Catatan Bontang #2: Selangan

Selama tiga minggu dia di Bontang ini, saya jarang kemana-mana, cari makan, ambil duit di ATM cuma di sekitaran kosan, paling yang agak jauh pas beli bensin. Itulah sebabnya selama disini saya baru bisa mengecap Bontang Kuala, Sungai Belanda, dan Pulau Segajah karena kebetulan tiga tempat itu saya kunjungi dalam sekali “dayung”.

Tapi kemarin teman-teman comdev kantor mengajak saya ke pulau Selangan untuk bantu mereka ambil data, saya pikir: “Dimana itu? Pasti jauh sih karena kesana harus naik speed-boat.It’s my first time naik speed-boat juga, cuma nggak mau ngaku, sama seperti dulu saya nggak mau ngaku pertama kali naik pesawat pas ada job syuting ke Bali dari Kemenlu. Malu aja sih ngaku newbie naik pesawat ke orang-orang Kemenlu yang pasti udah langganan naik pesawat. Hehe… (ya, itu cuma penyakit minder aja… saya memang sering kena inferiority complex nggak jelas.)

Saya googling lah tentang daerah Selangan, untuk dapat informasi awal dan biar nggak terlalu kaget juga. Saya dapat data awal seperti ini:

selangan

Selangan merupakan sebuah desa yang terletak di selatan kota Bontang, berada di tengah-tengah lautan (Selat Makassar). Di desa ini para nelayan tradisional membudidayakan rumput laut yang hasilnya di ekspor ke Surabaya, Jakarta hingga ke Jepang. Untuk mencapai ke desa selangan dibutuhkan waktu sekitar 45 menit menggunakan kapal.

Saya pikir, oke… desa di tengah laut, baiklah, ini akan menarik karena saya belum pernah ke daerah seperti itu. That’s it.

Nah, ketika akhirnya saya menginjak langsung pulau Selangan (dan pertama kali tahu kalau nyetir speed boat itu nggak segampang adegan di film, tapi harus bisa membaca arah, memperhatikan datangnya ombak, dll) saya merasa… apa ya, lebih ke arah penasaran dengan kehidupan di daerah itu.

Rasa penasaran itu paling kuat ketika saya melihat bangunan Taman Kanak-Kanak di sana. Saya tidak tahu bagaimana kegiatan belajar di sana, bagaimana cara mereka bermain, tapi—sebagai orang yang tidak tumbuh di Selangan—saya sih akan senang bisa sekolah di sebuah TK yang ada di tengah laut dan punya kolam renang gratisan (tinggal nyebur!), meski kalau dipikir-pikir, mungkin orang-orang sana malah kebalikannya ya… dari lahir sudah tumbuh di laut, tentu mereka lebih kangen daratan. Mungkin lho.

????????????????????????????????????
Taman Kanak-Kanak di desa Selangan, Free Swimming Pool
????????????????????????????????????
Dua orang anak berangkat sekolah, berjalan melintasi laut
????????????????????????????????????
Dua orang ibu sedang menjemur udang papai, sebagai bahan dasar untuk membuat terasi, salah satu produk unggulan daerah ini

Ekonomi perkampungan ini ditunjang dari penghasilan sebagai nelayan, petani rumput laut, dan pemeliharaan ikan di keramba ikan kerapu serta baronang. Kabarnya, penduduk Selangan ini berasal dari berbagai suku, namun sebagian besarnya berasal dari Suku Bajau. Sekarang penduduk Selangan sudah ada sekitar 137 jiwa dengan 41 Kartu Keluarga dari 26 rumah.

Di sini baru tersedia Taman Kanak-Kanak serta Sekolah Dasar. Dugaan saya sih, kalau ada anak Selangan yang melanjutkan ke SMP atau SMA, maka itu artinya tiap pergi sekolah dia harus naik perahu ke sekolah-sekolah yang ada di daratan. Menarik sih, tiap hari naik perahu ke sekolah. Pasti seru!

Setelah melihat daerah ini, naluri saya sebagai penulis mendadak “bangkit”, apalagi saya sedang suka-sukanya bikin cerita dengan setting terbatas (tunggu novel keenam saya, setingnya sangat terbatas), daerah ini pun mengingatkan saya akan film Jermal (Rayya Makarim, 2006) sebagai film yang mengambil seting di sebuah rumah kecil di tengah laut, atau kalau mau setting terbatas tapi agak luas sedikit bisa juga mengambil film Teacher Diary (Nithiwat Tharathon, 2014), kisah cinta yang berlatar belakang sebuah sekolah di tengah laut disini sangat menarik.

Itulah sebabnya saya ingin sekali merasakan tinggal di Selangan selama 2-3 minggu, berusaha menyerap atmosfir dan kehidupan di sana, untuk—semoga saja—bisa memunculkan cerita yang unik dan seru. Tapi ya… PR menulis masih sangat numpuk, lagipula cukup sulit mengambil waktu jeda tiga minggu di tengah pekerjaan kantor yang tidak putus-putusnya. Kecuali kalau saya kena PHK lebih awal. Heu.[]

 

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Subang: Bicara Film & Kehujanan
Subang adalah sebuah tempat yang sejak SD gue definisikan sebagai: daerah dengan sungai paling jernih dan ditempuh sambil menikmati pemandangan yang sempurna. Itu memori gue tentang Subang, yang kemar...
Angkringan dan Demokrasi
Sudah tiga hari ini saya ada di Yogyakarta, ikut workshop penyutradaraan. Nanti aja deh cerita soal workshopnya, sekarang saya cuma mau cerita soal gerai makanan khas Yogya yang namanya ANGKRINGAN. S...
Ayo Mulai di Yogyakarta!
Yogyakarta adalah sebuah kota yang selalu berubah di mata saya. Bahkan setiap kali ke sana, saya selalu bertanya begitu keluar dari stasiun atau bandara “Kali ini kamu jadi kota macam apa?” Ini bukan...
Ini Indomaret di Surga!
Saya belum pernah merasa sebahagia ini ketika masuk Indomaret. Oh, sebelum dilanjut… penyebutan Indomaret ini sama sekali bukan iklan, kebetulan saja toko yang saya masuki adalah Indomaret. Kalau misa...
Catatan Bontang #1: Langit Bontang, Juara!
 “Aku menyukai langit. Kamu bisa memandanginya sesukamu dan tidak pernah bosan, tapi ketika kamu merasa sedang tidak ingin memandanginya, ya kamu tidak usah memandangnya.” Saya membaca kalimat itu da...
Merajut Mimpi Lewat Singkong dan Pisang
Singkong dan pisang, sebuah bahan makanan yang cenderung dianggap tradisional dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga dalam artian tertentu kedua makanan ini seolah telah habis varian-variannya karena...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.