Berkarya di Balik Jeruji

Dalam film Shawshank Redemption (Frank Darabont, 1994), tokoh Red berkata dalam sebuah narasinya: “Dalam penjara waktu terasa sangat panjang. Semua orang harus mencari sesuatu untuk membuatnya sibuk, ada yang mengumpulkan perangko, ada yang berkebun, dan ada yang membangun perpustakaan…”.

Narasi itu terasa nyata jika kita mengunjungi sebuah penjara. Ketika memasuki gerbang maka kita bisa merasakan penjara seolah memiliki alur waktunya sendiri, di dalam penjara waktu berjalan lambat. Itulah sebabnya, diperlukan sebuah sistem yang membuat narapidana bisa produktif memanfaatkan waktunya, sebab sayang sekali jika waktu mereka terbuang percuma tanpa melakukan apa-apa, konsep tersebut juga harus digagas dan dipraktekkan secara bersamaan dan oleh berbagai pihak, sebab jika para penghuni lapas yang dibiarkan melakukan secara mandiri tanpa dukungan apapun maka kecil kemungkinan mereka akan berkembang.

Perihal sistem pembinaan ini sudah seharusnya mendapat perhatian khusus, karena menurut Kepala Pembinaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Bontang Taufan Sandria, saat ini sebutan penjara tidak lagi dapat dikatakan tepat. Karena sejak dicetuskan oleh Menteri Kehakiman DR Sahardjo, S.H. pada tahun 1964, konsep penjara bukan lagi sebagai tepat penghukuman, tapi berfungsi sebagai tempat pembinaan.

“Saat ini pola yang digunakan di dalam lembaga pemasyarakatan bukan lagi sistem penjara tapi sistem pembinaan dengan tujuan akhir reintegrasi sosial, sehingga hasil akhir yang diharapkan adalah bagaimana para napi tersebut bisa diterima oleh masyarakat ketika mereka keluar.” Demikian Taufan memberi keterangan.

Secara lebih jauh, pola pembinaan penghuni lembaga pemasyarakatan juga diatur dalam Undang-Undang no 12 tahun 1995, yang mana pada pasal dua jelas disebutkan: Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.

Berpijak pada pemahaman-pemahaman tersebut maka hingga saat ini semua Lapas sudah menerapkan sistem pembinaan yang menekankan pada pembuatan karya-karya yang positif dan bisa digunakan ketika para napi tersebut sudah harus bergabung lagi dengan masyarakat. Tidak heran kita mendengar di Lapas Cipinang sudah berdiri pabrik roti dan di lapas Cirebon sampai ada pabrik tekstil dan mebel, dimana di kedua Lapas tersebut sudah terbentuk suatu organisasi Warga Binaan yang khusus mengelola keuangan .

Hal yang sama juga ada di Lapas Kelas III Bontang yang terletak di daerah Bontang Lestari. Di tempat yang saat ini berisi 637 orang narapidana tersebut ada berbagai kegiatan positif yang bertujuan membina skill. Misalnya: bengkel mobil, peternakan ayam, kursus menjahit, pertanian kangkung, semangka, jagung, serta pembuatan kursi dari drum bekas. Semua kegiatan tersebut diselenggarakan dengan cara bekerjasama dengan berbagai perusahaan serta instansi di luar lapas.

Menurut Taufan, dari Lapas sendiri sebenarnya sudah ada program untuk membina para penghuninya, namun masalah variasi kegiatan dan sumber daya yang terbatas membuat lapas cenderung merangkul pihak ketiga untuk melakukan pembinaan. “Penghuni lapas ini majemuk latar belakangnya, hampir tidak mungkin jika ingin merangkul semuanya sekaligus. Untuk itu kita perlu bekerjasama dengan instansi lain, dan tidak hanya satu.” Demikian Taufan menjelaskan.

IMG_20161123_143948
Saya dan seorang staff analis dari Comdev CSR Badak LNG sedang melakukan wawancara dengan Kepala Pembinaan Lapas Kelas III Bontang, Taufan Sandria (seragam biru muda) dan Lurah Bontang Lestari, Rendi Iriawan, S.STP (baju putih)

Hal ini diamini juga oleh Lurah Bontang Lestari Rendi Iriawan, S.STP. Menurutnya, dengan keterlibatan banyak pihak di luar pemerintah kota, maka seharusnya lebih banyak lagi hal yang bisa dilakukan. “Pemerintah kota Bontang telah banyak membantu untuk infrastruktur, tapi membina 600 orang akan terlalu banyak jika diserahkan pada pemerintah kota, disinilah diperlukan keterlibatan dari berbagai perusahaan serta instansi di Kota Bontang. “

Berkaitan dengan hal ini, Rendi Iriawan menambahkan, “sudah lama saya berangan-angan mewujudkan konsep social enterpreneur, dan di sini banyak sekali keunggulan-keunggulan yang mendukung ke arah sana.” Jelas Rendi.

