Mustahil Ngerem Omongan Orang

Seminggu yang lalu, saya dapat cerita dari dua teman tentang seorang pekarya yang tidak suka dikritik. (Yang satu ceritanya lewat Whatsapp, yang satu lagi ketemu langsung. Tapi kita membahas orang yang sama.)

Pekarya yang satu ini akan menghapus setiap komentar negatif di page karyanya, mem-blacklist orang yang memberi nilai rendah (bahkan ada anak buahnya sendiri yang memberi nilai “bintang dua” di sebuah situs review, dan langsung dimusuhi!), akan misuh-misuh jika ada orang yang menulis review negatif, bahkan ada blogger yang sampai dia telepon untuk dimohon-mohon “merevisi” postingan agar tidak-terlalu-keras-mengkritik (dan bloggernya nurut lagih, ini yang saya sesalkan!). Alasan dia pada si blogger: “Saya pekarya baru, baru merintis karir, jangan terlalu digituin lah.”

Tidak perlu dibahas namanya, apalagi di-mention di sini. Tidak perlu juga diperdebatkan tentang ia pekarya baru atau lama (mengingat sebenarnya ia sudah berkarya sejak tahun 2000.)

Hanya saja mendadak saya teringat kata seorang pemain sepakbola terkenal (sutradara!), Joko Anwar. Dalam sebuah sesi wawancara dia bilang, “Setelah saya membuat film pertama, saya baru tahu bahwa kita tuh nggak mungkin ngerem omongan orang.” Nah, ini jelas saya setuju dengan pendapat om Joko.

Karena saya rasakan sendiri kok, setelah menjalani masa 13 tahun menyandang gelar sebagai: NOVELIS-YANG-BELUM TERKENAL-meski-sudah-melempar-tujuh-novel-ke-publik, setiap kali novel terbit yang bisa saya lakukan hanya pasrah, menyerahkan semua pendapat pada pembaca. Tentu saja setelah itu ada kritik yang masuk, dan sebagai pekarya… yang bisa saya lakukan hanya mencatat semua kritik itu, memilah mana kritik yang masuk akal dan mana yang tidak, dan menjadikan kritik yang masuk akal sebagai pondasi perbaikan novel berikutnya.

Betul kata om Joko, sama sekali tidak mungkin kita “ngerem” omongan orang.

Ya misalkan kalau orang itu mau nulis “Novel ini jelek!”, kita bisa apa? Itu kan pendapat-pendapat dia. Apalagi kalau ditulis di blog dia, sosmed dia, status dia, akun dia… kita nggak bisa ngelarang-larang, memang kita siapa? ponakannya Mark Zuckeberg? sepupunya Donald Trump? kecengannya direktur CIA?

Perspektifnya: kalau nggak mungkin ngerem omongan orang, ya jangan berusaha ngerem, nanti stress sendiri. Emosi saat dikritik itu wajar, tapi mending pakai emosi kita buat melahirkan karya-karya selanjutnya, atau segeralah ke psikiater kalau cuma gara-gara kritik lalu tekanan darah kita melonjak sampai angka 210.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Pustun
Pada suatu pagi seorang gadis terbangun dan mendadak ingin sekali menjadi pustun. Keinginan itu berdentam-dentam dalam otaknya, membuatnya sangat gelisah dan berkeringat dingin. Rasanya jantungnya ber...
Orgasme Jari
Kalau ada yang bertanya (kalau ada) apa yang paling saya nikmati saya menulis, atau pada momen apa saya merasa bahwa menulis itu menyenangkan… saya akan jawab: ketika jari beradu dengan tuts keyboard....
Gagal Deskriptif Karena Sombong
Maaf ya, ini bukan ri'ya atau pamer, tapi saya cuma ingin berbagi cerita soal masalah menulis yang saya temui hari ini... siapa tahu bisa jadi bahan masukan buat teman-teman yang lagi belajar menulis ...
Mau Bagi-Bagi Buku (Lagi)
Untuk kedua kalinya dalam waktu setahun ini saya kembali harus menguras rak buku. Yang pertama bulan Februari 2016, saya melepas sekitar 75 buah buku ke sebuah acara pemutaran film yang menyediakan ju...
Akhir Dari Sebuah Perjalanan
Ketika sedang menuliskan kata pengantar untuk novel ini, pada saat yang bersamaan saya juga sedang meladeni seorang reporter yang ingin melakukan wawancara. Memang wawancara itu berlangsung menyenangk...
H-95: Apakah Kita Menulis Untuk Difilmkan?
Di tulisan sebelumnya saya membahas tentang para penulis baru yang berkiblat pada senior. Mungkin tulisan yang sekarang ini ada hubungannya, mungkin juga tidak, tapi kan tujuan saya menulis 100 hari i...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.