PR Besar di Depan 411 dan 212

Dalam episode pertama season pertama serial The Newsroom, ada scene dimana tokoh Will McAvoy ditanya oleh seorang mahasiswi—yang belakangan diketahui bernama Jennifer Johnson—begini, “Can you say why America is the greatest country in the world?”, jawaban Will saat itu cukup panjang, tapi ada satu kalimat dalam rangkaian jawaban itu dia berkata: “…we didn’t scare so easy.”

Entahlah, saya tiba-tiba teringat itu ketika melihat cerita-cerita 212 di timeline dan TV. Saya memang tidak datang ke Jakarta baik di aksi 411 atau 212—saya mendukung lewat cara saya sendiri yang tidak usah lah diceritakan di sini—tapi saya dengan tekun mengikuti berita-beritanya, mengikuti cerita-ceritanya baik lewat media konvensional atau lewat status Facebook serta cuitan Twitter; dan itulah yang …

IKLAN DULU: Saya tahu beberapa orang berpikiran-sok-islami-tapi-jarang-baca-buku-dan-pemahaman-sebatas-kulit akan langsung menceramahi saya dan menggelari saya ahli neraka sambil bilang, “Kamu menyamakan gerakan Islam dengan Amerika? Dasar kamu antek zionis, kamu mau memecah belah umat!” when you say that shit, honestly I don’t know what the fuck you’re talking about! LANJUT!

Jadi perspektifnya begini: andaikan ada yang bertanya pada saya: “Can you say why Islam is the greatest religion in the world?”, hmm… saya punya banyak kemungkinan jawaban, tapi saya akan menjawab dengan hal yang sama: “…we didn’t scare so easy.”

Lupakan soal motif dan latar belakang gerakan, lupakan soal Ahok, lupakan soal ludah di muka Nusron Wahid (eh, kabarnya ini hoax), lupakan soal pemberitaan media, lupakan semua. Gerakan 411 dan 212 membuktikan satu hal pada dunia: umat Islam tidak bisa ditakut-takuti dengan mudah. “…we didn’t scare so easy.”.

Di beberapa daerah ada larangan “aneh” dari Polisi, di Kaltim Gubenurnya malah “berjanji” akan menindak tegas warganya yang ikut aksi 212, ada armada-armada bus yang tidak mau menyewakan kendaraan (dan akhirnya orang Padang malah naik pesawat, yeay!), ada isu makar, ada berita ketapel yang dipelintir, ada pemberitaan media yang “menakut-nakuti” pembaca, ada tokoh-tokoh yang ditangkap dengan tuduhan makar, ada larangan-larangan baru yang tiba-tiba muncul dari balik meja pejabat pemerintah. Intinya, ada aspek-aspek yang bertujuan melemahkan mental para calon peserta aksi.

Pertanyaanya: apakah mereka takut? Ternyata tidak. Jalan kaki ke Jakarta dari Ciamis pun jadilah, sampai juga ternyata dengan sehat.

Foto: Sys Milla (Fotografer Wapres)
Foto: Sys Milla (Fotografer Wapres)

“…we didn’t scare so easy.”, oke, fine kita sudah buktikan pada dunia. Kita tidak bicara soal jumlah, karena meski jumlah massa aksi 212 diperkirakan lebih besar dari 411, tapi dalam soal semangat—menurut saya—aksi 411 adalah titik kuncinya. Aksi 411 secara mental lebih sulit daripada 212. Di 411 umat Islam belum membuktikan apa-apa, belum menunjukkan bahwa mereka bisa melakukannya, belum ada contoh konkrit aksi damai itu seperti apa sih? Pemerintah dan aparat juga masih bertanya-tanya soal konsep, kemungkinan konflik, kemungkinan bentrok, dan seterusnya.

Tapi setelah 411 selesai, banyak orang yang menengok ke sana, mereka kaget, ternyata umat Islam bisa melakukannya, ternyata imam dan makmum bisa satu suara, ulama dan umat bisa berjalan bersama, ternyata umat Islam bisa mengumpulkan jutaan orang bisa dan bisa pula bersikap aman, damai, dan tertib hingga selesai acara.

