Catatan AFCON #02: Tak Ada Lagi Keajaiban Untuk Mahrez

Seusai peluit panjang ditiup, Riyadh Mahrez memandang langit biru. Perasaannya campur aduk. Sejak awal situasi di grup B ini memang tidak menguntungkan bagi Algeria dan dirinya.

Ditahan seri 2-2 oleh—peringkat FIFA 103—Zimbabwe di pertandingan awal Grup B dan ditekuk 1-2 oleh—saudara sesama UNAF—Tunisia membuat situasi jadi runyam di ending. Karena kini untuk lolos dari grup, Algeria harus rela menggantungkan harapannya pada tim lain. Sebanyak apapun gol mereka sarangkan ke gawang Senegal, jika di pertandingan lain Tunisia bisa mempecundangi Zimbabwe meski hanya satu gol, maka tetap saja Algeria mesti pamit pulang.

Di luar hitung-hitungan itu, tetap saja PR utama Algeria di pertandingan terakhir Grup B adalah menekuk Senegal. Jika Senegal berhasil dikalahkan, maka peluang tetap terbuka ketimbang seri atau kalah.

Masalahnya, Senegal juga bukan “barang” enteng. Memang sih bagi Algeria, Senegal tidak setara gunung, tapi “hanya” ibarat lubang besar di jalanan: bukan tantangan yang besar, tapi tetap bisa membuat tersandung jika tidak hati-hati melewati.

Secara kekuatan Algeria dan Senegal hampir sebanding. Senegal duduk di peringkat 33 FIFA, Algeria peringkat 39. Rekor internasional Algeria dalam menghadapi wakil WAFU (Afrika Barat) ini juga cukup fantastis: dari 21 kali pertemuan sejak tahun 1977, Algeria sudah menang 13 kali dan baru kalah 4 kali! Hanya mungkin di Piala Dunia, prestasi Senegal agak sedikit “mentereng” karena pernah tembus perempat final di Piala Dunia 2002 sementara Algeria baru sekali-kalinya tembus ke babak 16 besar di tahun Piala Dunia 2014. Tapi di Piala Afrika, Algeria bisa membusungkan dada karena pernah sekali juara di tahun 1990, sementara Senegal baru batas “hampir juara” setelah ditekuk Kamerun di final tahun 2002.

Tapi data statistik di atas kertas seperti itu tidak menjamin kelolosan Algeria kecuali sebuah keajaiban. Dan sepertinya wajar jika Riyadh Mahrez berharap keajaiban datang menghampirinya, karena perjalanan karir dia beberapa tahun terakhir ini memang cukup akrab dengan yang namanya keajaiban.

Sebelum juara bersama Leicester City, dunia tidak mengenal Riyadh Mahrez. Itu wajar karena dia hanya bermain bersama Le Havre di Ligue 2 Perancis, bahkan awalnya dia bermain di CFA (Championnat de France Amateur) semacam divisi keempat dari kasta persepakbolaan Perancis. Keberuntungan mulai menghampiri Mahrez ketika datang pencari bakat dari Leicester City ke Le Havre. Pencari bakat itu tertarik dengan skill Mahrez padahal sebenarnya dia datang dengan ditugasi untuk mengamati Ryan Mendes. Lucunya, sama seperti “dunia” belum tahu siapa Mahrez, begitupun Mahrez belum pernah tahu ada klub yang bernama Leicester City, bahkan pada awalnya dia menyangka Leicester Ciy adalah tim rugby!

Tapi karirnya di Leicester City terus melejit. Mahrez merupakan saksi sekaligus pelaku dari keajaiban-keajaiban yang terjadi di Leicester. Jadi juara divisi Championship 2013/2014, lolos dari jeratan degradasi 2014/2015 (dengan keajaiban bisa menang 7 dari 9 pertandingan terakhir di liga), dan puncaknya adalah juara liga Inggris 2015/2016 dengan mengalahkan tim-tim besar seperti Chelsea, Tottenham Hotspurs, Liverpool, bahkan Manchester City juga pernah ditekuk 3-1 di Etihad Stadium oleh mereka.

Secara individu, Mahrez juga tidak pernah bermimpi bisa meraih PFA Players’ Player of the Year: 2015–16, BBC African Footballer of the Year 2016, CAF African Footballer of the Year 2016, dan sempat masuk nominasi untuk Ballon d’Or 2016.

