bukan hanya medali pertama baginya, atau bagi cabang Tae Kwon Do Yordania, lebih jauh lagi medali itu merupakan medali pertama yang diraih Yordania sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Olimpiade.

Ahmad Abu Ghaush membuktikan bahwa tidak ada satu faktor pun yang bisa merebut mimpinya, dan pesan dia pada kita semua adalah: “No matter what happens to your life, you must never quit believing in your dreams, and fight to defend them. because if you don’t… somebody else will.”

Hubungannya dengan menulis?

Dunia menulis sebenarnya juga tidak mulus, di situ terlalu banyak potensi-potensi cedera yang bisa terjadi. Bahkan kebanyakan cedera di dunia menulis melibatkan aspek psikologis yang mungkin saja pemulihannya lebih lama lagi dari cedera ACL.

Saya sudah pernah merasakannya, bahkan pernah sampai benar-benar berhenti menulis selama empat tahun (2012-2016) karena “cedera” yang saya alami sudah terlalu parah.

Setelah kembali menulis di awal 2016, bukan berarti situasi membaik. Sampai sekarang juga tidak banyak penerbit yang mau menerima naskah saya, saya pernah dikritik dan dihancurkan oleh kritikus sampai titik terbawah. Saya juga pernah dibully banyak orang karena keyakinan saya di dunia menulis. Semua itu berpotensi cedera untuk perjalanan karir saya (dan kita semua).

Tapi saya melakukan seperti Ahmad Abu Ghaush, saya tutup telinga dari masukan negatif dan hanya mau mendengar masukan positif. Saya terus berlatih menulis. Saya melakukan perbaikan-perbaikan sesuai masukan senior atau rekan-rekan. Saya terus memupuk rasa percaya bahwa “jurus” yang saya latih ini sudah benar.

Kini sudah setahun lebih saya (kembali) menulis. Memang hasilnya belum lagi kelihatan. Kemarin bahkan novel saya baru ditolak untuk ketiga kalinya, dan sekarang sedang mengadu nasib di penerbit keempat. Jadi bukan berarti saya sudah sukses atau berhasil, tapi paling tidak saya masih diberi kesempatan untuk terus mencoba, dan saya tentu saja harus terus mencoba. Sebab seperti kata Ahmad Abu Ghaush tadi:

“…kalau kamu tidak berusaha cukup keras, seseorang akan mengambil mimpimu.”[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Bekerja Untuk Saxophone
Beberapa orang mengenal saya sebagai novelis, beberapa mengenal saya sebagai editor film, kadang sering disebut juga sutradara film, dan beberapa orang yang lain mengenal saya sebagai peniup harmonika...
That's Right, Mr Formichetti!
Hal yang paling saya pelajari dari sosial media adalah: Saya diajari menipu diri. Ini seriusan, sejak awal tahun 2015 intensitas saya menulis status di sosial media menurun drastis, bisa seminggu sek...
Setelah Enam Tahun
Kemarin, saya mengirim novel lagi ke penerbit, sebuah naskah yang sudah ditulis hampir enam tahun (September 2006 – Juni 2012). Kalau terbit, ini akan jadi novel keenam saya. Lho, selesai ditulis tah...
Been Alone in a Crowded Room
Apa yang paling mengerikan dari sebuah kesendirian? Akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya soal itu. Saat sendirian. Pada akhirnya saya sendiri harus menyerah karena tidak mungkin menemukan jawab...
Pagi Ini, Iman Saya Sedikit Goyah
Pagi ini, saya mendapat info kalau lagi- lagi ada satu novel milik teman saya yang difilmkan. Setelah Desi Puspitasari yang “nyaris” sama-sama tumbuh bareng di dunia menulis ternyata bisa (duluan) mer...
Modal Penting Mencari Kerja
Pada suatu hari di grup alumni STM, ada satu orang teman yang mempost seperti ini: Temans… barangkali punya info lowker di bdg atau lg membutuhkan tenaga kerja di bdg lulusan SMA, pria, jujur, ulet…  ...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.