Maka tidak heran jika aksi 212 bisa mengumpulkan massa yang lebih banyak dari 411, karena—kembali menurut pendapat saya—banyak orang-orang “baru” yang juga penasaran dengan atmosfir aksi damai di tengah jutaan orang seagama. Terbukti dari timeline rekan-rekan saya yang ketika aksi 411 adem ayem, ternyata sekarang sudah memposting foto-foto keikutsertaan mereka di 212. Berarti memang banyak orang baru yang tergerak melihat kesuksesan 411. Saat umat Islam beriringan menyuarakan satu keinginan, bergerak ke satu titik, berbaris, yang mana saya yakin atmosfirnya pasti menggetarkan siapa saja yang ada di sana.   

Saya yakin bola ini akan terus bergulir, setelah 212 mungkin ada aksi berikutnya dengan jumlah massa yang lebih besar lagi, saya yakin akan lebih besar lagi—saya tidak perlu mempertaruhkan muka kan?—karena yang namanya semangat itu bisa tertular dengan cepat. Saya yakin ada orang-orang yang penasaran dan “sedikit menyesal” karena tidak bisa ikut di kesuksesan 411 serta 212, dan mereka berharap ada aksi selanjutnya. Saya yakin itu.

Lantas saya berpikir, sampai kapan? Sampai kapan ini semua akan terjadi? Kita, umat Islam—mengacu pada perkataan Nabi—sedang ada dalam fase buih di lautan, banyak tapi nggak jelas fungsinya, nggak jelas kekuatannya, nggak jelas pendiriannya. Itu fakta, Nabi tidak mungkin bohong. Tapi dalam 411 dan 212, ada aspek-aspek yang membuat saya berpikir bahwa tidakkah kita sebenarnya sedang ada pada akhir fase buih di lautan?

Bayangkan: sekian juta orang berkumpul (7 juta?), ada momen shalat Jumat yang (katanya) terbesar sepajang sejarah Indonesia (ada yang bilang dunia, please… pake otak, kalau shalat Jumat terbesar di dunia pasti itu ada di Mekkah), ada momen shalat subuh yang meluber ke luar (katanya umat Islam tidak akan bisa dikalahkan jika saf-saf shalat subuhnya sudah seperti shalat Jumat), ada momen-momen dimana kita tidak seperti buih di lautan, kita tidak terombang-ambing begitu saja, namun kita menunjukkan komitmen, tujuan, dan semangat yang independen, bebas dari tekanan, dan sekali lagi: kita tidak takut!

aksi-super-damai-212-foto-aerial-ribuan-umat-_161202142946-898
Sambil men-scroll timeline saya bertanya-tanya: sampai kapan momentum ini akan terus ada? Sependek pengetahuan saya, umat Islam sudah terlalu lama dipecah belah oleh hal-hal yang tidak jelas. Kita sudah terlalu sering bertengkar antar sesama membela entah apa, entah keyakinan siapa.

Kita umat Islam sudah terlalu sering tampil dengan tidak satu suara. Dimana aspek paling “biadab” menurut saya justru saat pemilu atau pemilukada. Saat itu muncul banyak partai dengan—katanya—pondasi Islam, tapi sebegitu banyaknya yang muncul sehingga akibatnya (Maaf menyebut nama partai) sekian orang memilih PKS, sekian orang milih PKB, sekian orang milih PAN, sekian orang milih PPP, sekian orang milih… Tidakkah ini malah membuat umat islam sebenarnya dipecah-pecah oleh kelakuan sendiri?

Contoh terdekat: Pilkada DKI sekarang, belum-belum nanti suara orang Islam (minimal) sudah terbagi dua antara Agus atau Anies. Ini baru bicara orang, kalau bicara partai bisa lebih gila lagi urusannya.

