Catatan AFCON #01: Hingar Bingar yang Tak Terdengar

Apakah di Indonesia ada yang tahu kalau sekarang sebenarnya sedang berlangsung gelaran Piala Afrika di Gabon? Mungkin kalau para wartawan sport, pandit football, atau praktisi sepakbola sih tahu ya, karena itu adalah dunia mereka. Tapi masyarakat biasa seperti kita-kita? Mungkin malah ada yang tidak tahu kalau Piala Afrika itu ada

Padahal kalau bicara level kompetisi, The Africa Cup of Nations, kadang juga disebut CAN (Coupe d’Afrique des Nations) atau AFCON itu levelnya setara dengan Piala Eropa atau Piala Asia. Sama-sama kejuaraan tingkat benua. Hanya saja kalau Piala Eropa dan Piala Asia berlangsung tiap empat tahun, AFCON berlangsung setiap dua tahun sekali.

Meski seolah tampak “kalah kelas”, namun sebenarnya turnamen Piala Afrika punya banyak potensi yang mengungguli Piala Eropa. Misalnya saja soal statistik gol turnamen. Jika kita bandingkan statistik gol pada kejuaraan di tahun yang sama, Piala Afrika hampir selalu punya angka lebih tinggi dari Piala Eropa. Bahkan pada tahun 2008, turnamen ini berhasil mencatatkan total 99 gol dari “hanya” 31 pertandingan (rata-rata 3,09 gol per pertandingan). Bandingkan dengan Piala Eropa 2016 yang meski bisa mencapai 108 gol namun harus melewati 51 partai (rata-rata 2,12 gol per pertandingan).

Lalu jika pada ajang Piala Eropa, Spanyol dan Jerman masih berebutan jadi negara peraih piala terbanyak dengan masing-masing “baru” merengkuh tiga piala, di AFCON  Mesir masih jadi yang paling mentereng dengan tujuh kali jadi juara (1957, 1959, 1986, 1998, 2006, 2008, dan 2010). Bahkan jika jumlah piala yang diraih Jerman Barat ikut dihitung pun, tetap saja totalnya Jerman baru meraih enam kali juara. Catatan milik Mesir ini sejalan dengan rekor impresif mereka sepanjang sejarah turnamen dengan (sampai tahun 2015) menang 51 kali, “baru kalah” 24 kali, dan sudah mencetak 154 gol.

Sejak pertama kali digelar tahun 1957, format AFCON beberapa kali mengalami perubahan. Bahkan pada helatan pertama hanya 3 negara yang berpartisipasi: Mesir, Sudan, dan Ethiopia setelah Afrika Selatan kena sanksi diskualifikasi. Hingga kini turnamen diadakan di empat kota: Libreville, Franceville, Oyem, dan Port Gentil. Jumlah negara yang ikut adalah 16 negara dari lima bagian: UNAF (Afrika Utara), WAFU (Afrika Barat), UNIFFAC (Afrika Tengah), CECAFA (Afrika Timur), dan COSAFA (Afrika Selatan). Dari kelimanya, negara-negara anggota UNAF yang paling banyak merengkuh gelar, yaitu sepuluh kali, masing-masing tujuh dari Mesir, lalu Algeria, Maroko, dan Tunisia masing-masing satu.

Samuel Eto’o (Kamerun) masih jadi top scorer sepanjang masa turnamen ini dengan 18 gol dari enam kali partisipasinya. Tapi soal partisipasi dia ternyata masih kalah dari Rigobert Song (Kamerun) dan Ahmed Hassan (Mesir) yang masing-masing sudah delapan kali terpanggil bela negara di AFCON. Terakhir kedua orang ini membela negaranya pada gelaran AFCON 2010 di Angola.

599236388

Bagaimana untuk soal bintang? Ternyata Piala Afrika juga tidak kalah-kalah banget dengan Piala Eropa. Pada gelaran tahun 2017 ini kita bisa melihat jagoan-jagoan bola kelas dunia macam: Pierre-Emerick Aubameyang (Gabon/ Borussia Dortmund), Bertrand Traoré (Burkina Faso/ Ajak Amsterdam), Sadio Mané (Senegal/ Liverpool), Riyad Mahrez (Algeria/ Leicester City), Wilfried Zaha (Ivory Coast/ Crystal Palace), Cédric Bakambu (Congo/ Villareal), Medhi Benatia (Maroko/ Juventus), Wilfred Bony (Ivory Coast/ Stoke City), Asamoah Gyan (Ghana/ Al-Ahli),  Andre Ayew (Ghana/ West Ham United), Emmanuel Adebayor (Togo), Salomon Kalou (Ivory Coast/ Hertha BSC), atau Mohamed Salah (Mesir/ AS Roma).

