Catatan AFCON #04: Mengais Sisa-Sisa Tim Elit

Bayangkan Piala Eropa tanpa kehadiran Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman sekaligus. Atau Piala Dunia tanpa Brazil serta Argentina. Pasti kejuaraan itu akan terasa “kering”. Sedangkan faktanya, hanya karena ketidakhadiran Belanda di Piala Eropa 2016 saja, beberapa  penonton sudah mulai merasa ada aspek yang kurang. Seolah kejuaraannya kurang greget, kurang mantap.

Maka dari itu, kehadiran tim-tim langganan turnamen, tim-tim yang bertabur bintang, tim-tim yang berasal dari liga mapan, atau tim yang dengan kata lain bisa dikatakan elit itu penting sekali sebagai daya tarik sebuah turnamen. Apalagi terkadang orang menonton sebuah turnamen bukan karena kejuaraannya, tapi karena ingin melihat pemain-pemain bintangnya. Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Jamie Vardy, Manuel Neueur, atau Paul Pogba kadang lebih dicari ketimbang negaranya, malah bisa saja pemain-pemain itu yang bisa mengangkat niveu kesebelasanya di mata publik, contoh kehadiran Zlatan Ibrahimovic di timnas Swedia.

Seperti halnya Eropa, Afrika juga memiliki tim-tim elit, misalnya: Afrika Selatan, Kamerun, Nigeria, atau Mesir. Di kesebelasan-kesebelasan itu kita bisa melihat para pemain bintang yang malang melintang di liga Eropa, antara lain: Vincent Aboubakar (Kamerun/ Besiktas), Mohamed Salah (Mesir/ AS Roma), Mohamed El Nenny (Mesir/ Arsenal), Victor Moses (Nigeria/ Chelsea), atau Sadio Mané (Senegal/ Liverpool).

Namun ternyata kondisi di AFCON 2017 ini cukup menarik—jika dilihat dari prestasi sepanjang sejarah penyelanggaraan Piala Afrika—dengan tersingkir prematurnya dua tim elit: Afrika Selatan dan Nigeria (gagal di babak kualifikasi) serta tumbangnya sang juara bertahan Ivory Coast di grup C, bisa dipastikan babak perempat final Piala Afrika sekarang hampir tidak menyisakan tim besar kecuali Kamerun, Ghana, dan Mesir.

Memang kecuali Senegal dan Burkina Faso; Tunisia, DR Congo, dan Maroko sudah pernah merasakan minimal sekali juara Piala Afrika. Tapi dibanding Kamerun, Ghana, dan Mesir prestasi mereka sangat jauh.

Ghana adalah peraih 4 kali Piala Afrika (1963, 1965, 1978, 1982), dan prestasinya dalam lima gelaran terakhir sangat mengesankan: runner-up 2010 dan 2015, juara tiga 2008, juara 4 di tahun 2012 dan 2013. Itu artinya dalam lima kejuaraaan terakhir mereka selalu masuk semifinal secara beruntun. Luar biasa! Ini juga belum menghitung bahwa mereka bisa mencapai perempat final di Piala Dunia 2010

Sementara Mesir adalah tim paling sukses di Piala Afrika. Mereka sudah tujuh kali menggenggam piala di tahun 1957, 1959, 1986, 1998, termasuk memorable juara tiga kali beruntun di tahun 2006, 2008, dan 2010.

Kini kedua kesebelasan elit yang tersisa itu berada di grup D dengan kondisi yang berbeda: aman bagi Ghana dan sedikit tidak aman untuk Mesir. Lupakan Ghana yang sudah mengantongi tiket perempat final, posisi Mesir yang berada di bawahnya dengan nilai 4 belum terlalu aman, mereka masih bisa dikutik-kutik oleh Mali yang berada di posisi tiga. Apalagi partai penentuan ini tidak terlalu menguntungkan bagi Mesir. Mereka harus menghadapi juara grup, Ghana. Sementara Mali “hanya” harus menghadapi Uganda yang sudah dipastikan tersingkir. Andaikan saja Mali bisa menekuk Uganda, dan Ghana juga berhasil menang atas Mesir, maka poin Mesir serta Mali akan sama, dan jika begitu maka yang bicara adalah selisih gol.

Jika Mesir sampai tersingkir, maka AFCON 2017 dapat dikatakan sebagai kejuaraan yang agak kurang gregetnya. Tak ada negara-negara langganan juara dan memiliki pemain-pemain yang namanya sudah cukup akrab di telinga. Sudahlah tak ada Nigeria, Afrika Selatan, dan Kamerun, lalu Ivory Coast angkat koper lebih awal, jangan juga sampai Mesir ikut-ikutan pulang.[]

aaa

=================

Tulisan ini dibuat melihat posisi klasemen akhir Grup D Piala Afrika 2017, ternyata pada pertandingan terakhir Mesir bisa mengalahkan Ghana 1-0, dan Mali ditahan seri 1-1 oleh Uganda. Ghana dan Mesir lolos dari Grup D, dan Piala Afrika 2017 pun masih diwarnai oleh kehadiran tim-tim “elit” di benua hitam.

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #02: Kasihan Sekali Jadi Ronaldo
Setelah Portugal ditahan seri 1-1 oleh Islandia tadi malam, Cristiano Ronaldo marah-marah. Dalam sebuah wawancara seusai pertandingan, peraih dua kali FIFA Ballon d'Or ini mengatakan: "... I tho...
Catatan Euro #04: Rusuh? Pulang!
Seriusan, saya kira lempar-lemparan flare dan pertandingan dihentikan gara-gara penonton rusuh cuma terjadi di Indonesia. Ternyata nggak! Di level Piala Eropa juga bisa lho. Contohnya tadi malam, per...
Catatan Euro #06: Kontra Alan Hansen
Kegagalan Cristiano Ronaldo mencetak penalti menjadikan partai Portugal vs Austria berakhir sama kuat 0-0. Pertandingan dengan skor kacamata itu menjadi penanda berakhirnya putaran kedua penyisihan gr...
Catatan Euro #05: Asal-Usul Permainan Bertahan
Dalam jajaran pelatih sepakbola dunia, Javier Clemente (Spanyol), Carlos Bilardo (Argentina), dan Sebastiano Lazzaroni (Brazil) adalah beberapa contoh dari pelatih kawakan non Italia yang setia pada...
Catatan Euro #13: Revolusi Belgia
Dengan kemenangan 4-0 melawan Hungaria, Belgia seolah membangunkan turnamen yang  sedang tidur! Karena bukan saja angka itu merupakan angka kemenangan terbesar (sejauh ini), tapi gaya bermain dan seli...
Catatan Euro #19: Perancis Mabuk Ekstasi
“Ecstasy” demikian harian L'Equipe memasang headline setelah pertandingan semalam. Memang kemenangan Perancis atas Jerman bukan cuma meloloskan mereka ke final Piala Eropa 2016, tapi juga seolah-olah ...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.