Artinya, kita mengaku umat Islam tapi malah kita sendirilah yang menyediakan sarana memecah belah suara. Kita sendiri yang menyediakan ruang bagi orang Islam untuk saling berkelahi dan unfriend di sosial media lalu akhirnya putus silaturahmi hanya karena PARTAI ISLAM yang berbeda, hanya karena capres yang berbeda (yang keduanya orang Islam pula), hanya karena ormas yang berbeda meski sama-sama berpondasi Islam. Ini tampak ironis kah?

Karena saling berpecah itulah maka kita tidak kuat.

Tapi aksi 411 dan 212 kemarin membuktikan hal yang berbeda. Minimal kita bisa memperlihatkan pada diri sendiri, bahwa tidak mustahil umat Islam tampil satu suara. Minimal kita menunjukkan pada dunia bahwa kita bisa berdiri satu barisan dengan tujuan yang sama. Dua kali aksi berlangsung sesuai dengan yang direncanakan, kita perlu bukti apa lagi kalau umat Islam sebenarnya bisa bersatu?

Saya merindukan atmosfir seperti ini, saya betul-betul bahagia melihat umat Islam bisa tampil semantap dan sekeren ini. Tapi lantas sampai tulisan ini nyaris diketik, lalu sampai saya menyempatkan diri men-scroll beberapa status teman-teman di Facebook, ternyata ada sedikit ketakutan di hati saya. Sebab saya terus bertanya-tanya: sampai kapan? Sampai kapan ini bisa berlangsung?

Apakah barisan yang sudah mulai kokoh ini kelak akan bubar jalan lagi ketika momen-momen pemilu, piplres, pilkada, momen mengirim bantuan ke Palestina, momen membantu korban longsor di Sumedang, momen penggerebekan tempat prostitusi, atau momen Lebaran beda tanggal?

Memang benar: we didn’t scare so easy, kita sudah membuktikan bahwa kita ini adalah umat yang tidak gampang ditakut-takuti. Tapi apakah kita masih jadi umat yang gampang dibubarjalankan oleh situasi? Inilah yang belum kita buktikan sama-sama pada ibu negeri.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Superhero Indonesia Go Internasional
Sepanjang tahun 2010-2011, bioskop kita banyak diserbu sama film-film superhero!  misalnya saja Kickass (Matthew Vaughn, 2010), Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), Jonah Hex (Jimmy Hayward, 2010), The Gre...
Menanti Islami Asli, Bukan Adaptasi
Dalam sebuah wawancara, Joko Anwar pernah mengatakan bahwa dalam membuat film, sutradara di Indonesia terbagi dua yaitu sutradara for hire dan sutradara yang memiliki something to say. Sebenarnya “Gel...
Di Satu Negeri, Ada Pemimpin yang Suka Selfie
Konon katanya… Julius Cesar, Kaisar Romawi yang terkenal itu punya resep jitu untuk menentramkan rakyatnya, yaitu resep “Roti dan Permainan”. Begini formulanya: Berilah rakyat cukup makanan dan mereka...
Awas, Saya Anak Jenderal!
Siapapun yang membaca buku Sketsa-Sketsa Umar Kayam: Mangan Ora Mangan Kumpul pasti kenal tokoh Mister Rigen (seorang pembantu rumah tangga asli Pracimantoro yang punya anak bernama Beni Prakosa), ser...
Dimas Kanjeng dan Kepo Maksimal
Entah bagaimana ceritanya, kemarin malam saya “kepeleset” menonton rekaman ILC di Youtube yang episode membahas Padepokan Dimas Kanjeng. Kepelset artinya, saya tidak sengaja mengakses rekaman itu, soa...
Lewat Asimilasi, Menuju Koperasi yang Tak Mati-Mati
Ada kabar yang menyebutkan bahwa tahun 2016 kemarin, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah akan membubarkan 61 ribu Koperasi di seluruh Indonesia.[1] Ah, semoga ada yang benar-benar melihat b...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.