Telolet yang Menyebalkan

Fenomena Telolet yang marak akhir-akhir ini (mendunia lho, sampai ada penyanyi internasional yang katanya mau bikin lagunya) menurut saya sangat menyebalkan, terutama karena fenomena ini menyebabkan banyak alay—dan bukan alay yang entah kenapa ikut-ikutan—mendadak ikut ber-telolet di tempat dan aspek yang salah.

Maksudnya begini, secara konsep: fenomena telolet adalah sebuah kontekstual joke yang dilakukan dengan cara meminta supir bus menyalakan klakson dengan sebuah nada khusus. Artinya, ada point-point yang harus dipenuhi dalam ber-telolet, yaitu: klakson (bernada khusus), bus (yang mesinnya menyala), dan supir bus (yang juga ingin bersenang-senang). Dalam sudut pandang peminta telolet, ada aspek: teriakan permohonan (om, ayo dong om #EH), dan handphone untuk merekam keberhasilannya memaksa si supir bus menekan klakson.

Tanpa kelima aspek di atas, kegiatan meminta telolet tidak bisa dilakukan, aspek-aspek di atas itu harus ada dan terpenuhi, maka tujuan akhir bersenang-senang dan berhumor ria pun akan tercapai. Masalah baru terjadi ketika ada permintaan telolet tapi tanpa memahami atau memenuhi lima aspek tersebut. Seperti  yang saya bilang pada seorang teman—yang tidak alay— pagi tadi: humor yang tidak pada tempatnya itu terasa menyebalkan

Contohnya? Menulis kata “om, telolet om” di status Facebook atau Instagram yang bahkan sumpah demi dewa dewi di khayangan, sama sekali tidak sedang membahas telolet! Bayangkan jika ada status serius, sedang membicarakan politik Jokowi, Aleppo, persidangan Ahok, Suriah, yang baru, perang dunia ketiga, dll… tiba-tiba nyempil komentar: “Om Telolet Om”, bukankah alih-alih menjadi humor, komentar itu justru terasa sedang melecehkan? Minimal melecehkan postingan yang sedang dibahas.

Dalam sebuah komentar di IG atau Facebook minimal tidak ada itu unsur-unsur: supir bus, bus, dan klakson. Ketiganya ada di jalan, bukan di dalam sosial media, terus kenapa kamu malah meminta telolet di sana? Terlalu takut untuk datang ke jalan atau terlalu malu dibilang kurang kerjaan padahal ingin digelari manusia eksis serta trend(y)? Atau apa?

Ini bukan lagi isu, silahkan cek akun-akun Instagram atau status Facebok, akan selalu bisa ditemukan komentar “Om Telolet Om” pada sebuah postingan yang tidak ada kaitannya. Ini sama menyebalkannya dengan status “Jual peninggi, pemutih, pelebat bulu impor dari Uzbekistan, silahkan cek IG kami kakaaak” di status wafatnya Mike Mohede yang saya baca beberapa waktu lalu. Ini postingan berita duka, kenapa sampai ada yang “tega” jualan di postingan seperti ini? otak yu tak centre kah?

demam-34telolet-om34-mendunia-artis-int-8c4cf1

Ini juga mengingatkan saya pada fenomena “Bilang Wow” bertahun-tahun yang lalu, saya pernah sangat marah pada seorang adik kelas—perempuan, untungnya perempuan jadi bogem tidak sampai melayang—karena ketika saya sedang menjelaskan sesuatu secara informal di komunitas, setiap kali saya sedang mengambil jeda bicara dia selalu nyeletuk, “Oh, jadi saya harus bilang wow, kang?”, awal-awal saya cuek, tapi ketika sudah lebih dari tiga kali saya merasa perlu rontokin dua-tiga giginya sekaligus biar biar tahu etika mengeluarkan humor.

Sekali lagi: humor yang tidak pada tempatnya itu menyebalkan. Urusan “Bilang Wow” juga waktu itu jadi wabah. Nyaris semua status Facebook atau Instagram dipenuhi komentar itu dalam versi-versi yang berbeda, baik ada hubungannya atau tidak dengan postingan, pokoknya selalu ketik, “Jadi gue harus bilang wow?”, menyebalkan sekali!

Kini ada “Telolet” yang potensi wabahnya bisa jadi lebih besar dari “Bilang Wow” (karena sudah merambah ke dunia internasional), dan saya berasumsi orang-orang akan cenderung mengikuti trend yang ini ketimbang dua trend yang muncul nyaris bersamaan: “Manekin Challenge” dan “Supir bus Ugal-Ugalan”.

Mengapa? Karena bagi mereka-yang-merasa-harus-mengikuti-trend-biar-dianggap-eksis, berteriak “Om Telolet Om” akan lebih mudah dilakukan (dan ngeksis) ketimbang bikin video manekin atau supir bus ugal-ugalan yang jelas perlu kekompakan serta kerjasama tim.

Ah, kita ini manusia yang rindu kehidupan instan, namun patut disayangkan kalau untuk mencapai level eksis, gaul, atau dianggap trend(y) pun kita memilih cara yang paling mudah.

Tidak perlulah kita jadi pencipta sebuah trend kalau memang otak belum mampu, tapi setidaknya dalam mengikuti trend pilihlah sesuatu yang paling menantang, karena kalau cuma teriak-teriak memanggil om-om dan meminta sesuatu dari pinggir jalan, apa bedanya kita dengan banci Taman Lawang? []

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Foto Anak Berdarah Lagi?
Baru sepuluh menit yang lalu saya melihat gambar anak kecil dengan usus terburai. Maka saya memantapkan hati meski tahu saya beresiko dihujat, tapi saya harus menulis ini: "Stop spreading photos...
Preman Pensiun dan HP
Pertama kali saya tahu ada serial Preman Pensiun itu langsung dari mas Didi Petet. Waktu itu dia lagi ngisi acara Master Class dimana saya jadi panitianya. Dia nyebut judul itu sambil bilang “nonton y...
Siapa Sih Pemerintah?
Ini cerita waktu saya masih sekitaran kelas 2 SD (serius, saya pernah muda!)… jadi dulu itu tiap kali mau ke sekolah, saya selalu nyegat angkot. Buat yang hidup sejaman dan sekelurahan sama saya, pas...
Indonesia Sedang Hamil
Setiap kali mengedit film--terutama tipe film non-fiksi--saya selalu merasa diri tambah pintar beberapa strip. Karena biasanya film-film jenis ini melibatkan pakar di bidang tertentu, yang secara prib...
Dimas Kanjeng dan Kepo Maksimal
Entah bagaimana ceritanya, kemarin malam saya “kepeleset” menonton rekaman ILC di Youtube yang episode membahas Padepokan Dimas Kanjeng. Kepelset artinya, saya tidak sengaja mengakses rekaman itu, soa...
PR Besar di Depan 411 dan 212
Dalam episode pertama season pertama serial The Newsroom, ada scene dimana tokoh Will McAvoy ditanya oleh seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui bernama Jennifer Johnson—begini, “Can you say why ...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.