Catatan AFCON #05: Pembuktian Kamerun

Kemenangan Kamerun atas Senegal tadi bukan hanya bermakna selembar tiket ke semifinal, tapi lebih jauh dari itu juga memperebutkan sebuah nama baik di dunia sepakbola.

Kamerun adalah tim kuda hitam di kejuaraan-kejuaraan tingkat dunia dan benua. Sejarah mereka dipenuhi oleh catatan bagus. Misalnya, pada pengalaman pertama masuk Piala Dunia 1982, secara mengejutkan Kamerun bisa menahan seri Italia 1-1. Padahal saat itu Italia diperkuat pemain kelas wahid macam Dino Zoff, Franco Baresi, Giuseppe Bergomi, dan Paolo “the Lucifer” Rossi.

Kejutan luar biasa juga mereka hadirkan di Piala Dunia 1990 Italia. Pada pertandingan pembuka Grup B mereka menjungkalkan juara bertahan Argentina 1-0 lewat sundulan François Omam-Biyik. Dilanjutkan dengan melibas Rumania 2-1 lewat brace dari “opa” Roger Milla yang saat itu berusia sudah 38 tahun! Mereka jadi juara grup B dan lolos ke babak berikutnya. Padahal selain Argentina dan Rumania, di grup itu juga bercokol Uni Soviet.

Di babak berikutnya, “opa” Milla lagi-lagi jadi aktor yang mencetak dua gol saat mereka mereka melibas Kolombia 2-1. Lalu Kamerun bertemu Inggris di perempatfinal, banyak pengamat menjagokan Kamerun masuk semifinal, apalagi sampai menit 82′ mereka masih unggul 2-1. Namun Inggris lah yang lolos, itupun harus lewat perpanjangan waktu. Hanya dua gol penalti Gary Lineker yang bisa menyelamatkan muka mereka. Meski lolos ke semifinal, Inggris dicaci oleh pendukungnya sendiri. Semuanya “hanya” gara-gara sebuah negara bernama Kamerun!

Di Piala Konfederasi 2003, mereka lebih “gila” lagi. Di penyisihan grup, Turki dan “negara bola” Brazil ditebas masing-masing dengan skor 1-0. Menjadikan mereka kokoh sebagai juara Grup B dan maju ke semifinal melawan Kolombia. Sama seperti di Piala Dunia 1990, Kolombia tidak bisa menahan laju Kamerun menuju final. Mereka takluk dengan skor 1-0. Pertandingan ini sebenarnya punya memori buruk di sejarah sepakbla Kamerun karena mereka harus kehilangan salah satu pemainnya, Marc-Vivien Foé yang meninggal di lapangan karena gagal jantung.

_93855404_hi037569731

Era Kamerun di tahun 90-an sering disebut dengan era Roger Milla. Betapa hebat opa ini bermain hingga Di usia 42 tahun dia masih dipanggil untuk memperkuat tim nasional di Piala dunia 1994, Roger Milla mencetak 1 gol yang menjadikannya pencetak gol tertua sepanjang sejarah piala dunia. Tapi dia belum habis, setelah Piala Dunia dia masih bermain di Indonesia untuk klub Pelita Jaya dan Putra Samarinda, sebelum benar-benar pensiun di usia 44 tahun.

Setelah Milla Pensiun, era 2000-an timnas Kamerun segera diisi oleh Samuel Eto’o. Memperkuat Kamerun sejak piala dunia 1998 di usia 17 tahun, Eto’o jadi bagian dari pasukan yang merebut Piala Afrika 2000 dan 2002, serta runner-up Piala Konfederasi 2003. Namanya masuk di list pemain tim-tim elit Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, Chelsea, atau Inter Milan. Di era Eto’o Kamerun memiliki prestasi yang cenderung stabil di level benua Afrika. Selain juara (2000, 2002), dan runner up (2008), Kamerun juga selalu konsisten masuk perempat final (1998, 2004, 2006, 2010). Sampai akhirnya Eto’o memutuskan untuk pensiun dari tim nasional pada tahun 2014.

