Pelajaran Dari Kaki Seribu

Di rumah kontrakan saya sering sekali muncul kaki seribu—masih diperdebatkan, karena ada teman saya yang bersikeras bilang kalau itu namanya ulat gonggo, apapun… I’m a simple man: hewan itu melata dan kakinya banyak maka namanya kaki seribu—biasanya saya menemukannya setiap bangun tidur, melekat di tembok. Baru sekali saya menemukan hewan itu melingkar di tembok kamar mandi, dan sekali lagi kerayapan di kasur (ini yang paling bikin saya kesal, karena buat saya tempat tidur adalah teritori pribadi!).

Entah dimana lubangnya, saya belum nyari juga sih, malas. Tapi saya yakin pasti ada lubang tembus langsung ke kamar saya. Soalnya minimal sehari itu saya bisa nemu dua kali.

Apa yang saya lakukan setiap kali ketemu hewan itu? Sederhana… saya mengganggunya (biasanya disodok-sodok pake sapu, pernah disodok pake pensil, pernah juga pakai pisang), karena sependek pengetahuan saya, langkah pertama untuk menyingkirkan hewan ini adalah dengan mengganggunya. Itu karena sepanjang sejarah umat manusia, kaki seribu selalu menyelesaikan semua masalah dengan mengikuti saran Raditya Dika, ada yang ingat salah satu materi stand up nya?

Kalau pacar lu ngambek, sebagai cowok cuma satu yang bisa dilakukan: pura-pura mati.

Jadi pada mau belajar pura-pura mati? Nah, saya sarankan belajarlah pada kaki seribu. Karena hewan ini meski cuma disenggol dikit saja sudah melingkar kaku, bener-bener nggak bergerak! Masalahnya, perbuatan itu malah memudahkan saya untuk “mengurusnya”. Jadi—setidaknya untuk kaki seribu—pura-pura mati malah membuat situasi jadi lebih buruk. Mungkin kalau hewan pemangsa lain bisa tertipu dan percaya, tapi saya tidak! Saya tahu dia cuma pura-pura, dan masalahnya saya tidak suka dibohongi!

Selama saya tinggal di sana, baru ada dua ekor yang tidak pura-pura mati. Begitu disenggol pakai sapu dia tetap berusaha kabur, malah yang satu pernah kaburnya ke arah saya, seolah mau menyerang. Saya menyebut tipe-tipe ini sebagai TIPE PREMAN. Entahlah kenapa ada tipe preman, mungkin di koloninya mereka itu tentara perang, pengawal raja, atau apapun. Untung juga tipe seperti ini nggak banyak, bisa repot ngurusnya. Karena untuk membuat mereka diam, saya harus mengurungnya di gelas. [lihat foto].

Kaki Seribu tipe-tipe Preman memang enaknya dikurung dalam gelas begini sebelum diurus
Kaki seribu tipe-tipe preman memang enaknya dikurung dalam gelas begini sebelum diurus

Soal mengurus hewan ini juga jadi PR tersendiri buat saya, apalagi kebetulan saya bukan anak biologi atau ahli hewan melata, jadi saya tidak pernah belajar apa kelemahan kaki seribu. Memang sih secara logika, kaki seribu itu pasti mati kalau digencet atau dibakar. Tapi saya nggak mau melakukan itu, karena hasilnya akan sangat “berantakan” (bisa dibayangkan seberantakan apa sisa-sisa gencetan atau bakaran hewan melata?). Seorang teman pernah bilang bahwa kaki seribu itu bisa mati pakai semprotan nyamuk. Sudah saya coba tapi gagal, malah tambah agresif. Entah semprotannya sudah kadaluarsa, atau efek obat nyamuk cair malah bikin dia berubah jadi tipe preman?

Akhirnya karena tidak dibakar, tidak digencet, dan tidak mati disemprot, satu-satunya cara yang terpikirkan adalah mem-flush nya ke WC. Tapi saya juga tidak tahu apakah mereka mati kalau dalam air? Saya belum sempat bereksperimen menenggelamkan kaki seribu, takutnya mereka malah nggak mati, atau malah berkembang biar lebih cepat di air. Kan nggak lucu kalau saya lagi buang air tiba-tiba mereka keluar semua dari WC, beraninya keroyokan!

