Dikutuk Untuk Selalu Optimis

Kemarin saya baru me-lock draft lima novel “Meja Bundar”, naskah ini kami (saya dan mbak Latree) kerjakan selama lima tahun, dan draft lima adalah keputusan akhir yang harus diambil karena kalau diperpanjang maka kami tidak akan pernah selesai merevisinya. Setiap membuka file akan selalu ada ide-ide perbaikan yang muncul, akan selalu ada kesalahan yang tiba-tiba tampak. Revisi tidak akan pernah selesai.

Selesai menyimpan file, saya menatap word yang masih terbuka di laptop, menarik nafas panjang, seolah menyadari bahwa ini adalah naskah novel ke tujuh yang bisa saya selesaikan. Dari tujuh naskah itu, lima berhasil terbit dengan caranya masing-masing, satu naskah saya putuskan untuk tidak terbit (dan akhirnya dimuat bersambung 40 eps di page Kita Menulis), dan ini… naskah berikutnya, yang mana saya belum tahu nasibnya.

Dalam menghadapi fase penerbitan, selalu muncul pilihan: indie atau major, itu sama ribetnya seperti pilihan telur atau ayam duluan (saya tidak peduli karena yang manapun bisa bikin kenyang, asal dimakan sama nasi). Saya pernah menerbitkan sendiri, pernah juga menerbitkan lewat jalur lomba, dan pernah juga dibantu senior. Tapi mau pilih yang manapun selalu selalu ada resikonya, apalagi untuk novelis-tidak-terkenal seperti saya.

Serius, memikirkan resiko-resiko ini malah bikin saya sering bertanya-tanya: kenapa juga saya menulis? duitnya sedikit, jam kerja panjang, kurang tidur, populer belum tentu (selama saya tidak masuk TV atau rajin main BIGO). Sementara hidup sudah menyediakan sistem yang teruji sejak jaman revolusi Industri: meniti karier di institusi, tunggu gaji bulanan, gantungkan hidup sampai pensiun, yang mana sebagian besar orang di dunia sudah ambil jalan tadi, tapi kenapa juga saya sok-sok mau jadi penulis sementara pada kenyataannya (dalam sudut pandang dan prinsip minderisme) penerbit-penerbit sepertinya lebih suka meliburkan karyawannya dan mereka disuruh masuk lagi kalau Raditya Dika, Tere Liye, Dewi Lestari, Kang Abik, Asma Nadia, atau Andrea Hirata sudah beresin naskah…

Penulis–setidaknya menurut saya–adalah orang-orang yang dikutuk untuk selalu optimis. Sikap mental seorang penulis tercermin dalam salah satu dialog di komik Harlem Beat edisi 18, tepatnya sebelum pertandingan melawan “raja basket” Jepang, tokoh Toru Naruse bertanya pada Yasuhiko Kuwata: “Apakah kita masih bisa bertanding dengan baik jika sudah tahu tidak akan menang?”

Maka perspektifnya selalu sama: apakah kita akan terus menulis jika saja misalnya kesempatan suksesnya hanya 1%, atau bahkan 0%, bisa saja kan?

Konyolnya, kita sebagai penulis ternyata tidak pernah memikirkan itu, yang kita tahu… kita penulis dan kita harus menulis. Novelis masa depan Indonesia, Ken Hanggara pernah berkata: Tidak peduli apa pun yang terjadi, kalau kita niat menulis untuk (minimal) mendamaikan hati kita sendiri, maka menulis tidak akan sulit. Jadi jelas yang ada di otak penulis itu sebenarnya bukan soal duit, tapi bagaimana (minimal) berdamai dengan diri sendiri menggunakan jembatan diksi.

Sekali lagi, penulis adalah orang-orang yang dikutuk untuk selalu optimis, tanpa optimisme dalam karir menulis maka yang ada hanya rasa frustasi berkepanjangan, apalagi lihat teman sebelah naskahnya terbit, tetangga depan rumah juara lomba nulis se-kabupaten, adek kelas yang dulu kita bully-bully sekarang diundang ke majelis penulis Asia Tenggara, dan minggu depan mantan nikah sama gebetan #EH #LupakanYangTerakhir

Tidak ada angka statistik yang tepat untuk rasa optimis atau pesimis, asal tetap saja ingat se-optimis apapun kita, tetep ada kemungkinan gagal, bahkan mungkin kemungkinan gagalnya lebih besar dari kemungkinan berhasil.

Silahkan baca buku manajemen bisnis terbitan siapapun, di sana jelas dibilang kalau potensi kerugian lebih besar daripada potensi keuntungan, berarti itu bisnis yang buruk! Jadi sebenarnya kita tidak perlu merasa bersalah atau jadi pecundang kalau pada akhirnya memutuskan untuk berhenti jadi penulis. Malah mungkin saja itu adalah pilihan paling logis dalam hidup.

Maka dalam urusan menulis akan selalu ada pilihan untuk berhenti. Bekerjalah baik-baik di sebuah instansi, terima gaji bulanan dan habiskan waktu untuk nonton TV, atau bercanda sama pasangan hati… itu jelas sebuah keputusan yang untuk siapapun orang waras akan sangat masuk akal ketimbang jadi penulis yang kerjaannya menjual mimpi dan belum tentu ada yang beli. Toh calon mertua juga pastinya akan lebih suka punya menantu PNS daripada novelis

Tapi ya… saya sih akan terus menulis! toh saya sudah tidak jomblo lagi… #ApaHubungannya![] aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Novel: Antara Realisme, Film, dan Harmonika
…mainkan aja atuh dengan sederhana … (Wildan Nugraha, penulis – pada sebuah chatting di pagi hari) Ketika akan mengetik tulisan ini sebenarnya sempat terlintas di benak saya untuk mengcopy paste saj...
Sebuah Surat untuk Lee
Lee, kusertakan sebuah gambar buram yang pasti membuatmu terpingkal-pingkal. Pada suatu titik di kejauhan ada seseorang memegang gitar, sendirian. Baiklah, itu aku, dan kau tahu aku tidak bisa bermai...
Menulis Dengan Pintu Tertutup
Malam ini saya gembira, sebab novel yang sudah saya kerjakan (kami kerjakan, karena saya dapat banyak bantuan dari mbak Latree Manohara) sekitar lima tahun akhirnya selesai ditulis. Saya mulai pada bu...
Kematian dan Postmodern Jukebox
Dalam proses menulis novel ini, saya terus memikirkan dua hal: yang pertama tentang kematian, dan yang kedua tentang Postmodern Jukebox. Saya kesampingkan dulu yang pertama, saya ingin membahas soal k...
Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar
(1) Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari p...
Mengapa Menulis Tentang Kematian?
Selama menjadi penulis, saya sudah menulis enam novel; yang terbaru (keenam) berjudul Meja Bundar. Di novel ini saya membahas tentang kematian, atau lebih tepatnya tentang tiga orang yang berusaha men...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.