Kok hanya sedikit? ah, sebenarnya Piala Eropa pun bintangnya cuma sedikit kok. Tampak banyak karena banyak bintang sepakbola yang “kebetulan” berkumpul di satu negara seperti Inggris, Italia, Spanyol, atau Jerman. Sementara bintang-bintang Piala Afrika lebih menyebar.

Pada awalnya gelaran AFCON ke 31 tahun ini akan dilangsungkan di Libya. Namun karena konflik perang, maka CAF menunjuk Gabon menjadi tuan rumah yang baru. Keputusan yang cukup mengejutkan karena Gabon “bukan siapa-siapa” di dunia sepakbola. Secara peringkat FIFA, dari empat negara yang lolos bidding, Gabon adalah pemilik peringkat paling rendah, 104. Negara yang mereka kalahkan dalam bidding tuan rumah adalah: Algeria (peringkat 39 FIFA), Mesir (35), dan Ghana (54). Bahkan jika dibandingkan dengan tiga negara yang tidak lolos bidding (biasanya karena alasan infrastruktur yang tidak layak), Gabon hanya menang dari Sudan (137), dua negara lain berada di atas Gabon: Kenya (87) dan Zimbabwe (103).

Secara prestasi tim juga mereka belum sampai mana-mana, Belum pernah masuk ke Piala Dunia, dan prestasi tertinggi di AFCON adalah perempat final di tahun 1996 dan 2012.

Tapi mungkin untuk menjadi tuan rumah sebuah turnamen level continental, CAF bukan melihat peringkat FIFA atau jumlah piala, tapi melihat kesiapan stadion serta infrastruktur pendukung. Dalam hal ini Gabon memang seharusnya lebih siap. Karena mereka sudah berpengalaman jadi co-host  di AFCON 2012 (bersama Guinea Equator), dan “hampir” menjadi tuan rumah AFCON 2015 menggantikan Maroko yang mundur karena khawatir akan wabah virus Ebola.

Namun sayangnya, tadi malam pada pertandingan penentuan grup A, Gabon gagal lolos. Pierre-Emerick Aubameyang dkk tersisih dari persaingan di Grup A usai hanya bermain imbang 0-0 melawan Kamerun di di Stade de l’Amitié. Hasil ini membuat mereka hanya berada di peringkat ketiga dengan koleksi tiga poin dari tiga laga. Karena Gabon selalu imbang dari tiga laga fase grup.

Pencapaian Gabon berbanding terbalik dengan Burkina Faso. Negara dengan prestasi tertinggi runner –up AFCON 2013 ini malah berhasil menggusur juara AFCON 4 kali, Kamerun (1984, 1988, 2000, 2002) ke posisi dua Grup A. Mereka menyusul Ghana sebagai negara pertama yang lolos ke perempat final setelah menjadi juara Grup D; sekaligus menempatkan strikernya, Asamoah Gyan menjadi pemain pertama yang bisa mencetak gol di enam turnamen AFCON secara berturut-turut.

Kita tunggu saja apa lagi catatan-catatan penting sepanjang gelaran Africa Cup of Nations 2017, sebuah turnamen yang jarang terperhatikan, terutama oleh kita di Indonesia. []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Catatan Euro #03: Semangat Phil Bennet di Wales
Saya tidak terlalu kenal dengan negara Wales kecuali karena keberadaan pemain legendaris Manchester United; Ryan Giggs… belakangan saya ingat Wales karena ada pemain Real Madrid; Gareth Bale. Tapi ya ...
Catatan Euro #05: Asal-Usul Permainan Bertahan
Dalam jajaran pelatih sepakbola dunia, Javier Clemente (Spanyol), Carlos Bilardo (Argentina), dan Sebastiano Lazzaroni (Brazil) adalah beberapa contoh dari pelatih kawakan non Italia yang setia pada...
Catatan Euro #12: Garis Batas Sang Matador
Seorang penyair Spanyol, Federico García Lorca pernah berkata: Spanyol adalah satu-satunya tanah dimana orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa kematian. La Muerte! Karena itulah mentalitas bangsa S...
Catatan Euro #17: Maraton dan Filsafat Heraclitus
Partai semifinal Portugal melawan Wales semalam mencatat sebuah pencapaian yang berbeda. Skor 2-0 untuk Portugal sekaligus sebagai kemenangan pertama mereka di waktu normal 90 menit pada turnamen kali...
Catatan Euro #18: Ada Possible dalam l’im-possible
Pada tahun 1998, seorang komponis Perancis bernama Rene Koering bekerjasama dengan komponis Meksiko bernama Enrique Diemecke membuat sebuah pementasan bertema: Perancis-Brasil. Pementasan itu dilakuk...
Saat Persib "Mengoyog" Persija
Kejurnas PSSI musim 1960/1961, posisi klasemen pada pertandingan terakhir benar-benar membuat tegang. PSM Makassar ada di posisi paling atas dengan poin 10, Persib Bandung berdiri di posisi dua dengan...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.