Setelah era Eto’o berakhir, Kamerun seperti kebingungan mencari pengganti. Terutama setelah banyak pengamat menyebut bahwa di Piala Afrika 2017 kali ini mereka adalah tim Kamerun yang paling lemah dalam satu dekade. Ini bukan analisa kosong belaka, tapi terbukti juga dari pertandingan-pertandingan mereka di babak penyisihan grup A: Ditahan seri Burkina Faso, harus berjuang keras karena tertinggal lebih dulu ketika “akhirnya” bisa mengalahkan Guinea Bissau, dan hanya bisa seri dengan negara selevel Gabon.

Mereka harus puas lolos ke perempat final hanya berbekal jadi runner-up grup dengan tiga gol, dan dua kali kebobolan. Bukan sebuah prestasi yang bagus bagi negara pemegang empat piala level continental.

Di perempat final mereka dicegat Senegal, juara Grup A yang diisi oleh bintang Liverpool, Sadio Mane. Ini bukan lawan enteng karena Senegal juga sedang gatal membuktikan diri setelah mereka jeblok di gelaran-gelaran Piala Afrika sebelumnya. Begini catatan Senegal: gagal lolos Piala Afrika 2010, tampil “memalukan” di babak penyisihan Grup A Piala Afrika 2012 dengan tidak pernah sekalipun menang. Kembali tidak lolos kualifikasi Piala Afrika 2013, dan lagi-lagi gagal lolos dari Grup C Piala Afrika 2015 setelah “terjebak satu grup” bersama tim-tim kuat seperti Afrika Selatan, Ghana, dan Algeria.

Dua tim yang sedang berjuang membuktikan kebangkitannya ini tadi malam bertemu. Lewat jual beli serangan yang seru, ternyata skor 0-0 hingga perpanjangan waktu. Pertandingan berlanjut lewat adu penallti. Kamerun yang beruntung karena Fabrice Ondoa, kiper lulusan “Samuel Eto’o Academy” ini bisa menepis tendangan terakhir yang justru dilakukan oleh bintang Senegal, Sadio Mane! Kamerun lolos ke semifinal dan tinggal menunggu hasil pertarungan antara Ghana dan Maroko.

Setelah di tahun 2008 mereka terakhir kali lolos ke semifinal, maka tentu ini adalah sebuah catatan yang bagus. Apalagi mengingat Kamerun sudah resmi ditunjuk jadi tuan rumah Piala Afrika berikutnya nanti di tahun 2019. Sebab tidak mungkin tuan rumah datang dengan rekor buruk kan?[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #01: Apa Gunanya Pemain Tua?
Kalau ada jin dari lampu Aladdin yang bisa mengabulkan permintaan tapi cuma memberi pilihan antara: jadi pemain sepakbola kelas dunia atau musisi kelas dunia, saya yakin--jika kriteria pertimbangannya...
Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #06: Kontra Alan Hansen
Kegagalan Cristiano Ronaldo mencetak penalti menjadikan partai Portugal vs Austria berakhir sama kuat 0-0. Pertandingan dengan skor kacamata itu menjadi penanda berakhirnya putaran kedua penyisihan gr...
Catatan Euro #13: Revolusi Belgia
Dengan kemenangan 4-0 melawan Hungaria, Belgia seolah membangunkan turnamen yang  sedang tidur! Karena bukan saja angka itu merupakan angka kemenangan terbesar (sejauh ini), tapi gaya bermain dan seli...
Catatan Euro #20: Jejak Air Mata di Stade de France
Pertandingan final adalah hakim yang tak kasat mata sekaligus eksekutor yang hadir berbalut kemeriahan sebuah pesta. Dia  hanya datang menjemput dua kesebelasan untuk memainkan pertandingan terakhir, ...
Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit
Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.