Social enterpreneur atau kewirausahaan sosial adalah sebuah istilah turunan dari kewirausahaan. Pengertian sederhana dari kewirausahaan sosial adalah sebuah sistem yang menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial. Dalam prakteknya, kewirausahaan sosial dipercaya merupakan solusi alternatif yang kreatif, karena tidak hanya berorientasi pada keuntungan akan tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat.

Melalui kewirausahaan sosial, masyarakat akan terlibat langsung dalam menjadi pelaku bisnis dan keuntungannya akan dikembalikan lagi ke masyarakat untuk dikembangkan. Tujuan jangka panjangnya, kewirausahaan sosial dapat membantu masyarakat menjadi lebih mandiri dalam hal finansial dan tidak selalu menggantungkan pada pihak lain.

Dalam mewujudkan kewirausahaan sosial, program pembinaan Lapas melibatkan beberapa usaha kecil di kota Bontang. Misalnya dalam untuk mewujudkan kemandirian pakan, setiap akhir pekan Rendi mengadakan pelatihan untuk para penghuni lapas untuk membuat pakan fermentasi, yang mana salah satu bahan bakunya berupa tepung ikan didapat dari Kelompok Karya Bersama yang bertempat di Lok Tunggul.

Kelompok ini tadinya membuat VCO (Virgin Coconut Oil), tapi seiring dengan mulai langkanya bahan baku kelapa, kelompok ini diarahkan membuat tepung ikan. Karena berbeda dengan kelapa, bahan baku tepung ikan berupa ikan-ikan kecil—yang biasanya dibuang—tersedia melimpah di daerah tersebut. Dengan begitu, terciptalah pondasi multiplier effect, yaitu dari usaha ternak ayam di Lapas berlanjut hingga bisa saling mensejahterakan antar kelompok usaha kecil dan menengah.

Bila dijalankan secara konsisten, multiplier effect ini akan menjadi pondasi yang kuat untuk mewujudkan kewirausahaan sosial yang dicita-citakan bersama, karena berbeda dengan business entrepreneur yang memanfaatkan keuntungan untuk ekspansi usaha, konsep social entrepreneur menginvestasikan keuntungan yang didapat—baik sebagian atau seluruhnya—untuk pemberdayaan masyarakat.

Lebih jauh dari itu, pembinaan yang diberikan kepada para penghuni Lapas ini membuktikan satu hal, bahwa sebenarnya mereka adalah manusia-manusia yang masih berguna bagi bangsa dan negara, dengan konsep yang tepat—mungkin tidak semua, namun pasti selalu ada—mereka bisa berubah menjadi poros penting pembangunan masyarakat sekitarnya.

Sebuah tulisan di dinding Lapas dengan tepat mendefinisikan mereka: Kami bukan penjahat, kami hanya tersesat, belum terlambat untuk bertobat. Memang benar, mereka bukan sampah yang harus dijauhi, mereka bukan bibit penyakit yang harus dibasmi. Mereka hanya salah jalan, dan tugas kita semua menunjukkan arah yang benar.[]

????????????????????????????????????
Kami bukan penjahat, kami hanya tersesat, belum terlambat untuk bertobat. (foto: pribadi)

aaa
aaa

Share This:

Related posts:

Ketika Aku dan Dia Menjelma Diam
FADE IN Sore... maghrib... senja (aku tak mengerti lagi sebutannya). Tiga kali film Jermal ini diputar di ruangan ini, ruangan kayu... aku mendengarnya lewat udara. Ketika itu, ada dia, bernyanyi kac...
Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Ini Curhatan Soal Fokus…
Apa yang bisa seorang penulis lakukan jika tiba-tiba nerima pesan dari seseorang yang bilang begini: “aku tunggu novel komedi brikutnya, haha… aku tunggu, aku beli kok kalau dah jd novel” Well...
Belajar dari Abu Ghaush
Ada beberapa teladan yang membuat saya tetap bertahan di dunia menulis, salah satunya adalah Ahmad Abu Ghaush. Oh, apakah dia penulis? Ternyata bukan! Ahmad Abu Ghaush adalah atlet Tae Kwon Do ketur...
Pemaksaan Perspektif
Betapa sering kita memaksakan perspektif kepada orang lain? Seolah kita bisa memetakan detail yang mereka hadapi dan memberi komentar seolah kita adalah orang yang paling mengerti situasi. Hingga pada...
Menguak Korelasi Triangle Composition dan Majas Pars Pro Toto dalam A Letter For Mommy
Setiap akan mengulas sebuah film, saya selalu berpegang pada kata-kata Ekky Imanjaya. Dalam sebuah wawancara yang termuat di cinemapoetica (16/02/2016) ia berkata bahwa setiap film memiliki yang naman...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

One thought on “Berkarya di Balik Jeruji

  • 17/01/2017 at 06:29
    Permalink

    Lanjutkaaan. Disclaimernya lucu. Semoga dibaca Raisa yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published.