2544760800000578-0-image-m-2_1423132019273

Berkat seluruh pencapaiannya itu, tidak heran jika Mahrez segera menjadi tulang punggung bagi tim nasional Algeria. Publik berharap di era Mahrez, Algeria bisa mengulang pencapaian generasi emas era 80-90 yang selama sepuluh tahun bisa meraih dua kali juara 3 ajang AFCON (1984, 1988), sekali runner-up AFCON (1980), dan sekali juara AFCON (1990). Mencapai perempat final Olimpiade 1980 yang berlangsung di Uni Soviet, dan yang terpenting adalah menghajar Jerman Barat 2-1 di panggung sebesar Piala Dunia 1982.

Waktu itu dunia cukup gempar karena tim Jerman tahun 1982 benar-benar bukan mainan, di sana berdiam pemain-pemain kelas dunia seperti Karl-Heinz Rummenigge, Paul Breitner, Felix Magath, Pierre Littbarski, dan Hans-Peter Briegel. Gawang mereka pun dijaga penjaga gawang tangguh Harald Schumacher. Tapi tim ini bisa bertekuk lutut di hadapan tim debutan Afrika Utara yang tidak terkenal.

Di sinilah dunia mulai memandang Algeria, apalagi di pertandingan berikutnya, mereka berhasil menekuk Chile 3-2. Hanya kalah selisih gol dari Austria saja yang membuat negara debutan ini gagal lolos dari Grup 2.

Namun sepertinya, hasil tadi malam membuktikan jika mimpi Algeria mengulang prestasi generasi emasnya masih jauh. Dulu di era emas, motor Algeria adalah Lakhdar Belloumi dan Rabah Madjer. Kini Mahrez punya pasangan maut bernama Islam Slimani. Baik di Leicester City atau di AFCON 2017 ini mereka bergantian menggedor gawang lawan. Di pertandingan pembuka Grup B, Mahrez memborong dua gol untuk menyelamatkan muka Algeria dari terkaman Zimbabwe, di pertandingan penentuan melawan Senegal giliran Slimani yang memborong dua gol untuk memaksakan hasil imbang.

Tapi memang hanya itu hasil terbaik yang bisa didapat. Apalagi di “lapangan sebelah”, sejak babak pertama usai Tunisia sudah mengantongi skor 4-1 atas Zimbabwe, dengan hasil akhir 4-2. Maka dengan hasil seri ini Algeria hanya menempati posisi tiga di grup B.

Artinya Algeria harus pulang, Mahrez pun harus pulang, tak ada lagi keajaiban menghampirinya. Mungkin lain waktu. Siapa tahu? []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #01: Apa Gunanya Pemain Tua?
Kalau ada jin dari lampu Aladdin yang bisa mengabulkan permintaan tapi cuma memberi pilihan antara: jadi pemain sepakbola kelas dunia atau musisi kelas dunia, saya yakin--jika kriteria pertimbangannya...
Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #09: Inggris, Ibu yang Kesepian
Inggris adalah tanah air sepakbola, disanalah sepakbola pertama kali dilahirkan, maka Inggris bolehlah mengaku sebagai ibu yang melahirkan sepakbola. Namun sebenarnya Inggris adalah ibu yang kesepian,...
Catatan Euro #11: Siapa Islandia?
Mau tahu ketangguhan Islandia? Silahkan langsung tanya pada timnas Belanda. Karena di babak kualifikasi Piala Eropa 2016, anak-anak asuh Danny Blind itu merasakan pahitnya dikalahkan di pertandingan t...
Catatan Euro #14: Dewi Fortuna dan Kekasih Baru
Ada banyak kejadian unik di Piala Eropa kali ini, salah satunya adalah Cristiano Ronaldo yang melemparkan mikrofon wartawan CMTV ke danau (untung tidak dengan wartawannya sekalian). Menurut gosip, kat...
Catatan Euro #16: Islandia Kini Ada Di Peta Dunia
Ada sebuah pepatah Rusia yang mengatakan: “Siapakah yang terakhir mati? Yang paling terakhir mati adalah harapan.” Harapan adalah sesuatu yang menjaga semangat manusia untuk terus berjuang, selama kit...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.