Nenek Bebek Berkata…

Only boring people get bored! Itu yang nenek bebek pernah katakan, menyebalkan sekali. Perasaan bosan membuat berat semuanya, padahal pekerjaan yang menumpuk (apalagi mengerjakan hobi) harusnya bisa menggairahkan. Tapi dua-tiga hari ini rasa bosan menggelayut di badan, tidak jelas mau apa, mau apa, mau apa. Satu-satunya cara adalah dengan menuliskannya, di blog, dan sekali lagi membiarkan diri diintip.

Kemarin berkenalan dengan seorang perempuan, dan dia terus bersikap tak percaya setiap kali aku bilang “sedang bosan!”, ternyata konsep itu benar-benar tidak pernah mampir di kepalanya, dia tidak percaya manusia bisa merasa bosan, dan dia terus menerus meyakinkan dengan “Kenapa bosan? Kan banyak teman.”

Mungkin dia tidak tahu bahwa teman kadang menyebalkan, dalam beberapa hal sendirian bisa lebih baik, tidak ada jaminan rasa bosan akan hilang ketika kamu bermain dengan teman. Kadang malah ada keinginan mengambil jarak dari mereka. Semacam: kamu ada, fisikmu terlihat, tapi kamu terdiam di sudut asyik tenggelam dalam buku bacaan atau permainan, teman-temanmu tahu kamu ada di sana, tapi mereka juga tak berani mengganggu karena kamu sudah menciptakan tembok tak kasat mata. Kamu berlindung di balik tembok itu, terdiam, sampai bosan, lalu pamit pulang.

Lihat? Kadang memiliki teman bukan jaminan rasa bosan akan hilang!

Kadang aku berpikir perlu minum bir atau semacamnya—aku dan seorang perempuan lain berencana meracik sendiri mohito versi kami, tanpa rum tapi melihat perkembangan suasana, bisa jadi rum akan ada di gelasku. Memang aku belum pernah minum bir, whisky, atau semacamnya. Hanya pernah sekali seorang teman membelikan minuman entah apa bewarna biru, harga satu botolnya tigaratus lima puluh ribu. Begitu minuman tadi menyentuh bibir langsung kubuang karena bibirku mendadak kesemutan. Aku tidak mau ambil resiko usus dan lambungku ikut kesemutan. Tapi sekali lagi, kadang perasaan ingin mencoba begitu kuat, terlalu kuat untuk diabaikan.

Ada pub di dekat sini, tapi tampak terlalu kampungan untuk dimasuki. Aku bisa membayangkan apa yang ada di dalamnya: preman kampung dengan tato yang jelek (aku pikir tato jangkar atau Mick Jagger dengan bibir yang terlalu besar), sekumpulan perempuan berbaju gemerlap dan ketat tertawa terlalu keras di sudut-sudut ruangan (mungkin di sana ada sofa), dangdut koplo, asap rokok, bir berbotol-botol, bartender yang tidak ramah, musik yang terlalu keras, panggung yang terlalu becahaya… dan aku tak tahu harus mengenakan apa untuk masuk ke sana? Sendal jepit? Sepatu olahraga? Sepatu kulit? Jeans? Kemeja? Kaos? Jaket? Apa?

Aku mungkin terlalu kampungan untuk mencoba-coba duduk di pub, diskotik, atau semacamnya, atau memang aku tidak terlalu merasa perlu duduk di keramaian seperti itu? Yang kuinginkan hanya minum di kamar, mungkin berdua dengan seorang perempuan, seorang teman, bercerita-cerita ringan sambil merasakan badan yang sedikit melayang, lalu pada akhirnya mungkin kami akan berciuman. Entahlah, tapi rasanya berbuat sesuatu yang baru (dan menantang) mungkin akan membuat rasa bosan ini hilang.

Tapi aku tidak yakin nenek bebek akan setuju dengan cara itu, lagipula dia tahu aku tidak punya keberanian. Padahal rasa bosan ini terus meradang. Aku hanya perlu satu pemantik, satu pemicu yang membawaku ke arah sana, sayangnya kupikir sampai rasa bosan ini hilang, aku belum terbayang seperti apa bentuknya.[]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Pengalaman Baru: Ngisi Materi OPS
Kemaren kan saya posting tulisan soal kena cacar air, nah sebenarnya pas banget lagi demam-demamnya (tapi si cacar belum keluar, tepat banget sehari sebelum bintil pertama muncul di muka) saya dapat u...
Mudiko Ergo Sum
Sebenarnya, apakah "m u d i k" itu? Apa? Mudiko ergo sum, "saya mudik maka saya ada", begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, ya...
Been Alone in a Crowded Room
Apa yang paling mengerikan dari sebuah kesendirian? Akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya soal itu. Saat sendirian. Pada akhirnya saya sendiri harus menyerah karena tidak mungkin menemukan jawab...
Siapa Saya?
Kalau ditarik ke belakang, selama 5-7 tahun ini sebagian teman-teman mengenal saya sebagai filmmaker, sebagian lagi mengenal saya sebagai penulis (tapi juga jadi tidak relevan lagi karena novel terakh...
Impaksi 01: Apa Sih Impaksi?
Kemarin, untuk kedua kalinya saya menjalani bedah gusi gara-gara impaksi. Operasi yang pertama sudah agak lama, sekitar Juni 2015. Waktu itu setelah rontgen baru ketahuan kalau gigi saya yang impaksi ...
Sakit Kepala Diberi Obat Tetes Mata: Colok Saja!
Beberapa waktu yang lalu saya memasang status Facebook. Inti dari status itu adalah saya ingin bertanya mana jenis investasi yang lebih menguntungkan, apakah Emas? Dinar? Atau Bitcoin? Hmm, mungkin m...

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.