Untungnya sejauh ini belum ada masalah, saya cuma nemu paling tidak dua ekor per hari, masih dalam batas yang bisa dimaafkan (kecuali satu yang tipe preman kerayapan di kasur tadi!).

img_20161109_043307
tuh, tampangnya nyebelin kan?

Entah sampai kapan saya harus “bertempur” dengan kaki seribu-kaki seribu ini, terutama karena lubangnya belum ketemu. Beberapa orang mungkin akan bilang: “Manja banget sih, kaki seribu kecil aja sampe ditulis di blog!”. Lah biar kecil tapi geli bang, coba deh disuruh ngerayap di punggung, atau masuk telinga pas lagi tidur. Apa nggak BPJS urusannya?

Tapi, seperti kata aa Gym… segala sesuatu ada hikmahnya. Tuhan itu tidak sembarangan mengirim hewan-hewan “imut” ini ke kamar saya kalau tidak ada maksudnya. Apa ini pertanda saya harus bersih-bersih kamar? ah… kalau itu sih masih wajar kok, piring kotor tiap sore dicuci, nyapu rutin pagi-sore, ngepel lantai tiga hari sekali pakai karbol. Jadi kenapa?

Setelah saya merenungkan, mikir-mikir (sambil liatin tembok), saya menemukan bahwa setidaknya, di tengah serbuan ini saya belajar sesuatu dari perilaku mereka, yaitu: Kalau kena masalah itu harus dihadapi. Jangan lari, apalagi pura-pura mati. Karena belajar dari “kearifan” level kaki seribu: pura-pura mati malah bikin situasi makin runyam, bahkan bisa-bisa jadi mati beneran.

Mungkin memang itu “pesan moral” yang harus saya pahami, ya biar bagaimanapun tetap saja saya harus cari lubang mereka sampai ketemu! Geli![]

aaa

aaa

Share This:

Related posts:

Pengalaman Baru: Ngisi Materi OPS
Kemaren kan saya posting tulisan soal kena cacar air, nah sebenarnya pas banget lagi demam-demamnya (tapi si cacar belum keluar, tepat banget sehari sebelum bintil pertama muncul di muka) saya dapat u...
Filsafat Itu Seperti Pornografi
Seorang teman menulis status Facebooknya, statusnya tidak penting. Tapi dibawahnya ada 70-an komentar, yang salah satunya cukup mengganggu saya karena isinya: "Makanya jangan belajar filsafat, ka...
Been Alone in a Crowded Room
Apa yang paling mengerikan dari sebuah kesendirian? Akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya soal itu. Saat sendirian. Pada akhirnya saya sendiri harus menyerah karena tidak mungkin menemukan jawab...
Sahabat Museum, Menghangatkan Museum
Bila kita mendengar kata “museum”, biasanya pikiran kita langsung terasosiasi pada sebuah bangunan besar, luas, bernuansa temaram, dingin, dan sepi. Gambaran ini tidak terlalu mengherankan karena pada...
Perpisahan Perlahan atau Perpisahan yang Direncanakan?
Pagi ini, matahari batal terbit. Gerimis dan mendung kelabu mendera waktu sejak saat fajar harusnya ada. Saya merenung memandangi jendela yang berembun, tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mendadak te...
Tentang Ferdie, Bennington, dan Meja Bundar
(1) Dalam dua hari, timeline saya dipenuhi oleh dua berita kematian. Semuanya terasa ganjil sekaligus menyesakkan tanpa alasan yang jelas. Ganjil karena jelas-jelas saya tidak mengenal satupun dari p...
SiHendra

SiHendra

Novelis. Jurnalis. Blogger. Diam-diam suka sama Raisa (meski Raisa sukanya sama cowok lain, hiks!). Penggemar Nasi Goreng. Paling benci dibilang cerewet dan disuruh diem.

Leave a Reply

Your email address will not be published.